Mbak Merry,

Setahu saya Justice For The Poor ini bukan LSM lho, 
ini hanyalah satu dari ratusan proyek World Bank. 

Dan kasus yang mbak alami ini adalah salah satu contoh 
nyata bahwa tatakelola World Bank pun tak terkontrol dengan baik. 

Bolehkan saya Copy surat Mbak dan saya kirimkan ke World Bank untuk menunjukkan 
manajemen yang buruk dilingkungan mereka ?


salam 

dian 






  ----- Original Message ----- 
  From: magdalena merry 
  To: Dewi Damayanti ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, July 04, 2007 2:45 PM
  Subject: [mediacare] Sharing Pengalaman Pahit dengan LSM Bank Dunia


  Dear teman jurnalis dan penulis lepas.. 

  Saya ingin sedikit share tentang pengalaman seputar penulis lepas. 

  Pada 11 Mei 2007 lalu, saya menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari 
Justice for The Poor, (JTP) kabarnya LSM di bawah naungan World Bank alias Bank 
Dunia. Ia yang bernama Marini ini meminta kesediaan saya untuk menerima 
pekerjaan mengedit buku tentang kasus korupsi di dearah di Indonesia.
  Kabarnya dia mendapat no kontak saya dari teman yang juga penulis lepas dan 
mantan jurnalis Kompas.
  Setelah dijelaskan tentang job desk, kami bernegoisasi honorarium dan 
akhirnya mencapai kesepakatan. Ini kesalahan fatal pertama: menerima job hanya 
dari telepon saja, tidak ada bukti hitam di atas putih alias kontrak tertulis. 
Mungkin saya terbuai oleh nama besar Word Bank atau percaya betul pada nama 
teman yang memberikan referensi.


  Beberapa hari kemudian bahan yang harus diedit saya terima melalui email. 
Sejak itu saya mengedit dan mengirim hasilnya melalui email. Untuk buku 
kira-kira tebal 150-an halaman itu saya hanya diberi waktu 2 minggu. Uniknya, 
setelah contoh editing pertama saya kirim, Marini dan rekannya Dewi dari LSM 
tersebut setuju dengan hasilnya. Akhirnya saya mengerjakan bagian lain dengan 
sistem yang serupa. 


  Tapi di hari-hari terakhir menjelang deadline, mendadak mereka komplain 
banyak hal. Dan saya terpaksa melakukan pekerjaan ulang dari awal lagi pada 
detik-detik menjelang deadline. Dapat dibayangkan betapa pekerjaan ini cukup 
underpressure mengingat saya juga memiliki pekerjaan utama dan kesibukan lain. 
  Lalu tak lama kemudian, Dewi Damayanti yang akrab dipanggil Damay menyuruh 
agar saya membuat invoice penagihan honor. "Nanti honornya lama mbak 
keluarnya," begitu kira2 tulisnya di SMS. 

  Tentu saja saya kaget, sebab soal terlambatnya honor dan invoice ini baru 
diberitahu setelah tugas nyaris selesai saya kerjakan. Dari situ saya mulai 
merasa ada yang tidak beres karena:
    1.. Pihak JTP mempekerjakan saya hanya secara lisan, bukan tulisan. Tapi 
kenapa soal honorarium harus saya urus secara tertulis? Jika memang itu 
pekerjaan formal, semestinya mereka mempekerjakan saya secara formal juga. Tapi 
jika informal, mereka semestinya membayar saya secara informal juga. Di sini 
sudah ada ketidakadilan antara saya pekerja freelance dengan mereka sebagai 
pihak pemberi pekerjaan.
    2.. Soal honor yang terlambat tidak diberitahu di awal kesepakatan, 
melainkan setelah pekerjaan nyaris selesai. Ini merupakan bentuk penipuan halus.
  Tidak sampai di situ, setelah invoice saya buat dan harus DIANTARKAN SENDIRI 
ke kantor LSM tersebut, hingga HARI INI, HONORARIUM BELUM SAYA TERIMA. Padahal 
Damay menjanjikan pada saya honor akan turun paling lama 1 bulan setelah 
pekerjaan selesai. Dan sampai hari ini sudah berjalan 1 bulan lebih.
  Lebih terkejut lagi ketika saya membaca email Damay ke bagian administrasi 
yang di CC ke saya berbunyi:


Mbak Sania dan Rani,invoice atas nama Merry Magdalena untu pekerjaan editing 
kasus, sudah akuproses ke bagian admin awal Juni kemarin. Mbak Merry menanyakan 
soaltransfernya yang belum sampai padahal sudah satu bulan. Tolong mbak 
Saniaatau Rani cek ke mbak Nina or siapapun yang menangani urusan
 LGCSsekarang. Soalnya seperti email yang bersangkutan dibawah, hingga hari 
inidana itu belum masuk, seharusnya kan sudah masuk 2 minggu yang lalu.Tolong 
langsung dibalas ke mbak merry dan cc ke saya soal perkembangan kesayaTerima 
kasih,DamayDari email tersebut, diketahui bahwa semestinya honorarium sudah 
saya terima sejak 2 minggu lalu, yang artinya sejak pertengahan Juni. Itu jika 
melalui prosedur semestinya. Namun sampai 4 Juli 2007, tidak ada pemberitahuan 
apapun dari pihak JTP atau World Bank. Artinya saya harus bolak-balik 
menggesekkan kartu ATM saya demi memeriksa apakah honorarium sudah turun atau 
belum.
  Yang menyakitkan adalah tidak ada keinginan dari pihak JTP untuk mengabari 
atau memberi penjelasan tentang keterlambatan honorarium ini.
  Bukan masalah jumlah uangnya, namun usaha atau apresiasi terhadap hasil kerja 
manusia itu memang nyaris tidak ada. Padahal nama LSM ini adalah Justice for 
The Poor dan buku yang saya edit berisi tentang studi kasus korupsi di 
daerah-daerah di Indonesia yang tereksan seolah mereka memperjuangkan nasib 
rakyat/ sesama manusia.
  Faktanya? 
  Ternyata saya tidak sendirian. Seorang teman berkisah bahwa temannya juga 
pernah mengalami nasib serupa, bahkan lebih parah. Honor baru diterima lima 
bulan kemudian setelah proyek selesai. 
  Semoga kelalaian saya menerima pekerjaan tanpa surat perjanjian di awal ini 
bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman jurnalis dan penulis lepas. Dan satu 
lagi, nama besar institusi internasional atau LSM dengan nama yang berbau 
menggusung idealisme demi kepentingan rakyat, BUKAN JAMINAN akan memperlakukan 
kita secara manusiawi.
  Apakah saya berlebihan dalam menyikapi masalah ini? Maaf saja jika terkesan 
demikian, sebab ini pun pengalaman saya pertamakali mendapat perlakuan tidak 
adil sejak berprofesi menjadi jurnalis dan penulis. Sebelumnya saya memang 
tidak pernah berhubungan dengan LSM dalam pengerjaan proyek penulisan. 
Klien-klien saya terdiri dari personal bereputasi baik yang mempekerjakan saya 
secara profesional dan cukup kompeten kendati tidak ada kontrak tertulis.
  Tapi ini sungguh pengalaman berharga yangn membuat saya jadi TIDAK PERCAYA 
PADA LSM atau instansi apapun yang bergaya IDEALIS walau di bawah naungan BADAN 
DUNIA sekalipun.


  Salam











  Sayangi Indonesia! 
  Ada 1001 Cara Sayangi Indonesia dengan Cara Sederhana!'
  http://sayangi-indonesia.web.id

  www.netsains.com
  Mempopulerkan Tulisan Ilmiah, Mengilmiahkan Tulisan Populer
  phone: 021 7155 8993



  Merry Magdalena 
  Reporter Harian Sore Sinar Harapan 
  www.sinarharapan.co.id 
  021-3912360/61 Fax 021-3912370 




------------------------------------------------------------------------------
  Building a website is a piece of cake. 
  Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

   

  __________ NOD32 2377 (20070704) Information __________

  This message was checked by NOD32 antivirus system.
  http://www.eset.com

Kirim email ke