*Bendera*, dari bahasa Portugis<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Portugis>, *bandeira* adalah sepotong kain <http://id.wikipedia.org/wiki/Kain> yang dipakai sebagai wahana untuk menggambarkan simbol sebuah negara.
Lain lagi dengan susu bendera, sebagai bagian dari Royal Friesland Foods Group (sebelumnya dikenal sebagai Friesland Coberco Diary Foods) yang bermula di negeri Belanda, FFI memulai operasi di Indonesia pada tahun 1971, dengan susu kental manis sebagai produk unggulan Susu kental Manis Bendera. Mas Kopdang minum ini semenjak umur tiga tahun hingga selesai Sekolah Dasar. Nah, ribut-ribut kemarin, sepertinya hanya lah bagian dari sejarah keberadaan bendera sejak muncul pertama kali di China. Bendera muncul untuk membantu koordinasi pasukan militer ketika berperang. Sebagai petanda. Sebuah Identitas. Celakanya, bendera dimanfaatkan sebagai symbol patriotis bagi sebagian orang dengan keluasan pemahaman yang berbeda. Sebagai pesan, ajang kampanye, bahkan sekadar penghias ruang. Saya bukan seorang ahli vexillology, ilmu yang mempelajari hal ikhwal bendera. Namun saya sedikit memahami kenapa SBY dongkol. Atau jangan-jangan bukan beliau namun para ajudan nan gagah perwira yang harus menempuh cara menghilangkan malu dan salah yang terjadi. Dahulu, sewaktu kuliah di Jogja, saya dan teman-teman hendak berbisnis dengan pengusaha lama. Namun katanya: "You kudu punya bendera dulu..Pinjem kek, jangan modal dengkul dong!" Ini bendera yang lain. Entitas bisnis rupanya juga butuh bendera. Dengan identitas yang jelas. Bentuk hukumnya apa. Punya kartu pembayar pajak atau tidak. Dan bla..bla..bla.. Bila ada tarian dan mengimbarkan selembar kain, itu hal biasa. Dililitkan pada lawan main, bergoyang dengan irama yang rancak dan dengan liukan yang menggelora. Hal ini biasa dalam budaya kita. Namun rupanya Jong Ambon nan manise punya cara lain. Kreativitas mereka dibayar mahal. Terbakar lah bumi utara Banda Neira. Orang intelejen merasa kecolongan. Para Abdi Bhayangkari yang hendak berdirgahayu justru sibuk kebakaran jenggot, kumis hingga pakaian dalam. *Dalam tiang pancang, berkibarlah kain pujaan. * *Kurela meneteskan darah hingga penghabisan* Mungkin kita lupa, Yamato pernah menjadi sejarah, bagaimana pemuda gagah berani menaiki Flagpole di atap. Merobek si Biru dan menaikkan Sang Merah Putih. Tanpa tarian, hanya teriakan. Ya..ya..ya..bendera memang penuh arti juga menambah rejeki. Eross dan Coklat pernah merasakannya. Berkibarlah benderaku! Dan jangan sekali-kali kibarkan benderamu. Rio, http://kopidangdut.wordpress.com/
