Bangsa Indonesia sudah kehilangan harapan masa depan nya pak Sum, 
perselisihan antar suku adalah cermin dari kegagalan usaha demokrasi yg ingin 
di terapkan di Indonesia, pelanggaran HAM dan kemunfikan yg dilakukan 
pemerintah menyempurnakan kehancuran moral Pancasila itu sendiri.
  Banyak bangsa Indonesia yg hidup di luar negri menjadi lebih bersikap 
nasionalisme karena mereka hidup dalam kenyamanan dan structure demokrasi yg 
serasi, merasa kasihan kepada bangsa sendiri di tanah air yg sama sekali tidak 
merasakan kenyamanan hidup dinegri yg nyaman dan segala hak2 azasi nya 
dilindungi hukum, memilah bangsa dan merusak kesetiaan bangsa yg hidupnya 
selalu ditindas kemiskinan memang semudah membalik telapak tangan, bangsa kita 
sudah berada dalam keputus asaan yg cukup rawan, posisi yg sangat rapuh dan 
mudah dipecah atau diretak kan.
   
  Bung Karno menyaksikan bangsa yg kian berceceran ini pak Sum, Bung Karno 
melihat semua hasil kerja keras nya menjadi serpihan sampah yg di telantarkan 
oleh pemerintah/pemimpin2 bangsa yg tidak bermoral sebagai pemimpin sejati ini.
  Dan yg jelas Bung Karno is not a happy camper right now !
   
  salam
  omie
  

sumarsastrowardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  


Demokrasi yang diidam-idamkan menjadikan Indonesia sebagai 
negara paling demokratis di dunia.

Banjarmasin Post. 


Monday, 09 July 2007 01:13

Pudarnya Semangat Nasionalisme

KALAU saja Bung Karno (BK) masih hidup, 
mungkin ia akan menangis melihat Bangsa Indonesia yang 
dipersatukannya dengan susah payah kini tercabik-cabik, bahkan telah 
menggerus semangat nasionalisme yang digandrunginya. Nasionalisme 
yang bersumber kepada Pancasila, adalah landasan dari semangat 
kebangsaan yang belakangan sempat ternoda oleh keinginan sementara 
daerah untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia 
(NKRI).

Menjaga semangat kebangsaan memang bukan 
perkara mudah, kita harus memiliki semangat nasionalisme yang kuat. 
Dua pemimpin kita, Soekarno dan Soeharto telah berusaha untuk 
mempertahankannya dengan cara mereka masing-masing. BK mempersatukan 
bangsa dengan membakar semangat nasionalisme lewat berbagai ajaran 
maupun pidato berapi-api yang membuat pendengarnya larut dalam 
kekaguman. Sedang Soeharto mempertahankan NKRI lewat pemerintahan 
yang otoriter. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, keduanya 
berhasil dan NKRI tetap tegak dan tak pernah tergoyahkan.

Tetapi apa yang terjadi sekarang? Dengan 
tidak mengurangi arti reformasi kita melihat sejak tumbangnya 
pemerintahan orde baru, persatuan dan kesatuan menjadi semakin 
rapuh. Demokrasi yang diidam-idamkan, menjadikan Indonesia sebagai 
negara paling demokratis di dunia. Indikatornya antara lain lahirnya 
banyak partai, kebebasan yang berlebihan dan keberanian rakyat yang 
tidak proporsional lagi. 

Ditambah dengan pelaksanaan otonomi daerah, 
maka genaplah sudah warna carut marut kebebasan di negeri ini. 
Hasilnya terlalu naif kalau dibilang banyak kemajuan. Yang benar 
justru kemunduran di berbagai sendi kehidupan, baik di bidang 
ekonomi, politik maupun pemerintahan. Bayangkan, baru sekarang ada 
bupati/walikota tidak mau taat kepada gubernurnya karena merasa 
menjadi `raja' di daerahnya. Banyak lagi contoh tentang 
ketidakharmonisan hubungan antarpejabat.

Perpindahan kekuasaan yang tidak normal, 
memang harus ditebus dengan harga yang mahal. Reformasi juga 
membuahkan perpindahan kekuasaan yang tidak biasa. Tetapi sayangnya, 
tokoh reformis belum siap untuk menjalankan roda pemerintahan. 
Akibatnya, yang tampil hanyalah orang yang serakah, yang tidak 
kebagian rezeki di masa pemerintahan sebelumnya. Reformasi sekadar 
menggeser Soeharto, tetapi warisan budayanya tetap jalan terus.

Ini berbeda dengan kelaziman di berbagai 
negara. Di mana-mana pemimpin reformasi selalu menggantikan pemimpin 
sebelumnya. Seperti Lech Wallensa di Polandia atau Deng Xiao Ping di 
China yang membawa paham liberal sebagai koreksi terhadap komunis 
yang berkuasa saat itu. Di Indonesia, tokoh yang getol memimpin 
gerakan reformasi malah gagal dalam pemilihan presiden dan yang 
terpilih tidak serta merta membawa kemajuan bahkan suasana semakin 
lintang pukang.

Hiruk pikuk yang terjadi selama ini, 
akhirnya menipiskan rasa nasionalisme karena orientasinya hanya 
untuk kepentingan pribadi dan golongan. Bukan untuk kepentingan 
bangsa, seperti saat BK dan Bung Hatta mengambil alih pemerintahan 
dari tangan penjajah. Situasi ini bisa bermuara pada merosotnya 
semangat kebangsaan.

Lihat saja Aceh dan Papua, keduanya menuntut 
merdeka dan kini mendapatkan otonomi khusus, Riau yang dulu tidak 
puas pada pemerintah pusat pun, mengancam akan memisahkan diri dari 
NKRI. Ini semua bukti bahwa kadar nasionalisme sudah semakin 
berkurang. Anehnya pemerintah seperti tidak bereaksi, tidak ada 
usaha untuk tetap menghidupkan nasionalisme. 

Zaman BK dan Pak Harto, Pancasila menjadi 
buah bibir meski dengan nafas yang berbeda. BK menggelorakan 
Pancasila demi persatuan dan kesatuan. Pak Harto menggunakan 
Pancasila sebagai alat memperpanjang kekuasaan. Sekarang, hari 
lahirnya Pancasila setiap 1 Juni pun tidak pernah dikenang. Begitu 
pula hari besar kepahlawanan yang lain, lewat begitu saja. Kalah 
dengan Hari Buruh, atau peringatan korban lumpur Lapindo.

Demokrasi itu penting, tetapi menjadi tidak 
ada artinya kalau tidak bisa membawa kemajuan. Sebaliknya, malah 
menipiskan semangat nasionalisme, menggerus semangat kebangsaan.





_________________________
SASTRA-PEMBEBASAN, wacana sukasamasuka sastrakitakita 
Yahoo! Groups Links




    
---------------------------------
  TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.

 
---------------------------------
 Get your own web address.
 Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

Kirim email ke