Republika, 8 Juli 2007 BUMIPOETRA, ANTI IMPERIALIS DAN ODE KAMPUNG#2 Oleh Firman Venayaksa ----------------------------- Presiden Rumah Dunia-Banten
Membaca tulisan Viddy AD Daery berjudul "Gerakan Sastra Anti Neoliberalisme" di koran ini, saya sungguh tergelitik. Dengan cemerlang, ia mengupas latar belakang persoalan-persoalan ideologi sastra (komunitas dan media) yang kerap tumpang tindih; di satu sisi menyerang, di sisi lain malah bermesraan. Tetapi jika kita cermati, bukankah hal tersebut memang biasa terjadi dalam jagad kesusastraan kita? Saling jilat, saling ludah kemudian haha hihi. Dimulai dengan pernyataan Wowok Hesti Prabowo yang langsung menyerang Komunitas Teater Utan Kayu (TUK) sebagai agen sastra imperialis, agaknya pergumulan ini bakal panjang dan melelahkan. Akan hadir keberpihakan dan pertentangan yang bermunculan, dan hal tersebut adalah pilihan. Namun ekses ini jelas akan menimbulkan gejolak yang luar biasa, karena kasus ini bukan hanya "pertikaian" antar-sastrawan yang bisa didamaikan dengan berjabat tangan; tapi juga melibatkan (ideologi) komunitas. Dan ketika berbicara tentang komunitas yang notabene memiliki jejaring, tak pelak lagi pertikaian ini akan menyulut sumbu-sumbu kecurigaan di mana-mana. Bumipoetra vs TUK? Istilah yang disodorkan oleh Wowok Hesti Prabowo seperti "sastra imperialis" atau "sastra neoliberalisme" memang sangat rentan untuk diperdebatkan. Dalam kasus ini, selayaknya kita melihat itu dalam konteks perlawanan, istilah-istilah tersebut terlahir berdasarkan respon dari gejolak yang ada. TUK yang dipandang oleh kalangan sastrawan di luar lingkaran TUK sebagai sebuah komunitas yang arogan pastilah mengundang kekesalan tersendiri, mereka telah membuat sastrawan lain merasa diremehkan sekaligus dilecehkan.Selain Wowok, saya kira masih banyak sejumlah nama yang secara terang-terangan di sejumlah pertemuan atau media memprovokasi agar anti TUK. Bahkan pada Sabtu kemarin (7/7) di Universitas Negeri Tirtayasa-Banten, telah di-launch sebuah jurnal sastra bernama "Bumipoetra: bukan milik pusat antek imperialis" yang semua isinya (esai, cerpen dan puisi) mengolok-olok, menyindir TUK beserta orang-orang di dalamnya dengan gaya yang sangat nyinyir dan teramat pedas. Tengok saja judul esainya "DKJ Cabangnya TUK!" atau "Sastra Tanpa Pusat Sastra" yang ditulis oleh Babat Hutan Kayu. Bahkan singkatan TUK dipelesetkan menjadi Tempat Umbar Kelamin. Kehadiran jurnal yang aneh dan nyeleneh ini adalah sebentuk perlawanan lain yang bisa jadi efektif untuk melawan arogansi TUK kendati dalam balutan canda. Seyogyanya, sebagai sebuah komunitas, TUK tak usah jumawa dengan apa yang telah dilakukan dengan merendahkan komunitas lain. Estetika kelamin yang diusung oleh komunitas ini hanyalah akal-akalan agar bisa bercentil-ria, supaya terus dipuji oleh orang-orang Barat. Dengan demikian dukungan danapun akan terus melimpah kendati menggadaikan harga diri. Sepakat dengan apa yang diungkap oleh Viddy, Forum Lingkar Pena dengan dakwah bil qolam¬nya lebih bermartabat dan memiliki konsistensi yang kokoh. Walau banyak sastrawan yang menganggap remeh Forum Lingkar Pena, tapi waktu telah membuktikan bahwa komunitas ini memiliki kekhasan dan kekuatan tersendiri. TUK sepertinya harus berkaca kepada mereka. Tak usah terlalu bersombong dengan apa yang telah dicapai, karena jika memakai parameter berapa jumlah buku yang diterbitkan dan berapa orang yang membaca karya-karya mereka, agaknya TUK akan malu dengan pencapaian dari FLP. Ode Kampung Jika Komunitas Teater Utan Kayu (TUK) dengan pongah mengatakan bahwa yang tidak diundang oleh TUK bukanlah sastrawan, maka di dalam pertemuan Komunitas Sastra di Banten pada tanggal 20-22 Juli nanti justru sebaliknya: Siapapun yang mengaku sastrawan, silahkan datang. Panitia mengundang seluruh sastrawan yang tertarik dengan pertemuan ini karena pada dasarnya semua sastrawan memiliki hak yang sama. Kami ingin memperlakukan sastrawan sederajat. Berbeda dengan TUK yang memiliki dana berlimpah, pada kegiatan ini kami memang tak bisa memberikan akomodasi yang mewah. Dana kegiatan ini adalah sumbangan dari kawan-kawan yang peduli dan kas dari komunitas sastra di Banten. Setiap perwakilan komunitas (dua orang) hanya diberi jatah akomodasi menginap di rumah warga dan makan bersama. Sementara untuk para sastrawan lainnya harus rela mengeluarkan Rp. 20.000/ malam untuk menyewa kamar warga di kampung Ciloang. Untuk makan, para warga yang dimotori Pak RT menyediakan jajanan khas kampung. Kendati demikian kami cukup berbahagia karena hingga akhir pendaftaran peserta yang telah ditutup pada 1 Juli, sudah tercatat 227 sastrawan dari 47 komunitas yang tersebar di Nusantara siap untuk hadir, padahal kami tahu bahwa mereka juga harus berjibaku untuk membiayai diri sendiri. Inilah yang kami namakan sebagai kehadiran atas kesadaran yang tulus. Ode Kampung adalah sebuah pertemuan sastrawan yang menggali persoalan-persoalan kampung, kelokalan, karena hegemoni liberalisasi lambat laun telah mengubah cara pandang orang-orang Indonesia menuju arah yang "destruktif" sehingga kehilangan identitasnya sebagai manusia timur, termasuk sastrawan. Melirik kembali "ideologi kampung" bukan hanya sekadar teori romantisisme belaka. Disinilah sastrawan menjalankan kembali fungsinya sebagai kontrol sosial, tak hanya melulu menggapai keluhuran estetik. Jika Ode Kampung #1 pada tahun lalu lebih mengedepankan silaturahmi para sastrawan, dalam Ode Kampung #2 akan dititikberatkan pada diskursus komunitas. Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan komunitas sastra di Indonesia sangat beragam. Kemunculan sastrwan pun banyak dibidani oleh komunitas tempat ia belajar menulis. Pada akhirnya, disadari atau tidak, ideologi dan estetika yang diterapkan di dalam komunitas tersebut muncul di dalam karya-karya sang sastrwan. Inilah salah satu tema yang akan dibahas dalam Ode Kampung #2 dengan pembicara Helvy Tiana Rosa, Maman S. Mahayana, Kurnia Efendi dan Saut Situmorang. Tema lain yang tak kalah pentingnya adalah tentang hegemoni pusat (Jakarta) terhadap daerah. Tema ini akan dibahas oleh Kusprihanto Namma, Cahvchay Saifullah dan Ahmad S Alwy. Selain itu ada juga sesi "Pesta Komunitas" yang akan mendiskusikan tentang gerakan-gerakan komunitas sastra di pelbagai wilayah. Pada akhir dari kegiatan ini akan dibuat semacam deklarasi dari hasil pemikiran bersama. Isi dari deklarasi itu bisa saja menekan pemerintah supaya segera menyelesaikan kasus lumpur Lapindo, menentang estetika kelamin atau mungkin menentang sastra imperialis? Kita lihat saja nanti. Tanah Air, 2007
