Tanpa Rakyat PemimpinTak Berarti Apa-Apa Monday, 26 February 2007
Tanpa Rakyat PemimpinTak Berarti Apa-Apa
Itulah judul buku yang diluncurkan Taufiq Kiemas, suami Presiden Megawati
Soekarnoputri, untuk merayakan ulang tahunnya ke-60. Memang terasa spesial,
politisi paling kontroversial merayakan ulang tahunnya dengan meluncurkan dan
sekaligus membedah buku yang ditulisnya sendiri.
Peluncuran dan bedah buku "Tanpa Rakyat Pemimpin tak Berarti Apa-Apa",
Jejak Langkah 60 Tahun Taufiq Kiemas ini dilangsungkan, Selasa (31/12) - tepat
tanggal kelahiran Taufiq - di Agung Room, Inna Grand Bali Beach, Sanur,
Denpasar, Bali. Acara itu dimoderatori pengamat politik yang juga dekat dengan
Taufiq Kiemas, Rizal Mallarangeng. Sedang pembicaranya, Soetardjo
Soerjogoeritno, Panda Nababan yang juga editor buku tersebut, dan Cornelis Lay,
semuanya dari PDI Perjuangan. Dan dihadiri langsung Presiden Megawati
Soekarnoputri.
Buku yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan dan Panitia Penerbitan Buku 60
Tahun Taufiq Kiemas dengan editor Panda Nababan ini terdiri 4 bab 832 halaman.
Berisi pokok-pokok pikiran Taufiq Kiemas dan pandangan cendekiawan, kerabat,
dan sahabat, bahkan lawan politiknya.
Panda Nababan dalam pengantarnya menyatakan, Taufiq Kiemas, orang Palembang
yang lahir di Jakarta, 31 Desember 1942, selama ini dikenal sebagai tokoh di
belakang layar (the man behind the scene). Benang merah pemikiran Taufiq Kiemas
berujung pada asas kerakyatan.
Perhatian besar Taufiq Kiemas terhadap kehidupan rakyat kecil dituangkan pada
halaman 16-17. "Tanpa dukungan rakyat, aku tidak akan jadi seperti sekarang
ini," kata Taufiq. Pada halaman lain disebutkan contoh perjuangan Taufiq
terhadap kehidupan rakyat kecil, yaitu, bersama beberapa kawannya, Taufiq
Kiemas memelopori pembentukan koperasi tukang becak.
"Mula-mula kami menangani langsung manajemen koperasi dan bengkel becak itu.
Tapi, setelah jalan, kami serahkan kepada para tukang becak sendiri, kenang
Sjafei Ali Gumay, salah seorang kawan dekat Taufiq Kiemas semasa aktif di GMNI
Palembang.
Sekarang ini, peran dan pengaruh Taufiq dinilai sangat signifikan dalam
menentukan arah dan peta perpolitikan di Indonesia. Pengaruh Taufiq Kiemas itu
tidaklah semata-mata karena statusnya sebagai suami Presiden Megawati
Soekarnoputri, tapi juga karena posisinya yang cukup sentral sebagai sesepuh
PDI Perjuangan, partai yang kini berkuasa (the ruling party).
Selain itu, kemampuan Taufiq Kiemas dalam memainkan perannya sebagai aktor
politik, lewat berbagai manuvernya juga diakui mampu mewarnai kanvas
perpolitikan negeri ini.
Pada Bab IV berisi artikel-artikel yang ditulis empat intelektual muda -dua
orang wartawan dan dua orang ilmuwan politik-, yang menganalisis sosok Taufiq
Kiemas dalam peta perpolitikan nasional.
Selain mengisahkan penangkapan atas diri Taufiq Kiemas dan puluhan aktivis GMNI
Palembang pasca-tragedi 1965, buku ini juga menampilkan kisah asmara Taufiq
Kiemas dengan Megawati. Betapa Taufiq selama mendampingi Megawati dalam
perjalanan panjang kehidupannya membangun telah turut karakter Mega sebagai
politisi. Juga disinggung naiknya Megawati ke puncak kekuasaan, menyusul
lengsernya KH Abdurrachman Wahid sebagai Presiden RI pada pertengahan 2001.
Yang menarik dari buku ini, tidak saja menampilkan pendapat para kerabat dan
sahabat Taufiq Kiemas serta analisis para intelektual yang kenal dekat dengan
Taufiq, melainkan juga menampilkan pandangan Soerjadi. Menurut Soerjadi, otak
Mas Taufiq ggak pernah tidur. Taufiq Kiemas, tambahnya, juga baik. "Saya punya
jam tangan dari dia," kata Soerjadi.
Setelah sama-sama di GMNI (1966-2969), keduanya kemudian sama-sama berada di
gerbong PDI, dengan Soerjadi sebagai ketua umum. Tapi, dalam perkembangannya,
menjelang kongres PDI di Medan yang pertama, pertemanan yang telah terbangun
puluhan tahun itu menjadi kurang serasi. Sejarah akhirnya mencatat PDI terbelah
dua. Yang satu dipimpin Soerjadi, yang dikenal sebagai partai onderbouw
pemerintah; satunya lagi dipimpin Megawati dan Taufiq Kiemas berada di
belakangnya.
(Ada bagiana yang gagal diedit - Alsim.)
Setelah menjadi Ketum PDI, Soerjadi punya kesempatan membukakan pintu kepada
seseorang untuk masuk. Pada wkatu itu, Soerjadi mengaku punya keinginan kuat
untuk memunculkan salah seorang anak Bung Karno. "Keinginan saya waktu itu,
demi Allah, motifnya bukan untuk membesarkan PDI, tapi sebagai rasa terima
kasih saya kepada Bung Karno yang telah memerdekakan bangsa ini. Saya berpikir,
kalau bangsa ini ggak merdeka, nggak mungkin saya bisa seperti sekarang. Saya
pastilah akan tetap menjadi petani miskin di kampung saya. Paling banter, saya
hanya bisa makan, itu pun kurang," kata Soerjadi.
"Saya hanya mau mengatakan, saya telah diperintahkan kepada seluruh pendukung
saya untuk mendukung Mbak Mega sebagai ketua umum. Namun, setiap saya
menelepon, teleponnya dikasihkan ke Mas Tjipto (Soetjipto, sekarang Sekjen DPP
PDIP). Saya pribadi sebenarnya telah berusaha berkomunikasi. Jadi, saya tidak
ada masalah apa-apa dengan Mas Taufiq," demikian Soerjadi.
Buku ini layak dibaca para politisi dan para pemimpin negeri ini, serta para
ilmuwan dan juga masyarakat. Dalam buku ini Taufiq seperti mengingatkan bahwa
masalah-masalah kenegaraan selalu terkait dengan aspek kerakyatan.
"Pemimpin itu harus selalu mendampingi rakyat, memberi semangat kepada rakyat.
Jangan malah menjual rakyat. Tanpa rakyat, pemimpin tidak berarti apa-apa.
Ibarat ikan enggak dapat air, lama-lama mati sendiri. Pemimpin jangan Cuma bisa
ngajarin rakyat, tapi justru belajar dari rakyat," kata Taufiq. (Surya)
Jogja Rumah Sendiri
Suami Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufiq Kiemas, merasa seperti berada di
rumah sendiri jika berada di Yogyakarta. Ia merasa senang mendapat sambutan
yang ramah. Taufiq yang berasal dari Palembang ini ternyata memiliki kenangan
tersendiri di Yogyakarta.
Menurut dia, 46 tahun yang lalu, ayah dan ibunya dari Palembang pindah ke
Yogyakarta. Tanpa pernah tahu bagaimana Yogyakarta, dan tidak pernah mengetahui
bahasa Jawa, kedua orang tuanya masuk ke Yogyakarta karena merasa sebagai orang
republiken harus ikut andil berjuang. "Pada masa awal republik, Yogyakarta
sudah menjadi kota yang modern yang bisa menerima orang lain, kota yang majemuk
dan kotanya kaum republiken," ujarnya kepada Media.
Menurut Taufiq, ketika itu usianya baru sekitar 4-5 tahun. Saat itu ayahnya
sempat hilang di kawasan Gunung Merapi selama hampir enam bulan. Selama waktu
enam bulan itulah, katanya, ia bersama ibunya dihidupi oleh orang desa di
kawasan Merapi.
Namun, Taufiq tidak menjelaskan di kawasan mana kehidupannya saat ayahnya
hilang dan di desa mana yang menjadi tempat tinggalnya itu. Tidak hanya dirinya
yang merasa senang berada di Yogya. Menurut dia, Megawati juga merasa sebagai
orang Yogya. Karena pada masa kecilnya pernah tinggal di Yogyakarta saat kota
ini menjadi ibu kota republik.
Karena itu, lanjutnya, ia juga merasa akrab dengan Raja Yogyakarta, Sri Sultan
Hamengku Buwono X ini. Bahkan, Taufiq selalu memanggil Gubernur DIY ini dengan
sebutan Mas Sultan. "Karena sejak awal saya panggilnya memang Mas Sultan."
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot
with the All-new Yahoo! Mail