saya sih setuju setuju saja pola pemberitaan media massa memojokan perempuan 
karena itu artinya Perempuan tetap Menarik, mempunyai daya tarik.
Laki-laki tidak dipojokan bukan karena jagoan dan gagah atau sempurna tapi 
karena dunia laki-laki tidak menarik, egois, terlalu menonjolkan kemaskulinan 
padahal "0", laki laki sama saja dengan "ayam jago" nggak enak dipotong nggak 
enak di makan enakan diadu jadi ayam judi aja.

Perempuan itu ayam kampung gurih lezat kalo dimasak, jauh dari flu burung, 
apalagi yang betina, bukan main enaknya. Ayam broiler perempuan juga enak... 
lebihh enak daripada ayam-ayam di sepanjang jalan gajahmada dan mangga besar..

Perempuan adalah korban dari laki-laki tanpa sadar laki-laki menunjukan 
kelemahannya dengan mengekspose perempuan sebanyak-banyaknya. Saya lebih setuju 
biarkan saja pola pemberitaannya begitu biar dunia warna warni ...
............


salam,
bukumiring.com

kuncaraning sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Mengingat nasehat mamaku, bila seorang perempuan ingin
 dihargai dan dihormati , maka wanita harus dapat
 menghargai dirinya sendiri dan jangan pernah menggangu
 rumah tangga orang lain atau mencintai pria yang sudah
 beristri.
 
 Rupanya jaman sudah gila dan terbalik, kedudukan
 wanita simpanan atau selingkuhan lebih GALAK dan TIDAK
 MALU mengatakan di publik tentanag status mereka,
 berbeda 180 derajat atau 360 derajat dengan kondisi
 dulu.
 
 Jadi janganlah heran , jaman sekarang banyak wanita
 yang mau dijadikan simpanan atau istri kedua dengan
 catattan asal si lelaki TAJIR. Jika ditanya kenapa
 mereka melakukan spt itu? kebanyakan jawabnya aaah
 kenapa wanita harus berkorban teruuus, kita harus cari
 lelaki kaya karena kalo kita menikah dengan lelaki
 yang pas-pasan jika suatu saat lelaki mereka sukses
 dan kaya, mereka akan mencari WIL juga. Jaman sudah
 EDAN.
 
 Dalam kasus Mayang, sudah tidak heran, dari dulu sepak
 terjang MAyang memang sudah dikenal menjadi simpanan,
 dari Simpanan Kapolda Purwokerto , pengusaha, hingga
 anak ex orang nomor satu di Indonesia. Kalo yang
 terakhir ini pasti tidak dilepaskan don... TAJIIIIIR
 HABIIIIIS seh.
 
 Salam,
 
 Sari
 
 --- radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 >      
 >     Kasus Halimah-Bambang-Mayang dalam
 > "Infotainment"
 > 
 > Oleh Veven Sp Wardhana
 > 
 > Kawin-cerai bisa dihitung sebagai perkara biasa.
 > Jika perceraian Bambang Trihatmodjo dan Halimah
 > serta perkawinan (lagi) Bambang Trihatmodjo dan
 > Mayangsari dianggap luar biasa, terutama oleh media
 > massa, itu bukan sebatas karena pelakunya orang
 > penting, melainkan (bagi saya) karena pola
 > pemberitaan di media massa Indonesia cenderung
 > memojokkan para perempuan: Halimah dan Mayangsari;
 > dan ini bukan kali yang pertama.
 > 
 > Yang pertama, pada Mei 2006, seusai Halimah dan
 > anak-anaknya menabrakkan mobil mereka ke pagar rumah
 > artis Mayangsari—yang ditengarai bersama
 > Bambang—media massa, terutama media hiburan dan
 > bahkan tabloid wanita (pengelolanya tak menyebut
 > tabloid perempuan), mewacanakan bahwa cinta segitiga
 > ini disebabkan para perempuan: Mayang
 > sebagai perebut suami orang dan Halimah sebagai
 > istri yang gagal menjaga agar Bambang, suaminya,
 > tetap betah tinggal bersama di rumah.
 > 
 > Kali yang kedua ini, pada pekan-pekan terakhir,
 > sebagian besar siaran infotainment di televisi makin
 > memojokkan dua perempuan di samping Bambang:
 > Mayangsari menggunakan ilmu guna-guna untuk menggaet
 > Bambang agar meninggalkan istri sahnya (jangan baca:
 > istri pertama!), dan pengajuan talak cerai dari
 > Bambang sebagai kemungkinan karma yang harus
 > dijalani Halimah.
 > 
 > Media sama sekali tidak menunjukkan bukti bahwa
 > Mayang benar-benar menggunakan ilmu teluh itu.
 > "Bukti" yang dimunculkan media semata berupa
 > pendapat seseorang atau beberapa orang yang dianggap
 > memiliki kemampuan percenayangan alias paranormal.
 > Mama Lorenz dimintai pendapat, Ki Joko Bodo
 > dijadikan narasumber, juga nama-nama lainnya,
 > termasuk artis Ratna Listy yang belakang hari
 > menekuni èlmu penujuman ala kartu tarot.
 > 
 > Rata-rata jawaban dan jabarannya ada ketidakberesan
 > dalam perkawinan Bambang-Mayang, ada garis bibir
 > yang tak terasa tulus, ada senyum yang tampak
 > dipaksakan, dan seterusnya. Intinya: Mayang main
 > teluh.
 > 
 > Itu pula sebabnya saat sidang pengadilan
 > perceraiannya digelar di Pengadilan Agama Jakarta
 > Pusat, Selasa, 19 Juni 2007, para ibu melontarkan
 > celetukan ke Bambang agar Bambang segera sadar.
 > Sadar dalam arti agar tidak semata-mata mengabaikan
 > Halimah, melainkan agar "sadar dari pengaruh teluh".
 > 
 > Dakwaan yang dialamatkan pada Halimah yang
 > dihubungkan dengan kemungkinan karma adalah
 > pernikahan dengan Bambang merupakan perkawinan
 > Halimah yang kedua—sementara yang pertama dengan
 > Agus Sumitro, putra Jenderal Sumitro, mantan
 > Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban
 > (Pangkopkamtib) zaman Presiden Soeharto, tepatnya
 > dari 27 Maret 1973 sampai 28 Januari 1974.
 > 
 > (Ajaibnya, ada tayangan televisi yang
 > memvisualkannya dengan foto begawan ekonomi Soemitro
 > Djojohadikusumo, ayahanda Prabowo Subianto!).
 > 
 > Tegasnya, sebagaimana diwacanakan media melalui
 > beberapa narasumber yang disebut 
 > "sahabat Bambang Trihatmodjo" yang juga diimani dan
 > diamini presenter: jika sekarang Halimah hendak
 > ditinggal Bambang, itu merupakan keniscayaan atau
 > buah dari perbuatan Halimah dulu yang meninggalkan
 > Agus Sumitro.
 > 
 > Pertanyaan kritisnya: benarkah Halimah dulu
 > meninggalkan suami pertamanya? Tak adakah, misalnya,
 > kemungkinan Halimah "direbut" dari suami sahnya;
 > mengingat pada masa-masa itu siapalah yang berani
 > menolak kehendak keluarga dan kerabat Presiden
 > Soeharto? Atau kemungkinan lainnya lagi.
 > 
 > Investigasi
 > 
 > Berbagai kemungkinan semestinya menjadi titik pijak
 > investigasi media. Dengan buru- buru menjatuhkan
 > dakwaan —bahkan vonis—bahwa Halimah terkena tulah
 > atau karma, atau Mayangsari bermain teluh, ditambah
 > tanpa sama sekali mempersoalkan dan "mengusik"
 > Bambang Trihatmodjo; pada akhirnya sesungguhnya itu
 > bukan semata persoalan profesionalitas dan etika
 > jurnalistik, melainkan ideologi di baliknya yang
 > terasa
 > lebih mengemuka, yakni menjadikan perempuan sebagai
 > tersangka, terdakwa, terhakimi, dan tervonis.
 > 
 > Persoalannya, sekali lagi, bukan sebatas pada
 > ngawurnya media yang menempatkan para cenayang itu
 > sebagai narasumber utama, atau minimal opini
 > sekunder—padahal mereka lebih tepat sebagai opini
 > ke-27—selain betapa rancunya media menggunakan
 > terminologi talak cerai dengan gugat cerai, yang
 > jelas- jelas berbeda; melainkan lebih pada adanya
 > ideologi yang terasa didesakkan, yakni dalam
 > persoalan cerai dan kawin lagi itu perempuan
 > ditempatkan sebagai tersangka, sebagai yang
 > diperiksa, disidik, diselidik, disangka, didakwa,
 > dihakimi, dan divonis.
 > 
 > Pewacanaan macam itu kenyataannya bisa muncul dari
 > mana pun: dari media atau pers atau jurnalistik,
 > dalam gunjingan, bahkan sekadar dalam rerumpian
 > arisan atau celoteh ala gardu siskamling.
 > 
 > 
 >
 http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/09/swara/3653303.htm
 >   
 > 
 > 
 > 
 >        
 > ---------------------------------
 > Be a better Globetrotter. Get better travel answers
 > from someone who knows.
 > Yahoo! Answers - Check it out.
 
 __________________________________________________________
 Never miss an email again!
 Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives.
 http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/
 
     
                       

Kirim email ke