Supaya bisa cover both sides, tentu saja para wartawan itu juga harus banyak baca buku, biar wawasannya tambah luas. Nyatanya, buku yang membahas tentang teroris(me) di Indonesia dan berbahasa Indonesia jumlahnya juga tidak banyak tuh. Bagi yang pro atau kontra; silakan baca : "9/11: Kegagalan Amerika Melindungi Warganya". Jangan takut bagi yang phobi baca buku (lho, wartawan kok malas baca buku) karena ini komik berwarna dan berbahasa Indonesia (tentu saja harganya jauh lebih murah daripada versi Inggrisnya). Penyusunnya yang bikin Spiderman, Ritchi Rich. Karena dibuat berdasarkan Laporan Komisi Penyelidik resmi, tentunya keindependenannya terjaga. Mengritik pemerintah AS dan juga sekaligus membabat teroris.
Selain itu, silakan juga baca: "ROGUE NATION, Amerika: Negara Paling Berbahaya Di Dunia", yang nulis bukan orang Arab dkk, tapi orang Inggris. Dengan demikian, kalau Anda mau maki-maki (pemerintah) Amerika, sangunya/referensinya sudah jelas. Bukan asal cuap dan ngablak yang ujung-ujungnya hanya pameran kebodohan dan kedunguan belaka. Banyak sekali sih posting di milis-milis yang hanya asal maki, tapi tidak jelas referensinya. Masak kita harus disuruh percaya sama hal-hal yang tidak jelas asal-usulnya? Ikutan dungu dong? gono Re: Wartawan dan Teroris Posted by: "Don Manurung" [EMAIL PROTECTED] donmanurung Tue Jul 10, 2007 6:22 am (PST) Pak Moderator kendati cuma sekali-kali turunkan postingan, tetapi baik pilihannya. Ini analisis yang banyak betulnya. Namun: *** Ada "daerah pertemuan" antara gerakan radikal agamis dengan para Muslim moderat, dimana dua kelompok, gurem sangat vokal dan besar namun tenang, itu bertemu, yaitu misalnya tentang rasa tertindasnya Muslimin seduia oleh AS dan teror negaranya (state terrorism). Rupanya di daerah itupun cukup ada wartawan yang "terjebak" mindset nya *** Mungkin bisa diusulkan supaya Muslimin moderat memakai mindset yang tidak agamis dalam melihat segalanya didunia yang riil, yaitu sospolekbud dll dll dll. Hingga akan terlihat AS itu bukan serakah hanya terus mau menindas Muslim, tetapi menindas siapa saja di dunia, termasuk rakyatnya dan juga orang Eropa, Jepang, Australalia dll yang berani melawan keserakahan ekonomis dan kekuasaanya. Kalau bisa, mudah-mudahan bisa, lalu semua persepsi harus di redefinisi, dan akan sangat lebih cerah membaca keruwetan dunia yang monopolar dibawah komando AS ini. Lalu para jurnalis investigatif yth yang "terjebak" tadi juga akan bisa mengentaskan diri dari mindset subyektif yang out of date, disamping mengurangi kegenitan eksibisionis dan kehausan mencari sensasi, meski memang terus dikejar redaksi buat mendongkrak tiras. Don M radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Para Pembela Teroris Luthfie Assyaukanie * peneliti Freedom Institute, Jakarta Saya bukan sedang berbicara tentang Tim Pembela Muslim (TPM) yang belakangan sedang populer karena usaha mereka memberikan bantuan hukum kepada para pelaku teroris, tapi tentang para wartawan, aktvis, dan kaum terpelajar yang secara gencar dan menjengkelkan membela para teroris. Sebagian mereka tampaknya tak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, sebagian lainnya hanya demi bergenit-genit saja, dan sebagian lainnya, tampak jelas mendukung ideologi serupa dengan para teroris hanya saja dengan sedikit kemasan yang diilmiah-ilmiahkan. Tentu saja, setiap upaya mempertanyakan prosedur hukum haruslah dihargai dan dijunjung tinggi. Adalah sebuah truisme belaka bahwa polisi bukanlah sebuah profesi yang maksum dari kesalahan. Tugas wartawan adalah mempertanyakan prosedur-prosedur yang dilakukan polisi, termasuk dalam menangani persoalan terorisme. Saya justru merasa senang bahwa pers kita kini sangat kritis dan tak takut lagi dalam menyorot kinerja aparat kepolisian. Namun, sikap kritis tentu ada batasnya. Pencarian kebenaran haruslah bermuara pada penemuan, bukannya pada pencarian itu sendiri. Premis-premis dalam logika dibangun untuk mengantarkan kita kepada kesimpulan, bukannya pada penciptaan satu premis baru yang ad infinitum. Dalam dunia khayal, Anda mungkin bisa melakukan itu, tapi dalam dunia nyata yang menyangkut nyawa orang banyak, kecuali jika Anda sakit jiwa atau berhati teroris Anda mau melakukannya. Bersikap tegas kepada para teroris memang bukan hal yang mudah, terutama jika Anda punya kesamaan visi dengan para pelaku teroris itu, misalnya dalam meyakini adanya teori konspirasi, kebrutalan dan kesewenang-wenangan Amerika, dan ketertindasan Islam. Hanya jika Anda punya pikiran yang benar-benar jernih Anda bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Perang terhadap terorisme memang bukanlah sesuatu yang mudah sekarang ini, karena yang kita hadapi bukan hanya para pelaku teroris, tapi juga para simpatisannya yang jumlahnya berkali lipat. Aparat polisi bisa menangkap pelaku teror tapi tentu saja harus menahan diri dan kejengkelan dari para pembela teroris yang muncul dalam beragam ekspresi. Polisi misalnya harus menahan diri dan kejengkelannya terhadap Abu Bakar Baasyir, yang terang-terangan membela para teroris dengan menyebut mereka sebagai "counter-teroris, " maksdunya adalah bahwa mereka melakukan teror demi mencegah teror yang lebih besar. Yang dia maksud dengan "teror yang lebih besar" adalah teror yang dilakukan Amerika Serikat. Para polisi juga harus menahan diri sambil mengurut dada terhadap para wartawan yang menyebut dirinya "jurnalis investigatif" yang menuhankan dan menyembah data. Tentu saja, sebutan "jurnalis investigatif" ini dimaksudkan untuk memanipulasi kesimpulan-kesimpul an yang sudah dibuat polisi. Tak perlu dikatakan bahwa ada banyak wartawan yang jujur dan berpikiran jernih, walau ada sebagian kecil dari mereka yang sayangnya bekerja di bawah standar kualitas. Sebagian retorika para pendukung teroris itu memang memikat, karena dia menyentuh sisi-sisi emosional terdalam kaum Muslim. Siapa yang tak tertawan dengan retorika bahwa Amerika adalah teroris besar karena kelakuannya di Timur Tengah dan dunia Islam lainnya? Dengan terus mempersalahkan Amerika, para pembela teroris itu merasa absah mendukung teror dan kekerasan, meski korban dan kerugian terbesar dirasakan oleh bangsa sendiri. Tak ada orang yang menyangkal bahwa faktor Amerika memainkan peran yang sangat besar bagi sulitnya menumpas gerakan terorisme yang melanda dunia Islam. Kebrutalan dan kesewenang-wenangan Amerika juga sangat menyulitkan kaum moderat Muslim dan siapa saja yang ingin berjuang menumpas terorisme. Banyak orang menahan diri untuk mengecam teroris karena mereka takut dibilang "antek Amerika" atau "antek zionis." Sementara itu, para "penulis investigatif" yang umumnya duduk manis di ruang ber-AC ikut-ikutan membela para teroris yang umumnya hidup sulit dan kepanasan di luar sana. Saya tidak terlalu yakin bahwa mereka mengenal pasti dengan obyek yang sedang ditulisnya. Kesan saya, mereka sepertinya sedang meng-entertain ego dan libido intelektual saja, jika bukan benar-benar ada habitus teror dalam dirinya. Perang terhadap teror memang bukanlah tugas polisi semata. Ia merupakan tugas kita semua, baik masyarakat agama, hukum, pers, akademis, maupun lainnya. Yang diperlukan adalah kejernihan berpikir, keseriusan, dan rasa tanggungjawab yang besar terhadap persoalan. Tugas polisi adalah menangkap pelaku teror, sementara tugas kita adalah menyadarkan betapa terorisme dan kekerasan atas nama agama dengan dalih apapun merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Tanpa perlu dikatakan, the benefit of doubt harus terus dipakai, tujuannya adalah mencari kebenaran sepanjang ia sesuai dengan aturan-aturan hukum formal, bukan sepanjang khayalan-khayalan liar yang tak bertanggung jawab. Pers menjadi ujung tombak bagi kebebasan, karena dari sanalah kebenaran disiarkan. Tapi pers bisa menjadi sembilu yang mematikan jika para pengelolanya tak mengerti potret besar dari persoalan yang berlaku. Luthfi Assyaukanie. Peneliti Freedom Institute, Jakarta. Koran Tempo - Jum'at, 06 Juli 2007
