Masalah Alas Tlogo, baik TNI maupun masyarakat di sana sama-sama memiliki
kepentingan. Biarkan masalah ini dituntaskan dengan penyelidikan yang lebih
mendalam. Media jangan sampai membangun opini yang bisa menyesatkan dan
memperkeruh permasalahan.
Diluar dari masalah di Alas Tlogo, pelanggaran HAM yang terjadi di Papua
jauh lebih brutal dari pada apa yang terjadi di pulau Jawa. Pemicunya pun
seringkali hal-hal kecil seperti pencari kayu yang tidak sengaja melewati
batas hutan. Mengapa tidak ada yang simpati kepada warga Papua yang sedang
memperjuangkan Hak Asasi mereka ?
Sadarkah , bila di Alas Tlogo memang terjadi penerbitan surat Girik secara
tidak sah, maka yang kalian bela itu adalah para penyerobot tanah. Dan yang
untung adalah oknum-oknum penerbit girik itu, dan mungkin kemudian mereka
akan beraksi di daerah tempat tinggal anda. Saat ini mungkin saja tanah TNI,
lain kali bisa jadi tanah kalian.


Regards,
Paulus T.

On 7/10/07, Y Rakhmat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Tidak ada buruknya bila sekali-kali mempunyai empati pada rakyat kecil
yang berabad-abad selalu disalahkan dan dimarjinalkan dalam segala konflik
dan banyak haknya tidak diakui serta diinjak-injak oleh mereka yang punya
untuk menggunakan kekerasaan, termasuk punya dana untuk memakai kekerasaan
resmi.

Semoga arwah para korban telah diterima disisiNYA, dan keluarganya akan
mempunyai nasib yang lebih baik untuk hidup dalam masarakat yang lebih adil.

Y Rakhmat

*Yap Hong Gie <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

 # Kepala Desa (Kades) Alas Tlogo, Imam Supnadi, adalah oknum yang
menerbitkan Surat Girik untuk warga penduduk, dengan mengutip bayaran,
untuk mengongkosi istri pertama dan keduanya.

# Kalau ternyata Imam Supnadi tidak berhasil mengambil alih tanah TNI-AL,
maka dia akan berhadapan dengan warga Alastlogo yang selama ini diiming-
iming dan dijadikan sapi perahan.

# Dengan munculnya berbagai lembaga dan aksi gerakan "Petani", seperti a.l
.
Serikat Petani Merdeka (SEPAM), khususnya Divisi Advokasi SEPAM,
nampak sekali adanya gerakan terorganisir secara sistimatis untuk
menjalankan
program "landreform" lahan tanah TNI.

# Pertanyaannya, setelah mensengketakan dan berhasil menjarah lahan TNI,
giliran lahan tanah siapa menjadi target berikutnya?


Kirim email ke