Wah, makin seru nih rasanya (buat yang awam seperti saya). :-) Faktanya kan:
- Nilai batas (pendapatan) sebagai acuan/patokan kemiskinan ditingkatkan.. - Rata" Pendapatan meningkat(?).. boleh sangsi gak nih? :-p Bukankah pendapatan juga terkait dengan 'pengangguran' & ketersedian/daya serap lapangan kerja? - Harga" barang (sudah jelas) meningkat tajam. Kesimpulannya: - Tingkat kemiskinan menurun(?).. Mungkin jalan tengahnya (biar semua pihak puas): - Lembaga yang meragukan bisa memberikan data pembanding (sampel). Kalau bisa dari wilayah yang sama dengan yang diambil BPS. Kendala: SDM, dana(?), perijinan&kewenangan(?), waktu. - Lembaga resmi (BPS) membuka/bedah data yang mereka ambil.. BPS bersama lembaga" terkait melakukan verifikasi ulang atas data yang mereka gunakan. Kendala: gengsi donk ah(?) karena menyangkut kredibilitas. Apakah data yang mereka ambil itu memang layak untuk dijadikan patokan? (kalau enggan dikatakan mewakili kondisi aktual di Indonesia).. Benarkah data yang diambil bisa 'mewakili' Indonesia secara umum.. atau yang diambil hanya area tertentu yang dapat mendukung 'hipotesis' awal atau 'tujuan akhir' saja? Apakah common sense tidak bisa (sama sekali) menjadi salah satu acuan/hipotesis? Kalau 'menerima' conspiracy theory dianggap sexy, apakah menolaknya bukan hal yang sama? Padahal di dunia ini gak semua orang baik" lho.. ada (banyak?) orang yang jahat & manipulatif.. Kalau semua orang baik" & tidak nyeleneh, kita tidak perlu hukum.. Begitu yang pernah saya dengar dari Yusril dalam salah satu khutbah Jum'at di UI.. karena hukum dibuat/ diturunkan Allah untuk mengatur sebagai respon atas 'ketidak-percayaan' bahwa semua orang akan baik" saja.. :-) Jadi, posti (positif tinking) itu boleh, dan neti (negatif tinking) juga wajar.. yang penting punya landasan/tidak.. termasuk fakta & indikator di lapangan.. CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 7/6/07, mikhsan_modjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbak Fau saya sedikit komen. Saya pikir angka 1 persen atau 2.13 juta orang dalam satu tahun adalah cukup besar. Bahkan bisa dibilang fantastik. Kalau dibandingkan dengan angka historis perhitungan BPS, saya pakai period 1987-1996 Orba dimana jumlah orang miskin berkurang dari 30 ke 22.5 juta, atau sekitar 833 ribu pertahun, maka angka 2.13 adalah sangat- sangat luar biasa. Jadi penurunan ini, kalau benar, bisa dibilang sebuah prestasi. Persoalannya belum ada yang mengklaimnya sebagai sebuah prestasi. Karena memang sulit untuk menjustifikasi dari fakta-fakta yang bisa diobservasi sambil lalu. Bukan saya membela TIB, tapi saya pikir sikap skeptis dan apriori mereka adalah wajar. Pendapatan sedikit meningkat, akan tetapi harga juga naik. Loh kok bisa kemiskinan turun dengan lumayan drastis. Padahal pendapatan yang meningkat itu masih lebih kecil dari masa Orba yang diatas 7% itu. Masak karena BLT sih, seperti yang dikatakan Arizal itu..? Apalagi kalau mengukurnya pakai data konsumsi - yang biasanya lebih stabil dari pendapatan karena ada proses smoothing dan insurance. Ringkasnya, saya pikir ini bukan conspiracy, tapi sekedar common sense saja. Menarik kalau ada ekonom "pemerintah", yang berani tentu saja, urun rembuk menjelaskan angka-angka yang lumayan puzzling ini.... Salam, > fau swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya sendiri -saat ini- menilai bahwa -tampaknya- data BPS masih dalam range of acceptance. Asumsinya berdasarkan apa yang diungkapkan oleh BPS mengenai sampling dan metodologi. Tetapi apakah saya bergembira ria? Hmmm... menurut saya, penurunan sekitar 1% angka kemiskinan ini dalam waktu satu tahun masih sangat kecil, seharusnya bisa menurunkan lebih banyak. ............ > Jadi menurut saya, assuming bahwa data BPS itu within the acceptance range, maka pemerintah terlalu berlebihan untuk bergembira atau tergesa2 mencatatkan hal itu sebagai prestasi. Sebaliknya tuduhan bahwa BPS pembohong oleh Indef ini patut disikapi kritis pula, walau saya yakin sebentar lagi koran2 dan milis akan berhias berita yang berdasarkan tuduhan Indef ini. Conspiracy theory is always sexy.
