sepertinya sih, loyalitas pada profesi bukan jamannya lagi kini. bagi sebagian orang, inilah masa dimana kita hanya loyal pada uang. salah? tidak juga. pragmatis? not really. kondisi tiap orang memang beda-beda. tak bisa dipukul rata.
yang perlu disadari dari awal, dunia jurnalistik memang tak menjanjikan materi berlebih. jikapun ada, ya paling cukup untuk hidup minimalis. yang penting kepuasan batin, begitu. tapi, sampai kapan kepuasan batin ini jd prioritas utama, kalau mau hidup berkecukupan saja susah bukan main. sampai kapan kesabaran akan membela kita, kalau hidup makin susah. bagi kalangan jurnalis, profesi PR, media expert, konsultan komunikasi, atau copy writer di agensi perikalanan bisa jadi alternatif pilihan. harap dimaklumi jika teman-teman memilih profesi-profesi ini guna melanjutkan eksistensinya. mohon dipahami pula jika suatu saat kelak, aku pun menanggalkan jubah kewartawanan, dan berjuang kembali meniti karier di bidang lain. btw, congratulation bagi rekan-rekan yang telah memiliki pelabuhan baru. percayalah, Anda tak sendirian. tabik, qusya! On 7/10/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbak Meery dan sobat lainnya, Hidup ini adalah sebuah pilihan. Keputusan teman mbak Merry itu sudah tepat sesuai dengan kapasitas teman mbak tersebut dan mungkin tidak tepat untuk ukuran rekan-rekan jurnalis sejati lainnya (maybe yes maybe no). Selamat buat teman mbak yang sudah bisa realistis menurut tatanan kehidupan rekan mbak. Jadi sekali lagi "hidup itu adalah sebuah pilihan dan kita yang memilihnya tanpa paksaan dan intimidasi" Namun lucu juga yah....apabila ada yang mau buat kaos bertuliskan gaji jurnalis rendah..... nanti yang lainnya juga ikutan seperti : pembantu rumah tangga, buruh harian, operator pabrik, satpam mall, office boy dll. menurut saya : "grow up guys & girl" Salam Londung Re: Satu Lagi Jurnalis Menangggalkan Kartu Persnya Posted by: "latipuscaverius" [EMAIL PROTECTED] Tue Jul 10, 2007 5:50 am (PST) Moga2 keputusan itu datang karena kebutuhan hidup yg terus mengimpit, Mer! Yg makin sebal adalah, udah gaji kecil dan tak mungkin mencukupi, masih "ditekan" pula sama perusahaan.... Kaosnya gw bikinin deh...salam buat Pak Adiseno, Mbak Wahyu, Ida and Sulung...Keep rockin buat SH! Latief --- In [email protected], magdalena merry <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Satu lagi, seorang jurnalis mengundurkan diri dari profesinya sebagai jurnalis. "Gue seneng jadi jurnalis, Mer. Tapi gue harus realistis. Anak gue bisa ngga sekolah kalo gue bertahan terus. Jadi doain ya gue lolos wawancara kerja tahap akhir di perusahaan lain," begitu kalimatnya mengalir deras padaku. Mulai pekan lalu, teman itu sudah resmi bukan jurnalis lagi. Saya tidak bisa menyalahkan dia yang alih profesi akibat tak sanggup mengandalkan gaji jurnalis yang pas-pasan. Sementara anaknya tahun depan masuk sekolah dan memerlukan biaya besar. Saya sempat bertanya, kenapa dia ngga coba cari kerja sampingan seperti yang kebanyakan dilakoni jurnalis. "Ngga mungkin, Mer. Liputanku berat banget. Pulang liputan aja udah capek banget, harus ngetik berita lagi. Kalo aku cari sampingan, bisa-bisa sakit. Belum waktu buat anakku yang masih Balita," begitu argumennya. Kalo mengingat kisah itu, saya pengen bengat bikin kaos khusus dengan tulisan besar-besar: "GAJI JURNALIS NGGA NYUKUPIN KEBUTUHAN SINGLE PARENT!" atau "GAJI JURNALIS NGGA CUKUP BUAT NYEKOLAHIN ANAK!" Pengen banget! Ada yang mau bikinin??? mercebetedehsamaperusahaanmediayangnajiskudiskalpanak! Merry Magdalena Reporter Harian Sore Sinar Harapan www.sinarharapan.co.id 021-3912360/61 Fax 021-3912370
