Maaf Mbak Fauziah,
dalam tetap maraknya budaya Asal Bapak (sby) Senang ini banyak masyarakat
yang sudah terlanjur a priori bahwa produk BPS sudah atau mudah di rekayasa.
Ini dampak sosialnya. Bisa diterangkan secara detil dari ilmu statistik, namun
trust sudah hilang. Jadi
memang sukar. Ini juga dampak sampingan dari tak hentinya upaya tebar pesona,
hingga menjadi boomerang untuk yang memerimtah. Tidak dipercayai oleh rakyat.
Dan dalam persepsi absolut, coba bayangkan saja dengan Negeri Jiran, dikita
kemiskinan absolut yang terus meluas.
Maaf ya Mbak,
RPr
fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [email protected], "Alpha Bagus Sunggono"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mbak fau,
> bisa gak yah , menggunakan data lain sebagai pengimbang.
>
> Jadi gini.
> Kemiskinan akan menimbulkan tingginya tingkat kejahatan.
> Bagaimana kalo di compare dengan data Polisi,
> tentang statistik tingkat kejahatan.
>
> Mustinya penurunan kemiskinan,
> akan menurunkan tingkat kejahatan,
> bukan begitu ?
>
Itu namanya pake proxy (pendekatan) untuk mengestimasi sesuatu.
BPS juga pake proxy data pengeluaran untuk menghitung kemiskinan.
Semuanya bisa2 saja, tapi perlu diingat:
1. lebih akurat yang tidak pakai proxy.
2. hubungan Proxy dan yang di-estimate mesti didukung dg teori dan
data empiris yang kuat.
Menghitung kemiskinan menggunakan statistik kejahatan mempunyai
kelemahan mendasar:
1. AFAIK, tidak ada teori dan data empiris yang kuat yg menyatakan
kemiskinan pasti menyebabkan kejahatan. Jikapun ada, seberapa besar
korelasinya? Kejahatan jenis apa saja yang berkorelasi dg kemiskinan?
apa saja variabel lain yang mengontrolnya?
2. Statistik kejahatan sendiri mungkin underestimate. Banyak orang
malas lapor polisi.
3. Diperlukan data time series, apakah proxy ini memungkinkan?
salam,
fau
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.