Abu Du(r)jana
Oleh M. Guntur Romli
03/04/2007

Abu Dujana adalah nama samaran. Nama aslinya Ainul Bahri. Ia 
dibesarkan di Cianjur, Jawa Barat. Ainul Bahri terpengaruh ideologi 
negara Islam versi Darul Islam (DI) dari guru ngajinya yang juga 
tokoh DI, Dadang Hafidz. Pada tahun 80-an, seperti halnya tokoh-tokoh 
teroris Indonesia dan dunia, Ainul Bahri berangkat ke Afghanistan 
untuk berjihad melawan Uni Soviet. Di sana, ia memilih nama baru: Abu 
Dujana. 
Dalam dua pekan ini kita disuguhi rangkaian berita utama: polisi 
sedang memburu kawanan teroris pimpinan Abu Dujana. Abu satu ini, 
bukan seperti Abu Nawas yang pandai mengocok perut melalui humor. 
Sebaliknya, Abu ini mahir mencolok takut melalui teror. Ia selicin 
belut, selincah bajing, dan selicik kancil. Dalam operasi penangkapan 
di Jogja, ia lolos. Polisi hanya mampu mencokok beberapa anak 
buahnya. Hingga kini ihwal Abu Dujana masih raib. 

Tak banyak orang mengenal nama ini. Konon dia adalah pengganti Dr. 
Azahari setelah terbunuh, dan mitra-setia Noordin M Top, buruan 
teroris nomor wahid. Ia adalah tokoh kunci kelompok Jamaah Islamiyah 
(JI) saat ini. Abu Dujana juga disinyalir berandil besar dalam 
peledakan bom di Indonesia, khususnya di Poso.

Abu Dujana adalah nama samaran. Nama aslinya Ainul Bahri. Ia 
dibesarkan di Cianjur, Jawa Barat. Ainul Bahri terpengaruh ideologi 
negara Islam versi Darul Islam (DI) dari guru ngajinya yang juga 
tokoh DI, Dadang Hafidz. Pada tahun 80-an, seperti halnya tokoh-tokoh 
teroris Indonesia dan dunia, Ainul Bahri berangkat ke Afghanistan 
untuk berjihad melawan Uni Soviet. 

Di sana, ia memilih nama baru: Abu Dujana. Bersama teman-temannya 
dari seluruh pelosok dunia, ideologinya yang berbasis kekerasan 
diperkokoh dan dididik secara militer oleh kelompok Mujahidin, 
tentara Pakistan, dan dinas rahasia Amerika.

Ketika nama Abu Dujana disebut-sebut polisi dan media massa, saya 
teringat seorang wira dalam Perang Uhud di zaman Nabi dulu. Abu 
Dujana adalah nama panggilan Sammak bin Kharsyah. Ia terkenal karena 
keberanian dan keganasannya membantai musuh. Ia bergelar "Si Pita 
Merah-Maut", karena dalam setiap peperangan selalu mengenakan seutas 
pita merah yang dililitkan di kepala. Bila pita itu sudah diikat, ia 
bagai malaikat maut yang menerobos barisan musuh, dan siap mencabut 
nyawa. 

Alkisah, sebelum dimulai perang Uhud, Nabi mengangkat pedangnya 
tinggi-tinggi lalu berseru, "Siapa yang sanggup membawa pedang ini?" 
Banyak yang berebut maju seperti Ali bin Abi Thalib, Umar bin 
Khattab, dan lain-lain. Membawa pedang Rasulullah merupakan 
keistimewaan. Namun Nabi malah memberinya kepada Sammak alias Abu 
Dujana. Sejak peristiwa Perang Uhud itu, nama Abu Dujana tersiar 
masyhur. 

Rupanya Si Ainul Bahri kagum pada kisah kepahlawanan Abu Dujana, 
sehingga mengambil namanya sebagai gelar dan samaran. Kebiasaan ini—
menggunakan doktrin, dan nama tokoh perang Islam zaman Nabi—lazim 
dilakukan kelompok teroris dan beberapa aktivis Islam. Selepas 
melakukan sumpah setia pada amir dan jamaah—yang disebut bay'at—
mereka seperti memasuki dunia baru, melepaskan masa lalunya dengan 
memilih nama anyar. 

Nama yang kurang Islami diubah, misalnya dari "Gatot" jadi "al-
Khaththath", atau menyematkan nama anaknya dengan menambahkan 
kata "Abu" artinya "bapak". 

Si Udin yang punya putri bernama Hindun akan disebut Abu Hindun. Saat 
Si Udin dipanggil Abu Hindun, tidak terasa lagi Sundanya, ia bagai 
orang Arab, bahkan merasa seperti sahabat Nabi. Tak sampai di situ, 
ada kebiasaan baru yang diamalkan: memelihara janggut walau beberapa 
helai, memakai sorban dan gamis di atas mata kaki. Bila belum beranak-
pinak, mereka bisa memilih nama dari pahlawan perang Islam yang 
diidolakan, seperti Abu Dujana.

Namun ada hal yang dilupakan Ainul Bahri dari peristiwa Perang Uhud. 
Meski Abu Dujana bertempur dengan penuh keberanian, kaum muslim tetap 
menderita kekalahan, setelah di awal-awal berhasil mendesak mundur 
lawan mereka. Kekalahan itu akibat kesalahan strategi. Satu regu 
pemanah yang bertugas melindungi pasukan Islam di punggung gunung 
Uhud meninggalkan posisinya karena tergiur harta rampasan perang. 
Celah itu dimanfaatkan lawan untuk menyerang balik dari belakang.

Saya yakin, soal strategi ini yang mungkin dialpakan Abu Dujana 
bersama jamaahnya. Masalahnya bukan hanya soal keberanian, ataupun 
ideologi yang diklaim paling benar. Tidakkah mereka melihat, dengan 
strategi teror, kekacauan, dan peledakan di mana-mana, mereka telah 
membuka celah, sehingga "lawan" balik menyerang? 

Dahulu sosok Sammak adalah Abu Dujana yang hadir dalam perang melawan 
kelaliman. Kini Ainul Bahri malah menghadirkan kezaliman: durjana dan 
angkara murka. Dia bukan Abu Nawas, bukan Abu Dujana, tapi Abu 
Durjana. [] 




Kirim email ke