Repotnya, penegakan hukum tidak lepas dari bagaimana
hukum yang legitimate, yang mudah dipahami, yang
mengadopsi kehendak rakyat dapat dibuat. Jangan lupa,
yang membuat hukum itu kan politisi-politisi juga...


--- datuksinaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kolom IBRAHIM ISA
> Rabu, 11 Juli 2007
> -------------------
> ====================================================
> TEGAKNYA NEGARA HUKUM R.I. ADALAH JAMINAN SURVIVAL
> ====================================================
> 
> Pertanyaan berikut ini wajar dan relevan: 
> BAHAYA APA yg MENGANCAM REPUBLIK INDONESIA?
> APAKAH JAMINAN TERPERCAYA BAGI PERSATUAN DAN
> KESATUAN  BANGSA DAN
> NEGARA REPUBLIK INDONESIA?
> 
> Masalah yang konstan menjadi pemikiran terus menerus
> dihadapi oleh
> setiap pemeduli KESATUAN DAN PERSATUAN negeri dan
> bangsa, kiranya
> adalah sbb:  --- Apakah Bangsa dan Negara Republik
> Indonesia mampu
> dengan sukses melewati periode 'SURVIVAL' yang harus
> dilaluiya? Apakah
> bisa dengan sukses melewati  masa  yang menentukan
> berhasil atau
> gagalnya usaha meneruskan membangun dan memperkokoh
> nasion Indonesia,
>  mempertahankannya sebagai suatu negara berdaulat,
> yang wilayahnya
> sambung menyambung menjadi satu,  dari Sabang sampai
> Merauke?  Lebih
> gamblang: Apakah bangsa, negeri dan negara ini,
> tidak  akan
> terpecah-belah, porak poranda? Berkeping-keping
> seperti, misalnya, 
> Yugoslavia, atau Uni Sovyet?
> 
> Setiap patriot yang kecintaannya, kepedulian dan
> keterlibatannya tak
> diragukan karena ia bersumber  pada identitas dan
> kesadarannya sebagai
> orang Indonesia,  dengan pasti dan lantang menjawab:
> --  'YA' ----.  
> 
> Melalui perjuangan bersama, mempersatukan semua
> kekuatan besar dan
> kecil yang harus dipersatukan, KITA PASTI AKAN
> 'SURVIVE' DAN MAJU TERUS. 
> 
> Jawaban ini bukan jawaban spontan.  Juga bukan
> jawaban yang 
> emosionil. Juga jauh dari  pandangan 
> nasionalisme-sempit!   Jawaban
> yang tegas dan tandas tsb adalah jawaban yang wajar,
>  yang diberikan
> oleh  setiap patriot pencinta Republik Indonesia, 
> yang setia pada
> cita-cita kebebasan, keadilan dan kemakmuran bagi
> seluruh bangsa, 
> seperti yang terkandung dalam falsafah dasar negara
> R.I., PANCASILA
> dan UUD. Ini adalah jawaban dari siapapun  yang
> PUNYA harga diri dan
> diilhami semangat dan tekad untuk membela keutuhan
> dan kesatuan serta
> persatuan Indonesia.
> 
> *   *    *
> 
> Ketika Republik Indonesia diproklamasikan sampai
> pada saat
> kedaulatannya diakui mancanegara,  negeri ini belum
> utuh sebagai
> negara yang wilayahnya sambung menyambung jadi satu,
> dari Sabang
> sampai Marauke.  Karena, sebagian  penting dari
> wilayah Indonesia, 
> yaitu Irian Barat, ketika itu masih dikuasai
> Belanda.  
> 
> Menelaah sejarah negara ini, tercatat bahwa ancaman
> dan bahaya yang
> dihadapi  negara Republik Indonesia yang baru
> berdiri itu , datangnya
> terutama dari luar. Satu ketika ia datang dalam
> bentuk  subversi dan
> campur tangan  kekuatan kolonialisme dan
> imperialisme. Ini kita alami
> sendiri. Satu bulan sesudah 'penyerahan kedaulatan' 
> oleh Den Haag
> kepada Republik Indonesia Serikat, kita dikejutkan
> oleh  meletusnya
> pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)
> dibawah pimpinan Kapten
> KNIL  Raymond P. Westerling,  yang tujuannya adalah
> merebut kekuasaan
> negara.  Lalu muncul  pemberontakan RMS. Dua-duanya,
>  menunjukkan
> keterlibatan kekuatan kolonial Belanda.  Selanjutnya
> menyusul 
> pemberontakan DI dan TII, yang hendak menegakkan
> negara Islam. Diikuti
> kemudian oleh  pemberontakan separatis PRRI/Permesta
> yang disokong
> oleh CIA/USA. 
> 
> *    *    *
> 
> Dari pertemuan Medan bulan lalu, antara
> petinggi-petinggi PDI-P yang
> diwakili oleh Taufik Kimas dan Golkar yang diwakili
> oleh Surya Paloh,
>  dimaklumkan adanya  kesepakatan dan kesefahaman
> kedua parpol tsb. 
> Fenomena ini di kalangan  banyak  orang menimbulkan
> kesan, bahwa  dua
>  parpol tsb mengasumsikan bahwa,  dewasa ini, 
> ancaman atau bahaya
> utama yang dihadapi oleh bangsa  dan negara kesatuan
> Republik
> Indonesia, adalah s e p a r a t i s m e  dan  f u n
> d a  m e n t a - 
>  l i s m e   Islam . 
> 
> Perkembangan selanjutnya perpolitikan tanah air,
> akan menjelaskan
> apakah benar, atau keliru,  konstatasi PDI-P  dan
> Golkar mengenai
> ancaman terhadap nasib bangsa dan negara kita.
> Ataukah pernyataan
> Medan itu sekadar menunjukkan kehendak untuk
> memberikan 'wajah baru' 
> pada suatu koalisi yang tidak baru?  Mengomentari
> pertemuan Medan,
> Ketua Umum Golkar, Jusuf Kala,  menyatakan bahwa
> pertemuan itu sekadar
> 'silaturahmi saja'. Sedangkan mantan Presiden
> Abdurrahman Wahid,  yang
> merupakan tokoh Islam berpengaruh, boleh dikatakan,
> tidak menggubris
> 'koalisi'  kedua parpol tsb. Memang bisa timbul
> pertanyaan, bila
> benar-benar hendak  'bercancut taliwondo',  hendak
> mempertahankan
> Republik yang sekular, mengapa tidak, sejak pada
> awal,  diajak Gus Dur
> yang merupakan tokoh pemimpin Islam yang justru
> membela sekularisme
> dan pluralisme dalam kehidupan berbangsa dan
> bernegara?
> 
> Nyatanya,  selama ini -- sejak PDI-P bersama Golkar,
> Poros Tengah dan
> kalangan militer, terlibat dalam menjatuhkan
> Presiden Abdurrahman
> Wahid, kemudian menaikkan Megawati Sukarnoputri
> menjadi Presiden
> Republik Indonesia yang ke-5,  ---   sejak itu orang
> menjadi terbiasa
> dengan realita perpolitikan,  bahwa masalah koalisi
> antar pelbagai
> parpol di negeri kita,  sudah menjadi  bagian yang
> tak terpisahkan
> dalam kehidupan politik pasca Suharto. 
> 
> Di dalam sistim demokrasi parlementer,  kombinasi
> koalisi
> parpol-parpol memang bisa berubah menurut
> kepentingan pelbagai parpol
> itu. Tergantung kepentingan  apa yang paling
> mendesak diangap oleh
> para partner koalisi tsb.
> 
> *    *    *
> 
> Setelah pemerintah SBY  'berhasil' mengakhiri
> konflik bersenjata di
> Aceh, melalui suatu kompromi dengan  kaum
> pemberontak 'GAM',  tampak
> adanya  optimisme bahwa  'separatisme' yang timbul
> dari jurusan
> lainnya,  yaitu yang menyangkut kasus'OPM'  dan
> 'RMS', juga akan dapat
>  'dipecahkan'  tanpa kekerasan bersenjata.  
> 
> Kekuatan bersenjata 'RMS' sudah lama dikalahkan, dan
> gerakan 'OPM'
> tidak lagi memiliki kekuatan bersenjata yang
> berarti. Tetapi
> belakangan ini tampak bahwa gerakan yang dirintis
> oleh kaum separatis
> di Aceh, Maluku maupun di Papua, tidaklah berhenti.
> Gerakan-gerakan
> separatis tsb tampak mengambil bentuk lain.
> Seolah-olah hendak
> menempuh cara yang non-kekerasan.  
> 
> Mengikuti perkembangan seperti itu, timbul
> pertanyaan, cukupkah fakta
> untuk meyatakan bahwa ancaman separatisme terhadap
> kesatuan dan
> keutuhan wilayah Republik Indonesia, belakangan ini
> telah  menanjak
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz
 

Kirim email ke