Hanya saja sudah terlalu sering kalau orang menelusuri, menguraikan dan
menyampaikan hal-hal semacam ini pasti ada kelompok yang menganggap sebagai
fitnah atau memojokkan. Apalagi kalau yang menulis itu orang luar, itu pasti
sudah diklaim lebih dahulu bahwa sebagai kaki tangan 'musuh' sebelum dibaca
dan dianalisis kebenarannya. Yang bikin heran lagi ketika yang membuka tabir
memang orangnya sendiri tidak ada yang mendukung dan mengakui untuk kemudian
mewaspadai ajaran/aliran itu, seperti misalnya pengakuan sdr. Nasir Abas
mantan Mantiqi JI yang sudah insyaf, siapa tokoh Islam Indonesia yang mau
mengerti dan mendukung keinsyafan itu ? Barangkali hanya beberapa tokoh yang
memang moderat dari kakek moyangnya, lainnya ?? ('...ahhh dia itu
pengkhianat..') begitu mungkin dalam alam fikirnya.
Permasalahan yang dihadapi pemerintah adalah banyak tokoh/orang-orang yang
abu-abu (karena pengaruh wan ABU bakar..??), artinya tidak pernah melakukan
hal-hal yang dilakukan para 'oknum' itu tetapi ketika 'oknum' itu ditangkap
mereka bersuara sedikit miring (atau bahkan secara keras) membela yang
ditangkap. Ini yang pernah disebut sebagai 'anomali' oleh bapak dari
Lemhanas di kompas beberapa minggu yang lalu. Oleh sebab itu selama tidak
ada kekompakan dan ketegasan dalam mendiskripsikan sepak terjang aliran itu
sebagai terlarang/haram oleh semua tokoh, maka selama itu pula tetap akan
hidup subur. BARANG KALI MEMANG SUDAH DARI SONONYA DITAKDIRKAN DEMIKIAN
(???) Wallahu'alam bisawab.Wassalam On 7/12/07, Pandu Ganesa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ada buku yang membahas hubungan DI dan JI ini: The Secont Front (versi Indonesianya: Medan Tempur Kedua, sedang dipersiapkan), oleh Ken Conboy. Buku ini bisa dibilang sequel dari buku Conboy sebelumnya: Intel: Menguak Tirai Dunia Intelijen Indonesia. Urusan teroris bukan hanya dari DI (generasi pertama) ke JI (generasi kedua), masih ada lanjutannya: generasi ketiga, atau mungkin malah juga generasi keempat...? Ingatan orang Indonesia itu pendek. Kalau ngomong soal teroris yang diingat cuman bom Bali doang. Padahal, jauh sebelum itu, tahun 50-60an, bom-boman kayak gitu sudah ada. gono Dari DI Ke JI Posted by: "RM Danardono HADINOTO" [EMAIL PROTECTED]<rm_danardono%40yahoo.de>rm_danardono Wed Jul 11, 2007 6:42 pm (PST) Dari DI Ke JI Oleh M. Guntur Romli 09/07/2007 Karena terbawa arus melawan terorisme global, sebagian masyarakat dan aparat pemerintah justru lengah terhadap kemunculan organisasi- organisasi teroris lokal baru yang dengan leluasa melakukan kekerasan, pengerusakan, dan penyerangan terhadap kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dianggap berbeda pandangan. Aksi-aksi teror di Indonesia, bukanlah sekadar produk lokal, namun berkaitan dengan jaringan terorisme global. Hal ini terbukti pada kemampuan mereka menggunakan peralatan militer, merakit bom, menentukan target, meloloskan diri, dan melakukan perlawanan. Namun yang sering dilupakan adalah peran organisasi teror lokal. Bak lahan pembibitan, organisasi lokal itu ranah yang menumbuhkan mereka, yang nantinya bisa berkembang menjadi jaringan global. Contohnya: jaringan terorisme global yang menyerang kawasan-kawasan wisata di Mesir sejak tahun 2000, tidak bisa dilepaskan dari organisasi teror lokal sebelumnya, seperti Jamaah Takfir wal Hijrah, Tandzim Jihad, dan Jamaah Islamiyah, yang beroperasi di tingkat lokal Mesir dari tahun 70-an hingga 80-an. Tentu saja yang melakukan aksi-aksi teror sejak tahun 2000, bukanlah generasi tahun 70 dan 80, mereka sudah banyak yang mati, yang hidup pun ramai-ramai bertobat. Namun generasi sebelumnya telah mewariskan impian, dendam-kesumat, dan doktrin-doktrin kekerasan pada generasi selanjutnya. Celakanya hubungan lintas generasi itu tak bisa dipangkas secara mudah. Nama organisasi bisa berganti-ganti setiap saat, seperti nama-nama yang dipakai oleh para teroris saat ini, tetapi iktikad dan semangat tak bisa dengan mudah lenyap. Di Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (DI/NII) telah mewariskan keturunan baik ideologis ataupun biologis terhadap pelaku-pelaku teror saat ini. Secara resmi, organisasi DI/NII sudah lama tamat. Namun para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari lingkaran organisasi ini, misalnya Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir alias Gempur adalah putra dari M. Zainuri, tokoh Komando Jihad asal Jawa Timur yang ditangkap pada zaman Ali Moertopo. Abu Durjana alias Aenul Bahri adalah murid tokoh DI, Ustadz Dadang Hafidz. Pun Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir yang berasal dari lingkaran DI/NII. Lingkaran yang dimaksud adalah organisasi: keluarga besar DI/NII, dan ideologi: mendirikan sebuah negara Islam atau menegakkan syariat Islam di Indonesia. Hirarki struktural tidak bisa dijadikan patokan, karena DI/NII telah mengalami proses "pergantian kulit", atau tercerai-berai akibat "konflik saudara" yang melahirkan kelompok-kelompok sempalan yang masing-masing berdikari. Misalnya: Komando Jihad, Majelis Khilafatul Muslimin, Lembaga Kerasulan, dan nama-nama lain, hingga Jamaah Islamiyah (JI) yang dibangun oleh Abdullah Sungkar setelah menyatakan keluar dari NII dan mengubah Metode Perjuangan NII dengan Metode Perjuangan Jamaah Islamiyah Mesir pimpinan Syekh Umar Abdurrahman. JI secara organisasi sudah talak tiga dari DI, namun pengaruh ideologi tak bisa dipungkiri. Saya tak ingin menggunakan DI/NII ini sebagai stigmatisasi, ataupun menafikan banyaknya mantan tokoh dan keturunan organisasi ini yang tidak ada kaitannya lagi dengan aksi-aksi teror saat ini. Saya hanya ingin menekankan satu hal: generasi terorisme lokal sangat berpotensi menjelma terorisme global. Organisasi lokal adalah cikal-bakal dari organisasi global. Oleh karena itu, warisan ideologi dan dendam kesumat dari generasi itu harus dipotong secara tuntas, sembari melakukan antisipasi terhadap munculnya organisasi-organisasi teror lokal baru di Indonesia. Karena terbawa arus melawan terorisme global, sebagian masyarakat dan aparat pemerintah justru lengah terhadap kemunculan organisasi-organisasi teror lokal baru yang dengan leluasa melakukan kekerasan, pengrusakan, dan penyerangan terhadap kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dianggap berbeda pandangan. Agar cerita DI/NII dan segala turunannya itu tak terulang lagi, dan agar organisasi-organisasi lokal tidak bisa dimanfaatkan oleh jaringan global yang memungkinkan terjadinya aksi-aksi kekerasan seperti yang kita saksikan saat ini, maka diperlukan ketegasan aparat pemerintah untuk menindak kelompok-kelompok teror lokal baru itu. [Mohamad Guntur Romli].
