Pertanyaan saya, apabila seseorang tidak boleh menafsirkan Al Qur'an
berdasarkan pemikirannya sendiri, lalu bagaimana cara menafsirkan yang
benar? Apakah harus tergantung pada penafsiran ulama?
Menurut saya, Al Qur'an bahkan tetap terbuka untuk ditafsirkan oleh
semua manusia, tidak hanya kaum muslimin saja. Kalau penafsiran Al
Qur'an hanya boleh dilakukan ulama, maka kaum muslimin hanya tergantung
pada doktrin ulama saja. Mungkin inilah yang menjadi salah satu akar
masalah terjadinya tindak pidana terorisme ataupun penyerangan terhadap
agama lain. Masyarakat tidak dibiarkan bebas merujuk pada sumber
kebenaran, sehingga dapat dengan mudah didoktrin untuk melakukan
berbagai hal sesuai kehendak sang ulama.
Tentunya ulama tidak perlu khawatir bahwa kebenaran yang terkandung
dalam Al Qur'an bisa luntur karena penafsiran yang salah. Kalau ada
perbedaan penafsiran antara sesama ulama ataupun antara ulama dengan
umatnya, hal tersebut dapat didiskusikan secara terbuka karena
pemikiran sang ulama belum tentu benar dan pemikiran umat juga belum
tentu salah. Diskusi tentang penafsiran Al Qur'an juga merupakan dakwah
yang efektif karena dapat membangkitkan keingintahuan dan minat
masyarakat akan isi dan kandungan Al Qur'an itu sendiri. Tambahan lagi,
di dalam Al Qur'an juga terdapat ayat2 yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Ayat2 tersebut telah mendorong kemajuan
berfikir para ilmuwan Islam di masa lampau. Hal ini sudah sangat sulit
kita temukan di masa sekarang ini.
Saat ini terdapat berbagai website yang menyediakan terjemahan Al
Qur'an secara online. Berbagai cercaan dan kecaman terhadap Islam
dalam milis ini, misalnya, dapat dijadikan bahan untuk kita melihat
langsung di dalam website tersebut, apa yang dikatakan Al Qur'an
mengenai suatu masalah tertentu. Tentu saja, kita tetap bisa berdiskusi
dengan ulama sebagai orang yang lebih sering bersentuhan dan
mempelajari lebih dalam mengenai isi dan kandungan Al Qur'an.
Hal ini saya kira berlaku juga untuk semua agama dengan kitab sucinya.
Marilah kita mulai mempelajari apa yang tertulis dalam kitab2 suci
tersebut tanpa harus menunggu saat2 tertentu seperti pengajian,
kebaktian, dsb. Kalau kita sempat membaca buku novel yang tebal, kenapa
kita tak sempat membaca beberapa ayat kitab suci? Bukankah kitab suci
diturunkan Tuhan kepada seluruh umat manusia? Kitab suci tidaklah
diturunkan eksklusif untuk para pemuka agama saja.
-------------------------------------------
8a. Re: Al-Quran adalah produk budaya Arab?
Posted by: "encep alhamidi" [EMAIL PROTECTED]
encep_alhamidi
Date: Thu Jul 12, 2007 2:32 am ((PDT))
Tidak aneh alQuran kembali dihujat, bukan sekali ini saja, baik
penganut islam sendiri maupun non muslim,silih berganti melakukan
hujatan dan mendapat tanggapan dari berbagai kalangan dan latar
belakang profesinya. Tapi semuanya itu tidak akan pernah mengurangi
nilai-nilai ilmu dari alQuran itu sendiri sebagai tempat kembali dan
rujukan ilmu bagi manusia yang telah jauh kehilangan arah hidup dan
jatidirinya sebagai makhluk Tuhan di muka bumi ini.
Justru sebaliknya, jikalau kita membacanya dengan kepala dingin
dalam arti tanpa dibarengi rasa subjektif, tafsiran apapun terhadap
alQuran itu, maka alQuran itu sendiri akan memperlihatkan kepada si
pembacanya sebuah kebenaran obyektif ilmiah. "Siapapun yang menafsirkan
alQuran berdasarkan pemikirannya sendiri (ra'yu), maka sungguh ia akan
tergelincir kepada kesimpulan yang sesat, dan siapapun yang menafsirkan
alQuran itu berdasarkan 'kata perkata'-nya semata (lapdzi), juga akan
terperosok pada kesimpulan yang keliru, karena sesungguhnya alQuran itu
sebagai kumpulan ayat dan surat saling menafsirkan satu sama lainnya,
dan saling menjelaskan antara ayat yang satu dengan ayat lainnya, baik
antarayat dalam satu surat maupun antarayat dalam berbagai surat".
dst..........