JANGAN SEDIH KARENA DIMISKINKAN 

(Jangan salahkan Allah terus dong...)


  Saya gak yakin kalau kemiskinan dan kekayaan manusia itu berhubungan dengan 
Allah atau atas kemauan NYA, apakah keterpurukan ekonomi seseorang itu adalah 
cara Allah utk mengingatkan manusia utk ingat kepada NYA? I dont think so .

  Banyak sekali yg menganggap bahwa Allah itu berperasaan seperti manusia, 
punya emosi (kamarahan, kegembiraan, tukang uji mental manusia, kebencian dll), 
bila kita menganggap sifat2 Allah seperti itu tidak heran kalau ada yg 
menganggap tsunami atau  musibah alam lain nya krn kemarahan Allah, atau, 
membenci pelacur, membenci penganut agama lain karena menganggap itu agama dan 
orang2 yg dibenci Allah, atau lagi kehancuran Indonesia karena cobaan Allah, 
membangun tempat2 ibadah yg megah karena utk menyenangkan Allah.....ya susah 
dong kalau punya pendapat begitu, bagi saya Tuhan alias Allah adalah 
kesempurnaan yg langgeng, flawless, Allah adalah spiritual yg tidak pernah 
berubah, tidak bergerak, dan tidak ada kemauan/kebutuhan spt manusia hewan dan 
kehidupan lainnya di dunia.

  Manusia itu kan sudah diprogram dengan segala attachment nya, termasuk otak, 
disinilah pusat mesin manusia utk membawa jasmani nya akan dibawa kemana, kalau 
memang kita punya hoby buruk berjudi atau berzina, nah fungsi otak ini yg 
bertugas kasih informasi, kalau otaknya berfungsi tentu si org kaya ini akan 
tau akibat2 dari perbuatan nya akan mengakibatkan kebangkrutan, bukan krn Allah 
memang sengaja membangkrutkan si org kaya ini supaya ingat sama Allah....ihhhh 
Allah ini pasti cemburuan ya. (kidding).

  Lalu pasti kamu pikir Indonesia bangkrut habis2an karena Allah juga dong ? 
supaya pemerintah dan rakyat nya menjadi ingat dan bertaqwa padaNYA? aduuh 
kasian Allah ini disalahin mulu sama umatnya, tapi Allah maha sabar ya, 
buktinya biar dijadikan kambing hitam oleh para politikus agama, para koruptor 
yg tidak malu2 berbuat jahat didepan NYA, para manusia yg seenak jidatnya 
membunuhi umat lain, Allah masih saja diam tidak bergerak, kalau saya jadi 
Allah itu para koruptor dan para pelanggar HAM udah saya cekek sampe semaput, 
itulah bukti bahwa Allah tidak se wenang2, tidak berpihak, tidak merubah apa2, 
kita manusia yg bertanggung jawab atas semua sikap dan tindakan kita.
   
  Ok dokie ?
   
  salam'
  omie
   


SUHANA:

   Aku senang memperhatikan banyak kejadian peristiwa2 yg terjadi pada diri 
sendiri, keluarga maupun lingkungan orang2 yg berada disekitarku. Yang menarik 
hatiku adalah pada saat seseorang ditimpa kejadian buruk, jarang sekali orang 
mengambil hikmah bahwa ternyata itu terbaik untuk dirinya dari Allah, karena 
Allah mengasihinya.

Contoh satu kasus yaitu berapa banyak orang2 kaya dan konglomerat yg tiba2 
bangkrut dan habis semua harta bendanya, kemudian menyalahkan semua orang yg 
berada disekitarnya, ataupun frustasi dan melakukan tindakan2 bodoh yg 
mendzolimi dirinya maupun orang lain. 

hmm..ada beberapa kasus, dimana saat kejayaannya dan saat hartanya berlimpah, 
orang tsb selalu saja melakukan tindakan2 maksiat yg menimbulkan dosa2 besar 
spt berjudi, berzina, mabuk2an, berkumpul dengan orang2 yg tidak baik, lupa 
kewajiban dirinya terhadap Tuhannya maupun keluarganya dlsbnya. Tanpa ada 
satupun orang disekitarnya yg mampu melarang perbuatannya, dengan alasan takut, 
tidak enak atau maupun HAM.

Namun suatu saat jatuh miskin karena bangkrut semua usahanya, hingga tidak lagi 
mampu berjudi, berzina, mabuk2an dan berfoya2 dengan orang2 yg tidak baik, 
karena untuk lakukan itu semua memerlukan biaya yg tidak sedikit. Kemiskinannya 
tsb pun dikarenakan hartanya dihabiskan untuk melakukan perbuatan2 buruknya 
selama ini.

Hmm..andai diambil hikmahnya dari kejadian itu semua, maka akan ditemukan 
bentuk kasih sayang Allah kepadanya melalui kebangkrutannya tersebut. Dengan 
kemiskinannya saat ini, orang tsb tidak lagi mampu melakukan perbuatan2 maksiat 
yg menimbulkan dosa2 besar yg dilarang oleh Allah dan RasulNya. Dan jika 
dibiarkan oleh Allah terus menerus dengan kemewahannya, maka akan berapa lama 
dan banyak lagi orang tersebut melakukan dosa2 besar dengan harta kekayaannya 
yg diamanatkan oleh Allah kepada-Nya. Dan pada saat orang2 lain disekitarnya 
tidak lagi mampu untuk mengingatkan dan menegur perbuatannya, maka melalui 
jalan kesenangannya yg selama ini dilakukan oleh orang tsb, karena rasa kasih 
sayang Allah kepada hamba itu, yg kemudian mengambil semua kekayaannya yg sudah 
menyebabkan dirinya jauh dari Allah dan jauh dari orang2 sekitarnya yg 
menyayanginya, agar kembali kepadaNya dan kepada keluarganya yg selama ini 
dilupakannya.

Hmm..sadarkah..jika ternyata Allah masih menyayanginya dan masih memberi 
kesempatan padanya untuk kembali mengingatNya dan meninggalkan semua perbuatan 
buruknya dan meninggalkan dosa2 besar yg selama ini dilakukan olehnya. 
Sadarkah..jika Allah sudah menghalangi dirinya untuk terus melakukan dosa2 
besar yg selama ini dilakukannya?sadarkah dia..jika Allah tidak inginkan 
hambaNya tsb, untuk terus melakukan dosa2 besar yg sudah dilarangNya..?sadarkah 
dia..jika Allah sangat inginkan kebaikan pada diri hambaNya tersebut?sadarkah 
dia..jika Allah inginkan hambaNya tersebut untuk kembali mengingatNya? Namun 
sayang..banyak sekali mereka yg tidak sadar akan kasih sayang Allah, banyak 
sekali diantara mereka yg justru mengumpat dan mencaci maki dan menyalahkan 
Allah karena kemiskinannya tsb.

Benarlah ungkapan Rasulullah dalam hadist qudsynya, “bahwa tidak ada satupun yg 
lebih sabar kecuali Allah semata. Dia tidak marah pada orang2 yg tidak mau 
menyembah padaNya, dan Dia tetap memberikan rizky kepada orang2 yg 
mengingkariNya.”


hmm..kira2 apa yg akan terjadi, andai orang tersebut tidak menyadari kasih 
sayang Allah tsb?? apakah Allah akan menghancurkannya sehancur2nya, ataukah 
kembali dengan kesabaran dan kasih sayangNya??wallahu a'lam bisowab..


Jika harta kekayaan merupakan ukuran kemuliaan, maka sesungguhnya Allah akan 
membuat kaya semua Nabi dan Rasul2 yg diutus olehNya. Sesungguhnya yg paling 
mulia di sisi Allah diantara hamba2Nya, adalah yg paling bertaqwa kepadaNya. 

Wallahu a’lam bisowab,
Kamis, 12 Juli 2007
By
hana

Kirim email ke