*Sebetulnya cukup dengan KEMANUSIAAN saja mestinya sudah bisa mencegah
setiap efek yang ditimbulkan oleh para penganut faham ideologi pikiran
sempit.*
*Saya tidak ngerti bagaimana manusia bisa punya faham beragama tapi
mengesampingkan KEMANUSIAAN yang sederajat. Salah satu fungsi hubungan
transenden kepada Sang Khalik adalah tidak mudah melakukan hal yang
destruktif, sebaliknya justru seharusnya memiliki spirit untuk berpikir
positif dan konstruktif, memperbaiki yang kurang baik dengan cara baik-baik
sembari tetap melakukan yang baik sebagai contoh dan teladan menuju kebaikan
semua makhluk. Setiap faham, aliran, bid'ah, ataupun anjuran yang tidak
memiliki alur yang demikian lebih baik dipangkas dari awal, artinya
ditingkat wacanapun harus sudah dilokalisir dan diisolir. Mekanismenya
bagaimana ? mari kita atur dan pikirkan bersama. ITU KALAU SEMUA SETUJU..!!!
*
**
*Wassalam.*


On 7/13/07, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   *REFLEKSI: Sayang sekali Keindonesiaan ketiduran untuk mencegah
terjadinya konflik di Garut, Tasyikmalaya  dan beitupun di Maluku, Poso
dsb.*
**
*KOMPAS*
*Jumat, 13 Juli 2007 *


*Keagamaan
Keindonesiaan dalam Agama Cegah Konflik*

**

*Jakarta, Kompas - Pengaruh berbagai faham keagamaan dari negara lain atau
transnasional yang diserap mentah- mentah dengan mengabaikan konteks
keindonesiaan rentan menimbulkan konflik dan disintegrasi bangsa. *

*"Faham keagamaan apa pun yang ada di Indonesia harus mampu menjadi modal
bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan," kata
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Kamis
(12/7). *

*Faham keagamaan transnasional, baik dalam Islam maupun Kristen, banyak
muncul di Indonesia sejak era reformasi. Kehadirannya tidak hanya
memengaruhi kehidupan beragama masyarakat, tetapi juga mewarnai sistem
politik dan keamanan Indonesia. *

*Simbiosis antara gerakan keagamaan dan gerakan politik memengaruhi
ideologi negara. "Pancasila tak lagi dijadikan satu-satunya asas dalam
membangun kehidupan berbangsa dan bernegara," ungkap Hasyim. Sejumlah faham
keagamaan justru mengampanyekan penghilangan batas-batas negara menjadi
sebuah sistem politik tunggal berbasis agama. *

*Secara terpisah, Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif
mengatakan, pengaruh faham keagamaan transnasional dalam kehidupan
masyarakat sebenarnya terbatas. Penanaman faham baru yang dipaksakan dengan
memandang rendah kultur lokal yang ada membuat apresiasi masyarakat terhadap
faham baru tersebut juga rendah. *

*Meskipun jumlah penganut faham keagamaan transnasional terbatas, mereka
mampu memengaruhi wacana politik bangsa dengan kevokalan dan artikulasi
mereka menyuarakan ide-idenya. Kemampuan mereka menguasai simbol-simbol
keagamaan membuat pengaruh mereka kepada elite politik sangat tinggi. *

*"Kuatnya suara mereka membuat seolah-olah suara mereka merepresentasikan
suara mayoritas masyarakat," kata Yudi. *

*(MZW) *

Kirim email ke