Tulisan ini juga disajikan dalam website

http://perso.club-internet.fr/kontak)



Catatan A. Umar Said







13 juta anak kelaparan &

100 juta orang miskin !



Di tengah-tengah banjirnya berita-berita tentang korupsi di negeri kita,
yang di antaranya ada yang meliputi jumlah sampai triliunan atau ratusan
miliar Rupiah, dan banyaknya kasus penyelewengan atau penyalahgunaan
kekuasaan di kalangan tokoh-tokoh eksekutif, legislatif, judikatif,
partai-partai politik, pengusaha-pengusaha besar dll dll, maka ada berita
yang bisa membikin banyak orang kaget, atau marah, atau tercengang. Berita
ini adalah  yang menyatakan bahwa 13 juta anak-anak Indonesia menderita
kelaparan karena kekurangan makanan !!!. (tanda seru tiga kali)



Menurut harian Suara Pembaruan tanggal 11 Juli 2007,  Badan Dunia yang
menangani masalah pangan, World Food Programme (WFP) memperkirakan, anak
Indonesia yang menderita kelaparan akibat kekurangan pangan saat ini
berjumlah 13 juta orang. Direktur Regional Asia WFP, Anthony Banbury,
mengatakan bahwa anak-anak yang kelaparan itu tersebar di berbagai tempat di
Tanah Air khususnya di tiga kawasan, yakni perkotaan, daerah konflik, dan
daerah rawan bencana.



Ketika membaca berita yang macam ini, sungguh, wajarlah kiranya kalau banyak
orang  bertanya dengan berang dan teriak keras: “Mengapa bisa terjadi yang
begini ini di negeri kita yang dikatakan orang  sebagai negeri kaya ?” Dan,
juga, sepatutnyalah kalau ada orang-orang yang mengatakan bahwa adanya 13
juta anak-anak Indonesia yang kelaparan itu membikin kita semua
bertanya-tanya : apa sajakah  yang tidak beres di negara kita? Dan
siapa-siapa sajakah yang bersalah dan harus bertanggungjawab?



Kelaparan dan kemiskinan


Banyaknya anak-anak yang kelaparan (mohon diperhatikan: 13 juta anak itu
tidak sedikit!) agaknya mengharuskan kita semua untuk peduli atau peka-rasa
terhadap keadaan yang menyedihkan bangsa ini. Sebab, anak-anak yang
kelaparan itu pada umumnya juga mengalami berbagai macam penderitaaan
lainnya lagi yang menyedihkan. Kalau untuk makan saja sudah kekurangan, maka
tentu saja, akan lebih sulit lagi untuk mendapatkan lain-lainnya untuk bisa
hidup biasa. Anak-anak ini,  biasanya  kemudian menderita kurang gizi,
kurang vitamin, mudah kejangkitan penyakit, sulit sekolah, tidak bisa
belajar baik, tidak bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya dll dll.
Jelaslah bahwa berbagai akibat amat negatif ini merupakan kerugian besar
bagi generasi bangsa yang akan datang.

Apalagi, keadaan negara dan bangsa kita yang menyedihkan dengan adanya
kelaparan anak-anak yang begitu besar jumlahnya itu diperburuk lagi oleh
besarnya jumlah penduduk yang miskin di Indonesia. Badan Pusat Statistik
(BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2007 sebanyak 37,17 juta
jiwa. Bagi kalangan pengamat, data kemiskinan BPS ini bertentangan dengan
realitas (Media Indonesia, 4 Juli 2007).

Sedangkan menurut laporan Australia-Indonesia Partnership (Juli 2004) “Lebih
dari separuh penduduk Indonesia yang berjumlah 210 juta rawan terhadap
kemiskinan. Pada tahun 2002, Bank Dunia memperkirakan 53% penduduk atau
sekitar 111 juta jiwa, hidup di bawah garis kemiskinan standar internasional
yaitu US$ 2 per hari. Kemiskinan bukan hanya sekedar masalah pendapatan dan
pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak memadai. Banyak penduduk
miskin dan kurang mampu belum memiliki akses ke pendidikan dasar, pelayanan
kesehatan dan gizi yang cukup. Sekitar 25 juta penduduk Indonesia buta
huruf. Hampir 50 juta jiwa menderita gangguan kesehatan, sementara jumlah
yang sama tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan. Banyak komunitas
tidak memiliki infrastruktur dasar yang memadai seperti penyediaan air
bersih, sanitasi, transportasi, jalan raya dan listrik. Persepsi bias
terhadap perempuan masih berlaku, sementara konflik sosial dan agama serta
bencana alam telah menyebabkan jutaan penduduk mengungsi dan terjerumus ke
lembah kemiskinan atau sangat rawan akan kemiskinan” (kutipan laporan
selesai).

Terburuk dalam 36 tahun terakhir!

Keadaan negara yang sangat buruk dewasa ini juga telah dipaparkan oleh Bomer
Pasaribu, Wakil Ketua Badan Legislasi DPR   sebagai berikut : « Kondisi
masyarakat Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 36 tahun
terakhir. Hal itu dilihat dari melonjaknya angka kemiskinan serta meledaknya
angka pengangguran, yang bila tak segera diatasi akan menjadi masalah besar
bangsa, » katanya dalam makalah yang disampaikan pada Sosialisasi Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 di Medan,  Dia mengatakan,
seiring dengan melonjaknya angka kemiskinan, angka pengangguran juga makin
meledak. Tahun 2004, pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 9,7 persen,
sementara tahun 2005 meningkat menjadi 10,3 persen.

"Akibat parahnya kesulitan ekonomi, pengangguran diperkirakan meningkat
menjadi 11,1 persen tahun 2006. Bila ditotal dengan seluruh jenis
pengangguran di Indonesia tahun 2006 diperkirakan mencapai 41 persen atau
lebih dari 40 juta orang," katanya. (Antara News, 7 Juli 2007)

Dengan melihat angka-angka 13 juta anak-anak kelaparan,  dan lebih dari 100
juta orang hidup dengan kurang dari $ 2 sehari, serta sekitar 40 juta orang
menganggur, maka jelas bahwa kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini adalah
buruk sekali, bahkan yang terburuk dalam 36 tahun terakhir !

Perlu gerakan moral untuk “membrontak”!

Mengingat keadaan yang sangat menyedihkan demikian ini, maka terasa perlu
sekali adanya gerakan moral yang dilancarkan oleh sebanyak mungkin kalangan
dan golongan untuk menyuarakan  -- secara lantang dan sesering mungkin ! --
kemarahan atau protes kita. Gerakan moral yang seyogianya didukung oleh
segala macam bentuk kegiatan ini bisa dilakukan oleh partai-partai politik,
dan segala macam ormas dan ornop, serta kelompok dan golongan dalam
masyarakat luas. Partisipasi aktif kaum buruh, tani, pemuda, mahasiswa,
perempuan, kaum miskin kota, amat penting dalam gerakan moral ini.

Juga, dalam gerakan moral ini, para intelektual, seniman,  sastrawan,
wartawan, penyair, pelukis, artis, perlu didorong untuk “membrontak” dengan
berbagai cara dan bentuk terhadap keadaan yang menyedihkan ini.
Artikel-artikel ilmiah perlu dibuat, segala macam tulisan perlu dikarang,
lagu-lagu perlu digubah, ceramah dan seminar perlu diadakan, segala macam
pertemuan perlu diselenggarakan, untuk menyalurkan protes, dan sekaligus
membangkitkan semangat perlawanan dan menggugah keberanian untuk mengubah
keadaan.

Gerakan moral semacam ini akan bisa merupakan jalan atau cara meningkatkan
kesedaran bersama untuk melakukan segala macam perlawanan terhadap kelaparan
anak-anak, terhadap kemiskinan yang menimpa begitu banyak penduduk dan
terhadap pengangguran yang menganga begitu lebar itu. Seringnya diangkat
terus masalah-masalah ini, dalam berbagai bentuk dan cara, oleh sebanyak
mungkin kalangan dan golongan juga bisa merupakan “peringatan” bagi para
penguasa dan “tokoh-tokoh” di berbagai lembaga pemerintahan dan masyarakat
bahwa bangsa dan negara kita sedang menghadapi problem-problem yang cukup
dahsyat dan mengerikan.

Gerakan melawan korupsi sebagai partner

Gerakan moral untuk melawan kelaparan anak-anak, kemiskinan, dan
pengangguran, yang didukung oleh berbagai macam kelompok dan golongan dalam
masyarakat ini bisa menjadi sekutu atau kawan seiring dengan gerakan moral
melawan korupsi, yang juga merupakan penyakit parah bangsa kita. Sebab,
korupsi juga merupakan bagian dari sebab-sebab berbagai masalah yang
diderita rakyat. Oleh karena itu, dalam kedua macam gerakan moral tersebut
seyogianya semua fihak berusaha saling membantu, saling mendukung, saling
mendorong, dengan menjauhi persaingan yang tidak sehat atau permusuhan yang
tidak menguntungkan kepentingan bersama.

Mengingat besarnya dan luasnya berbagai masalah-masalah parah tersebut, maka
alangkah baiknya kalau dalam gerakan moral ini tidak banyak dipersoalkan
ideologi, atau aliran dan faham politik, atau agama dan keyakinan. Baik
golongan Islam, maupun Katolik atau Protestan,  baik yang Hindu maupun Buda,
atau baik yang nasionalis maupun yang kiri, semuanya perlu didukung atau
dibantu kegiatan mereka, asal terbukti tulus, jujur, bersih dan
sungguh-sungguh untuk melawan kelaparan, kemiskinan dan pengangguran.

Gerakan moral melawan berbagai ketimpangan sosial yang serius ini, bisa juga
merupakan kritik terhadap kebejatan moral – terutama di kalangan elite dan
“tokoh-tokoh” – yang korup, dan tega hidup foya-foya dengan mewah
berlebih-lebihan, ketika sebagian besar rakyat kita dalam kesusahan yang
penuh derita. Sebab, sikap mental sebagian besar “kalangan atas” masyarakat
Indonesia terhadap kehidupan rakyat banyak pada umumnya adalah sangat buruk,
bahkan sangat banyak yang  tidak peduli sama sekali. Banyak di antara mereka
yang sudah menjadi pengkhianat kepentingan rakyat. Mereka inilah yang harus
dikritik, atau dihujat, dan dijadikan salah satu di antara sasaran gerakan.

Apa sajakah sebabnya dan siapakah yang salah?

Selain itu, diangkatnya sering-sering berbagai masalah besar tersebut di
tengah-tengah masyarakat merupakan juga pendidikan politik bagi orang
banyak. Sebab, dalam mempersoalkan kelaparan jutaan anak-anak, atau
kemiskinan yang besar-besaran, atau pengangguran yang luas, atau korupsi
yang merajalela, agaknya terpaksalah akhirnya mempertanyakan apa-apa sajakah
sebab-sebabnya, atau apa sajakah atau siapakah yang salah dan bagaimanakah
kiranya mengatasinya atau mengubahnya.

Pandangan kritis atau yang mempertanyakan itu semuanya, yang diajukan oleh
banyak orang,  akan memungkinkan tumbuhnya kesadaran tentang perlunya
solidaritas dalam perjuangan untuk melawan musuh yang sama juga, yaitu yang
berupa kesenjangan sosial yang sangat parah.. Kesadaran kolektif ini
kemudian bisa meningkat ke tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu pengenalan
yang lebih baik terhadap sebab-sebab segala masalah besar tersebut.

Ketika berbagai masalah besar yang menyedihkan  tersebut diatas diangkat dan
ditelaah dalam-dalam, maka akan nampak dengan jelaslah bahwa berbagai
akarnya  itu terletak dalam sistem pemerintahan, dan politik, dan
pengelolaan negara, (dan juga faktor manusianya!)  yang sudah disandang
sejak lama, yaitu sejak Orde Baru yang diteruskan oleh berbagai pemerintahan
sesudahnya, sampai sekarang. Jadi, masalah-masalah besar itu adalah penyakit
yang sudah kronis selama puluhan tahun, yang tidak dapat diatasi oleh
pemerintahan yang sudah berganti-ganti, tetapi yang pada pokoknya tetap
menjalankan politik yang sama atau itu-itu juga.

Karena selama 32 tahun Orde Baru tidak bisa diadakan perubahan-perubahan
radikal dalam kehidupan rakyat, demikian juga halnya selama pemerintahan
yang berganti-ganti sesudahnya, maka kemungkinan untuk adanya
perubahan-perubahan besar di kemudian hari juga tetap tipis sekali, kalau
sistem kekuasaan politik yang lama masih diteruskan. Perubahan besar atau
radikal atas nasib rakyat hanya bisa terjadi kalau ada perubahan radikal
dalam kekuasaan politik, yang memungkinkan dilaksanakannya
perubahan-perubahan besar yang menguntungkan kepentingan rakyat banyak.

Jadi, berdasarkan pengalaman 32 tahun Orde Baru ditambah sekitar 10 tahun
pasca-Suharto bisalah kiranya diramalkan bahwa jumlah anak-anak yang
kelaparan, dan jumlah penduduk miskin serta pengangguran akan tetap besar di
kemudian hari, selama berbagai politik pemerintahan tidak dirobah secara
radikal, dan diganti dengan yang betul-betul mengabdi kepada kepentingan
rakyat banyak.

Salah besar, kalau “nrimo” saja !

Bahwa 62 tahun sesudah diproklamasikannya kemerdekaan negara kita,  sekarang
ini masih terdapat  13 juta anak-anak yang kelaparan, dan lebih dari 100
juta orang masih miskin, serta sekitar 40 juta orang tidak punya pekerjaan
tetap,  adalah suatu hal yang keterlaluan !!!  Oleh karena itu, sudah
sepantasnyalah kalau kita menyuarakan kemarahan dan menghujat berbagai
politik pemerintahan yang menyebabkan lahirnya masalah-masalah besar yang
menyengsarakan begitu banyak orang,  dan dalam jangka waktu lama pula.

Adalah kuajiban kita semua yang luhur, dan juga hak kita semua yang sah dan
adil,  untuk bersama-sama memperjuangkan terberantasnya berbagai masalah
besar tersebut di atas, sambil mengajak berbagai kalangan mana pun dan
golongan apa pun untuk bangkit mengusahakan terjadinya perubahan sistem
politik dan pemerintahan, dan menjadikannya betul-betul pro-rakyat.

Agaknya, perlu menjadi kesadaran kita bersama bahwa keadaan negara dan
rakyat yang begitu menyedihkan dewasa ini sama sekali bukanlah takdir Ilahi,
dan bahwa kelaparan jutaan anak-anak serta kemiskinan 100 juta orang lebih
atau  pengangguran  40 juta orang bukanlah pula kehendak Tuhan. Adalah tugas
bersama kita semua untuk merubah keadaan yang menyengsarakan rakyat banyak
itu. Dan adalah salah sama sekali kalau kita bersikap “nrimo” saja.

Hanya melalui jalan dan cara itulah  maka masyarakat adil dan makmur -- yang
dicita-citakan rakyat Indonesia bersama dengan Bung Karno -- akan dapat
dicapai. Pengalaman berbagai negeri di Amerika Latin (antara lain Venezuela
dan  Bolivia) memberikan contoh yang menarik, tentang pentingnya perubahan
kekuasaan politik guna mengadakan perubahan fundamental demi kepentingan
rakyat banyak. Dan bukannya dengan cara-cara Orde Baru beserta berbagai
pemerintahan yang menggantikannya.

Juga,  pengalaman kita bersama selama puluhan tahun membuktikan dengan jelas
sekali, bahwa hanya melalui perubahan sistem kekuasaan politik yang
betul-betul pro-rakyatlah kita akan bisa menciptakan masyarakat  adil dan
makmur, sehingga bisa mentrapkan  Pancasila secara nyata (dan menurut
jiwanya yang asli, dan bukannya Pancasila palsu à la Orde Baru) dan
sungguh-sungguh menjunjung tinggi-tinggi Bhinneka Tunggal Ika.

Paris, 15 Juli



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.10.6/900 - Release Date: 14/07/2007
15:36

Kirim email ke