From: zebaoth_jehova99 [EMAIL PROTECTED]:
Catatan Perjalanan: Dongeng dari Jepang
Oleh : Yuli Setyo Indartono
Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun
berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang
mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski
Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan
universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air
tercinta. Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan
beberapa kawan dekat kami di Jepang.
Kantor pemerintahan dan pelayanan public
Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor
pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi
membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai
kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam
"semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang:
jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus.
Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu
sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor
yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai
pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat;
semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan
ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi
lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.
Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang
sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius
utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan
saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para
"semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah
di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi
sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda
dengan profesi yang lain.
Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas
dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus
mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat.
Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan.
Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda
melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda
tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak
hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak.
Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya percaya
bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran. Sistem berlandaskan
kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.
Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa
Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus
berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal
ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda
masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus
ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the
small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk
orang-orang yang kurang beruntung.
Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang.
Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk
menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah,
di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor
tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya
harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah
ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi
tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen
pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan
yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di
Jepang.
Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat
terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat.
Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan
pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di
negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai
untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang
bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya
sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut.
Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari
rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip
tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang
bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan
tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta
maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal
menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa
petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam
bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di negara ini.
Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan
sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk
kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di
Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak
memiliki niat bekerja". Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari
saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di
kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf
kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini
berarti, mereka semua memiliki niat bekerja -versi Jepang.
Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian
Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah;
favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa
ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa
buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami
hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan
menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan
kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami
mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal.
Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi
kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli
oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah
prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat
dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.
Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang
kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip
pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang).
Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu.
Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum
dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk
pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang.
Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa
menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.
Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan"
anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke
lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan
anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian
tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang
tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah
untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini
adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar
istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan
anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak
apa-apa).
Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah
konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang.
Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak
sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda
hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan
anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa
jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka
berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru
sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka
selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas
yang menjelaskan spesifikasi computer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat
anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang
anda beli.
Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi
Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi
melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan
dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula
polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak
Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah
satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya
jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila
saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan
bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota
di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks
besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman.
Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah
saya melihat ada diantaranya yang
berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang
sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang
serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa
polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision
maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot
dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan
patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan
mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.
Lingkungan hidup dan transportasi
Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir
separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi
oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat
saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan
melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah
penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di
mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan
tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda
akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas
manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah
anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan
sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja.
Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka
miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas
kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar
ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa
well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim;
seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan
menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan
kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu
dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang
mempersiapkan dialog dengan dokternya.
Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta
(lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar
wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak
perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal
di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan
shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di
Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas
kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan
shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi
udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu
sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi
pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.
Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak
sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah
disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambing pejalan kaki berubah warna
menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu
menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di
Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hamper terserempet
motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.
Kesehatan dan rumah sakit
Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu
memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe
University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali.
Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah.
Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program
asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30%
dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan
mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%)
dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi
asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan.
Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah
saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi
yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal
kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan
lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan
membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan
perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi – apalagi untuk kami
yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan
perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama
sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya.
Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di
Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di
Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank,
dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan
kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah
kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya;
selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari
Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua
bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.
--------------------------------------------------------------------------------
Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School of Science and
Technology, Kobe University, Japan. Peneliti Istecs dan Ketua Teknologi Energi
INDENI www.indeni.org. E-mail: [EMAIL PROTECTED] com
____________________________________________________________________________________Ready
for the edge of your seat?
Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.
http://tv.yahoo.com/