Di post sebagai jurnal di : http://dbaonk.multiply.com/journal/item/103
Kalau diberi kesempatan memilih makan di luar, tempat mana yang dituju? Fast Food ala Fried Chicken, Warteg atau Rumah Makan Padang? Kalau saya sih ngikut aja. Yang bayar situ kan..? *** Meski paham "membela yang bayar" menuntun saya untuk ikut saja apa pilihan yang bayarin. Tapi kalau bicara soal selera saya lebih milih warteg ketimbang resto fasfood ala friedchicken. Iya.. ndeso. Lha gimana lagi, memang variasi hidangan di warteg jauh lebih klop buat lidah saya ketimbang daftar menu fastfood je... Begitupula kalau dibanding dengan RM Padang, maap-maap aja, teteup resto fast food akan berada di urutan terbawah dalam hirarki tempat makan yang saya pilih untuk dikunjungi. Hanya karena faktor lebih muahal saja, maka RM Padang mesti tergeser ke urutan kedua dalam chart tujuan wisata memamah biak saya. Bicara soal selain selera, misal pelayanan, sebagai konsumen saya tetep lebih sebel makan di resto fastfood friedchicken. Sudah pula, saat kita pengen cuci tangan (sebelum & sesudah makan) disuruh pergi ke wastafel sendiri, mau makannya disuruh ngambil sendiri, eh.. nggak dikasih sendok pula. *Kebangetan* Beda dengan makan di warung tradisionil ala tegal atau padang, kita bisa leha-leha duduk di kursi, tinggal tunjuk kiri-kanan kayak demang, dan makanan, kobokan (cucian tangan) sampe selembar tissue aja bisa kita peroleh tanpa perlu beranjak dari kursi. Bahkan mau bayar pun bisa dilakukan di kursi. *ini kalo jadi tebakan : apa yang makan di kursi, minum di kursi, cuci tangan di kursi.. orang lumpuh? bukan... makan di warung tegal :D* Terkesan sisa jiwa feodal masih membara ya? Biarin.. Namanya konsumen ya pengen pelayanan yang maksimal dong. *** Meskipun dari segi-segi kenikmatan konsumen warteg dan rm padang terlihat pointnya jauh meninggalkan si resto fastfood fried chicken-an, tetapi kalau iseng ngulik-ngulik sisi lain resto F3C ini, saya suka satu pola yang rasanya jadi kelebihan lain dibanding warteg dan rm padang. Kalau anda mengira yang saya bicarakan soal prestise, atau cita rasa luar nagri atau hal-hal yang terkait dengan experince atau life style, saya persilahkan anda termenung sejenak. *berjenak-jenak juga bole si... bebas wae lah..* Kenapa? Soalnya yang saya bicarakan justru hal yang agak dalem dan prinsipil, nyaeta urusan kenyamanan hati terkait dengan perkara ibadah. Halal-Haram? Nyerempet, tapi gak tepat soal itu. Pola yang saya maksud adalah pola yang diberlakukan manajemen fastfood dimana konsumen diminta membayar di muka, baru kemudian diperbolehkan menyantap hidangan yang dibelinya. Dari segi itung-itungan dagang, kita bisa berbaik sangka dengan curigai hal tersebut memang diberlakukan semata karena tujuan profit dari produsen. Jangan sampe orang makan ga bayar, kelupaan, darmaji -dahar lima ngaku hiji (makan lima ngaku satu), pura-pura joging keliling meja lalu meluas ke luar restoran dan akhirnya pulang kerumah, nyemplungin kecoa dalem mangkok setelah perut terisi, atau hal-hal sejenis yang pada pokoknya adalah : mencegah kondisi dimana hal-hal tidak diinginkan terjadi dan produk yang terlanjur keluar dari dapur produsen lalu tidak dibayar. Hal-hal tidak diinginkan ini termasuk diantaranya : ada cicak ngejar kecoa lompat ke meja, kucing ngejar cicak ikut ngacak-ngacak piring, sementara kecoanya ngumpet masuk ke mangkuk sop, cicaknya nyelip di balik lauk, orangnya kaget nendang meja, piring mental ke lampu, lampu korslet, sinyal listriknya bikin pesawat terbang avioniknya terganggu, jatuh nimpa restoran, kebakaran besar, kompor mleduk, guncangannya menggeser lempengan bumi, bumi terbelah, bangunan ambruk, lalu masih ditambah lagi restioran malang itu ketiban sampur kedatangan teroris nyasar yang masih tega nyalain bom, dan... di saat itu anda sebagai pemilik restoran baru sadar makanan yang sudah ngga jelas kemana rimbanya itu ternyata belum dibayarrr. Hancur mina. Tetapi kalau kita balik pola berpikirnya, pola membayar dahulu (ngga pake kala) ini, sebetulnya memberikan keamanan yang sama pada sisi konsumen. Anda mau memakan makanan yang nggak dibayar? Yang jadi tidak jelas halal-haramnya? Okelah kita bilang bahwa rentetan kejadian yang di atas itu agak-agak mustahil untuk terjadi. Tapi mungkin dong, kalau anda makan di warteg pinggir jalan lalu diganggu kucing yang berkeliaran? Sebagai orang baek hati, wajar kalau anda menyisihkan sebagian rejeki dan melemparkan sisa lauk pindang di piring anda pada si kucing. Mengingat anda baru makan, dan tenaga baru terisi , wajar pula kalau lemparannya jadi terlalu kuat, sampai mampir di jalan. Bukan hal aneh pula mengingat kondisi masyarakat Indonesia, kalau supir truk yang lewat nggak mau nabrak kucing dan memilih menabrakkan truknya ke warteg tempat anda makan. Dan sangat masuk akal bukan kalau tabrakan itu menyebabkan warteg ringsek, kebakaran dan meledakkan pompa bensin eceran di sebelahnya? Kalau sudah begitu, masak anda lupa Indonesia ini sedang trend ketimpa musibah? Jadi nggak anehlah, kalau ledakan besar itu menyebabkan retakan di permukaan tanah, lalu meluapkan lumpur di dalam bumi ini sehingga warteg kesayangan anda dengan cepat tenggelam di dalamnya. Nah, katakanlah anda dan si pemilik warteg ternyata dua sejoli yang sangat beruntung, sehingga peristiwa heboh itu tidak membuat anda terluka secuil pun, dan tetap sehat walafiat, nyawa selamat. Tapi anda bisa menangis tersedu-sedu, kalau sebegitupun beruntungnya anda, ternyata si pemilik warteg yang tak tahan lagi didera penderitaan ibukota lalu memutuskan pulang kampung detik itu juga, dan meski anda ikut mengantarkan ke terminal terdekat, melambai-lambai dengan haru... tapi saat bis sudah berupa titik kecil dikejauhan, anda baru ingat... makanan anda belum dibayar. Di saat itu anda bisa bergumam, kalau saja si pemilik warteg ini mengadopsi manajemen fastfood dengan menerapkan pola membayar duluan, maka anda tidak akan terkena resiko telah memakan makanan tidak halal hanya karena belum dibayar. *** Berdasarkan betapa besarnya kemungkinan peristiwa di atas terjadi, maka rasanya kita perlu menelaah ulang pemikiran kita soal pola makan di fast food dan di warteg. Mungkin kita perlu mengusulkan ke asosiasi warteg sedunia di Den Haag untuk merombak pola manajemen umum di franchise warteg-warteg. Tapi berhubung kantor pusat asosiasi di Den Haag itu agak-agak sulit dicari, ada baiknya kita saja yang merubah pola makan-memakan kita. Bolehlah tetap membiasakan makan di warteg atau di RM padang, asalkan kita biasakan pula untuk membayar duluan. Atau anda bisa menjalankan pola yang jauh lebih aman seperti yang saya terapkan, Biarkan teman anda yang bayar... Sentaby, DBaonk ® 2007
