Yg ini sih analisisnya rada-2 asbun.Biasa,.. gosip politik kali :) Dari fakta yg ada,.. Indonesia sebetulnya tdk terlalu kekurangan produksi pilot. Yg terjadi adalah, banyak pilot Indonesia & tenaga ahli penerbangan lain (apalagi yg sdh senior),.. yg justru dibajak ke negeri jiran. Negeri jiran (apalagi yg berdekatan dg Indonesia),.. justru banyak yg kekurangan pilot. Bisa dicek deh berapa banyak pilot kita yg hengkang ke LN. Kalo banyak maskapai luar yg beroperasi di sini,... apalagi memberikan insentif yg bagus,.. saya yakin para pilot senior itu akan memilih pulang kampung. Rame dah,... banyak pilihan buat terbang aman dan murah nantinya,.. hehehe.
Ahyani/Bdg > Dibalik Pelarangan Uni Eropa > Operator Asing Mau Mengangkasa di Indonesia? > - gosip berpolitik > > *(*omestik. > > "Paling sial, nantinya formatnya kayak Air Asia," ujarnya lagi. > Air Air adalah operator penerbangan milik seorang pengusaha asal > Malaysia. Di Indonesia dia beroperasi dengan menggunakan lisensi > Awair (operator penerbangan yang dulunya sebagian sahamnya > disebut-sebut dimiliki Gus Dur). > > Beroperasinya operator asing ini pastinya bakal diikuti dengan > membanjirnya pilot-pilot dari negara jiran. Soalnya, pasokan di > dalam negeri sebenarnya tak mencukupi kebutuhan. Akibatnya, > operator tak jarang melanggar ketentuan yang ada. Menurut > peraturan, seorang pilot dalam satu hari hanya boleh terbang > selama 8 jam. Hari berikutnya jika tetap harus terbang, dia hanya > boleh terbang 50%-nya. Lalu, di hari ketiga, jika masih harus > terbang juga, masih boleh tapi hanya 25%. > > Sebagai ilustrasi, saat ini tak kurang ada 414 pesawat yang > beroperasi (termasuk operator carteran). Untuk penerbangan > komersial berjadual, idealnya satu pesawat membutuhkan lima sampai > tujuh set-crew (kapten dan kopilot). Jadi, bisa dibayangkan berapa > banyak pilot yang punya kualifikasi tertentu dibutuhkan. > > Pasokan pilot terbatas karena sekolah bagi pengemudi si burung > besi ini memang mahal. Biayanya tak kurang Rp 65 juta. Meski sudah > lulus, bukan berarti si pilot bisa langsung mengangkasa. Dia harus > melalui tahapan jam terbang tertentu untuk menerbangkan sebuah > tipe pesawat komersial tertentu. > > Sedangkan menyangkut pelarangan yang dikeluarkan pihak Arab Saudi, > banyak kalangan sependapat bahwa larangan itu punya motif bisnis. > Tepatnya, untuk mendapat jatah yang lebih besar dalam pengangkutan > jemaah haji Indonesia. Sebagai gambaran, jumlah jemaah asal > Indonesia mencapai lebih dari 200 ribu orang tiap tahunnya. > > Meski begitu, sumber berpolitik.com <http://berpolitik.com> > mengingatkan, dibalik isu-isu itu, publik sebaiknya jangan > melupakan satu hal: ada persoalan dalam manajemen pengelolaan > penerbangan di dalam negeri. Intinya, berbagai ketidakberesan, > ketidakbecusan dan kongkalingkong di kalangan birokrasi turut > memberikan andil terhadap menurunnya tingkat keselamatan > penerbangan nasional. > > Ia lantas mengingatkan, keluhan sejumlah operator mengenai > kualitas bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura. Meski > berkali-kali dikeluhkan, tapi tidak ada tindak lanjut oleh aparat > terkait. > > Nah, jika begitu, bukan tak mungkin ada kemungkinan pengelolaan > bandara juga bakal di"swastanisasi"kan. Ia lantas merujuk pada > penilaian FAA yang menyebut rendahnya jumlah pengawas di lapangan. > Bila pengelolaan bandara diswastanisasikan bukan tak mungkin > tenaga asing juga bakal didatangkan untuk mengatasi kekurangan > tenaga pengawas dengan kualifikasi tertentu. > > Wah, kok ujungnya asing lagi? Begitulah. bisnis padat modal ini > memang terlalu gurih untuk dibiarkan berlalu begitu saja.... > > ------------------------------------------------------------------------ > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.10.8/906 - Release Date: > 7/17/2007 6:30 PM > >
