KOMPAS
Sabtu, 28 Juli 2007

  
Merasa Bisa 


L Wilardjo 

Pada masa Orde Lama ada beberapa semboyan yang dipopulerkan Bung Karno. 
Misalnya, Vivere pericoloso (Hidup menyerempet-nyerempet bahaya). Juga, Ever 
onward, never retreat atau Maju terus, pantang mundur. Versi bahasa Jawanya 
ialah Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. 

Semboyan-semboyan itu khas Bung Karno sehingga menjadi semacam "penanda" 
beliau. Sekarang pun ada semboyan-semboyan penanda (taglines). Kota Semarang 
melontarkan semboyan "Semarang pesona Asia", sedangkan tagline SBY ialah 
"Bersama kita bisa!" 

Optimisme menyesatkan 

Klausa "Kita bisa" menunjukkan optimisme dan percaya-diri yang tinggi. Pede 
yang amat kuat juga ada pada para pendukung rencana pembangunan PLTN di 
Semenanjung Muria. Dr Ferhat Aziz, ahli nuklir di Batan, misalnya, mengatakan, 
PLTN itu aman sebab "pengamanannya berlapis-lapis." Lalu tambahnya, "Dijatuhi 
jet jumbo Boeing 747 pun tidak apa-apa." 

Benar, sistem pengamanan PLTN berlapis-lapis. Namun, jika pernyataan itu 
dimaksudkan untuk menyiratkan bahwa PLTN tak mungkin salah dan bermusibah 
(foolproof), itu menyesatkan. Tidak ada teknologi yang tidak berisiko 
dan-seperti dikatakan hukum Murphy-"Apa saja yang bisa ngadat, akan ngadat" 
(Anything that could go wrong, will). Makin kompleks teknologinya, makin besar 
risikonya. 

Maka teknologi canggih yang amat kompleks dan diterapkan dalam skala besar 
bersifat transcientific. Artinya, risikonya tak dapat diperhitungkan dengan 
tepat. Ilmu sudah tidak gadug. Gambaran rinci potensi masalahnya tak tergapai 
lagi oleh ilmu. PLTN (seperti juga teknologi-teknologi tinggi berskala besar 
lainnya) adalah transaintif. Ini bukan "isapan jempol" pegiat anti-PLTN, tetapi 
kata ahli fisika nuklir Amerika, Alvin Weinberg. Ahli fisika reaktor nuklir 
lain, Wolf Haefele (Austria), menyebutnya memiliki "hipotetikalitas", sedangkan 
ahli astrofisika dan fisika nuklir Jerman yang wafat beberapa waktu lalu, CF 
von Weizsaecker, memakai istilah endekhomai, artinya "sama sekali tak terduga" 
(contingent). Tak ada teknologiwan nuklir di negara mana pun yang berani 
menjamin bahwa PLTN itu mutlak aman. 

Kemampuan kungkungan reaktor PLTN untuk menahan hunjaman Boeing 747 juga patut 
diragukan. Pernyataan seorang pakar, seperti Dr Ferhat Aziz itu, tentu ada 
dasarnya, yakni teori atau simulasi dengan program komputer atau simulasi 
eksperimental, tetapi dengan skala jauh lebih kecil. 

Pernyataan itu belum-dan tak akan pernah-diuji secara empiris. Jika seandainya 
pernyataan itu benar, akan tahankah kungkungan itu jika diguncang gempa 
tektonik dengan kekuatan 7 atau lebih pada skala Richter? 

"Keampuhan" Kartini 

Ketika pada Mei tahun lalu terjadi gempa yang merusak Bantul, Yogya, Klaten, 
Kulonprogo, dan sebagainya, para pendukung PLTN menyombongkan fakta Reaktor 
Kartini di Yogyakarta tidak mengalami keretakan. Taruhlah itu benar. UIN Sunan 
Kalijaga yang terletak di sebelah barat reaktor di Babarsari itu rusak. Begitu 
pula Candi Prambanan di sebelah timur Kartini. Namun, bahwa Kartini selamat, 
itu hanya nasib baik. Kebetulan guncangan seismik tidak merambat dalam jalur 
yang melintasi Kartini. Para pendukung PLTN baru bisa membanggakan ketangguhan 
"Kartini" jika seluruh kompleks Batan di Babarsari rata tanah, sedangkan 
Kartini tetap berdiri tegar. 

Gempa di kawasan Niigata, Senin, 16 Juli 2007, yang "cuma" berkekuatan 6,8 pada 
skala Richter, ternyata mengakibatkan bocoran radioaktif dari PLTN 
Kashiwazaki-Kaniwa. PLTN besar itu harus ditutup sekurangnya selama setahun. 

"Ketangguhan" SDM 

Bencana alam lain, seperti banjir, longsor, dan badai, juga bisa mengancam 
PLTN. Bahkan Amerika Serikat, yang kemampuan memprediksi bencana alam unggul 
dan kepiawaiannya memitigasi akibat bencana amat baik, masih kalang kabut saat 
menghadapi musibah PLTN, seperti tahun 1979 di TMI (kesalahan sistem) dan di 
Turkey Point tahun 1992 (banjir akibat badai Andrew). 

Pengendalian kritikalitas reaksi fisi nuklir berantai dan penyingkiran bahang 
(heat) yang dibangkitkan dalam teras reaktor merupakan proses yang rumit. 
Praktis tak ada ruang bagi keraguan atau kekeliruan. Operator PLTN tak boleh 
lengah dan tak boleh salah. Bahkan jenjang terendah dari tingkat keseriusan 
masalah-yang disebut kejanggalan (anomaly)-dapat meningkat menjadi kecelakaan 
(accident) jika tidak langsung diatasi dengan cepat dan tepat. 

Setiap generasi fisi hanya memerlukan waktu 10 nanosekon (seperseratus juta 
detik). Padahal sebuah reaktor berkapasitas 1.400 MWe setiap generasi 
neutronnya membelah puluhan miliar triliun inti U-235, sambil "menciptakan" 
aneka radioisotop yang tak kurang dari jumlah itu, dan banyak di antaranya 
berumur amat panjang. Energi yang dilepaskan pun besar, setiap detik sekitar 
4,2 miliar joule. Namun, ini tentu bukan masalah bagi para pakar di Batan dan 
Departemen ESDM. Mereka merasa bisa mengatasi masalah apa pun. 

Migrasi plutonium 

Pernyataan Kepala Batan Hudi Hastowo di Padamu Negeri-nya Miing juga 
menyesatkan. Dikatakan, limbah PLTN yang mengandung plutonium dalam kemasan 
pengamanannya, jika bocor, perambatan plutoniumnya hanya 3,0 meter. Tak 
dijelaskan, 3,0 meter itu dalam waktu berapa lama dan kemasan pelindung macam 
apa yang dipakai. Juga tidak jelas, apakah itu prediksi teoretis atau fakta 
empiris. 

Di Maxey Fats, fasilitas pengelolaan limbah nuklir di AS yang menampung 
plutonium terbanyak di seluruh dunia dibandingkan fasilitas komersial lain, 
para pakar meramalkan plutonium itu hanya akan merembet setengah inci (1,27 cm) 
dalam waktu 24.000 tahun. Ternyata prediksi itu meleset dengan faktor satu 
juta. Hanya dalam 10 tahun, plutonium dalam limbah PLTN merambat sejauh 2 mil 
(kira-kira 3,2 km). Padahal plutonium itu radiotoksisitasnya "maut". 

Tak belajar 

Ada graffity di dinding dekat PLTN Gorleben-Jerman, "Die Menschen lernen nur 
aus Katastrophen. Schade!" (Orang hanya belajar dari malapetaka. Sayang, seribu 
sayang!) Coret-moret itu tidak tepat untuk orang Indonesia sebab kita tidak 
belajar dari musibah. Aneka musibah serupa terjadi dan terjadi berulang kali. 

Kebakaran (baca: pembakaran) hutan yang menyebarkan asap sampai ke negeri jiran 
terjadi setiap tahun. Kita sok pintar, gegabah, dan jumawa. Kata ungkapan Jawa, 
kita rumangsa bisa tetapi ora bisa rumangsa. Kita sok merasa bisa, tetapi tidak 
mau menyadari kekurangan. 

L Wilardjo Fisikawan, Etikawan di UKSW Salatiga  

Kirim email ke