http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007072701023215

      Jum'at, 27 Juli 2007 
     

      BURAS 
     
     
     

Kekuasaan 'Personalized'! 


       
      H.Bambang Eka Wijaya

      "KELUAR dari kasir Adipati kok cemberut?" tanya Jonaha. "Apa bantuan 
untuk organisasi kalian disunat staf keuangan?"

      "Bukan disunat staf!" jawab Makun. "Justru Adipati sendiri yang memangkas 
bantuan untuk organisasi kami! Di APBD Kadipaten per triwulan seharusnya 
dibayar 50 dinar, tapi oleh Adipati hanya disetujui 2,5 dinar!"

      "Mungkin Adipati tak suka pada organisasi kalian!" tukas Jonaha. "Di 
negeri kerajaan, kekuasaan Adipati atau pejabat-pejabat negara memang cenderung 
personalized--mempribadi--sehingga penyaluran anggaran juga, sekalipun APBD 
berdasar kesepakatan dengan Dewan Rakyat Kadipaten, Adipati tetap melihat 
anggaran itu seperti uang milik pribadinya saja! Penyalurannya bergantung pada 
suka atau tak suka sesuai dengan selera pribadi Adipati saja!"

      "Meski kerajaan, negeri kita kan monarki parlementer!" tegas Makun. 
"Adipati, setara menteri besar negara bagian, juga dipilih langsung oleh 
rakyat! APBD itu hasil pajak dari rakyat! Jadi tak layak Adipati memperlakukan 
uang rakyat itu seperti milik pribadinya saja!"

      "Bagaimanapun demokratisnya lewat sistem pemilihan langsung, kekuasaan 
yang bersifat personalized seperti itu tak bisa dihindari!" timpal Jonaha. 
"Berbeda dengan negeri yang berbentuk republik, penguasa didaulat sebagai 
pejabat publik! Mereka pantang mengelola kekuasaan dan anggaran secara 
personalized! Anggaran harus benar-benar dijalankan untuk kesejahteraan rakyat, 
tak bisa berdasar selera pribadinya! Dewan wakil rakyat juga teliti dalam 
menyusun anggaran benar-benar untuk kepentingan rakyat demi peningkatan 
kesejahteraannya, mencoret anggaran yang dianggap sesuka penguasa! Anggaran 
yang sudah disepakati Dewan, dibayar penuh pada waktunya, bukan bergantung pada 
suka atau tidak suka penguasa!"

      "Tapi katanya di negeri republik para penguasa daerahnya juga 
personalized, bukan lagi sekadar bergaya Adipati, malah menjadi raja-raja 
kecil!" entak Makun. "Kalau di negeri kerajaan Adipati tak berani korupsi 
karena dianggap mencuri uang raja dan bisa digantung, di negeri republik bukan 
cuma corrupt menjadikan kekuassan personalized, melainkan malah corrupt dalam 
materiil akibat di negeri itu koruptor tak dihukum gantung!"

      "Cerita seperti itu cuma provokasi agar rakyat kerajaan tak menuntut jadi 
republik karena malah lebih parah korupsi penguasanya!" tegas Jonaha. "Bukan 
hanya corrupt dalam kekuasaan jadi personalized, melainkan juga corrupt 
terhadap uang rakyat!"

      "Berarti di republik tak ada penguasa yang personalized, menggunakan 
anggaran sesukanya saja, juga tak ada pejabat publik mengorupsi uang rakyat?" 
kejar Makun.

      "Secara teoretis itu tak mungkin terjadi di republik karena selain 
pengawasan dari parlemen di semua tingkat kekuasaan ketat sekali, juga kontrol 
pers dan civil society-nya berjalan baik!" tutur Jonaha. "Itu teorinya!"

      "Celakanya, teori dan praktek sering tidak kelop!" tukas Makun. 
"Buktinya, rakyat negeri republik banyak jadi gelandangan cari kerja di negeri 
monarki parlementer!" ***
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke