[EMAIL PROTECTED] selalu punya kecap nomor satu, kecap yang bukan
berasala dari [EMAIL PROTECTED] rasanya pahit, kecut dan rasanya
basi.





bening hati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bagi mereka yang tidak tahu AL QUR'AN, mereka mengira bahwa AL Qur'an sama
dengan kitab-kita atau buku-buku lain, yang berisi catatan maupun
tulisan-tulisan.

Padahal Al Qur'an adalah 'bahasa tutur', yaitu yang disampaikan seraca lisan
dari mulut ke mulut. Nabi menerima wahyu, lantas nabi memanggil para sahabat
untuk mendengarkan wahyu itu, diminta menghafal ( karena arab adakah budaya
hafalan ), sedangkan untuk mengingat, ada beberapa yang mencatat Al Qur'an
dengan tulisan ARAB kuno, yang berisi hanya 3 konsonan yang sebenarnya tidak
berbunyi. Tetapi bagai mereka yang pernah dengar bacaan al Qur'an, maka
kode-kode penulisan ini akan sangat membantu. Tetapi bagai mereka 'yang
hanya membaca tulisan, tetapi belum pernah mendengar AQ secara lisan, maka
catatan tersebut tidak akan berguna dan tidak sesuai dengan "ejaan" AQ.

Dalam perkembangan Jaman, dimana Islam menyebar ke dunia Non ARAB, misalnya
di Jawa yang tidak bisa membaca ARAB, maka AQ disampaikan secara lisan dari
mulut ke mulut.

Kalau dalam KITAB SUCI LAIN, atau catatan sejarah yang lain, Bahasa TULIS
sangat dominan, karena antara Huruf dan ejaan adalah sama, tetapi AQ tidak
bisa disampaikan secara tertulis, karena antara Ejaan dan Huruf arab saat
itu sangat berbeda, sehingga tulisan hanya 'membantu" bagi mereka yang
hafalan lemah, tetapi tetap harus diajari 'cara membaca".

Dengan perkembangan Jaman, dan perkembangan penyebaran Islam ke luar budaya
ARAB, maka diketemukan Huruf-huruf tambahan yang disebut HARKAT, atau Huruf
VOKAL untuk memudahkan.

Untuk memberi sedikit gambara jelas, saya contohkan apabila anda dikasih
TEKS lagu Indonesia Raya yang ditulis dengan huruf latin, tanpa notasi
Balok, apakah anda bisa menyanyikan lagu dengan nada Indonesia RAYA ??? anda
akan menyanyi indonesia raya dengan gaya membaca PUISI, karena anda belum
pernah mendengar nada lagu indonesia raya. tetapi bagi mereka yang 'pernah
mendengar dan pernah diajari menyanyi, maka catatan teks indonesia raya
'bisa membantu' anda yang ingatannya lemah.

Demikian juga AQ, meski saat ini sudah diketemukan huruf vokal ( harkat),
tetapi nada panjang dan pendek dalam membaca al Qur'an juga perlu ada
kode-kode khusus, makanya diketemukan GARIS DATAR diatas huruf, sebagai Kode
agar dibaca 6 ketukan.

Kode-kode itupun saat ini masih ada beberapa yang tidak bisa 'mengakomodasi"
bacaan, misalnya ada huruf yang ditulis MAJRO, tetapi dibaca MAJRE. dan
susahnya, vokal dalam bahasa ARAB hanya ada A atau RA, I atau RI dan o atau
RO, unruk vokal E tidak dikenal dalam huruf arab, tetapi ada yang harus
dibaca RE. Dan ini bisa tahu kalau kita dikasih pelajaran AQ secara lisan
dari seorang Guru.

Makanya bagi mereka yang belum pernah belajar AQ dari seorang Guru, hanya
belajar AQ secara otodidak, maka jelas sekali perbedaannya, cara membacanya
sangat berbeda. Makanya, dalam ISlam, dilarang belajar AQ secara otodidak,
harus melalui seorang Guru yang sudah mendapat Ijazah mengajar AQ. Sebagai
Contoh AA GYM, meski dia bisa membaca huruf ARAB, tetapi ketika dia belum
belajar AQ dari seorang Guru, maka akan kelihatan, bacaan AQ nya masih
belepotan.

Sebagai Contoh, kata "MALIK" artinya raja, tetapi ketika huruf AA
dipanjangkan misalnya MAALIK, maka artinya "siapa yang memiliki".

Coba anda bayangkan, dalam Tulisan yang sama MALIK, ada huruf yang
dipanjangkan, artinya bisa berubah. atau AKBAR, artinya adalah Maha Besar,
tetapi kalau A dipanjangkan, misalnya AKBAAAR, maka artinya GENDERANG.

Jadi meski diketemukan beribu-ribu catatan 'yang diperkirakan AQ", tetapi
kalau berbeda dengan Hafal para penghafal AQ, maka bisa dipastikan itu bukan
AQ, karena AQ mengandalkan penyampaian dari mulut-kemulut dan dihafal, bukan
dari yang tertulis.

 Salam,

Kirim email ke