Dear All, Renungan cerdas Ariel Heryanto, "Travel Advice" senantiasa (semestinya) memaksa setiap orang untuk melakukan otokritik terhadap diri dan belajar mengambil jarak terhadap nilai-nilai yang "taken for granted" turun-temurun, dari nilai yang penting, terpenting, dan terpenting di antara terpenting, APALAGI yang TIDAK PENTING dan basa-basi dan periferial yang menenggelamkan hakekat dasar kemanusiaan, keadilan, kebenaran dan perdamaian (sejati, bukan semu).
"Travel Advice" sebenarnya jauh dari "sajian teh hangat" yang tiba-tiba melemparkan semua orang bermasalah, khususnya RI - Australia, kedalam konformisme murahan, seolah pelbagai perilaku tata pergaulan bilateral-multilateral meniadakan sikap kritis. Kiranya, gagasan mas Ariel Heryanto menghantar kita pada sikap tidak memandang etiket lebih tinggi dari pilihan-pilihan etis (kesejatian dari nurani, yang melahirkan kebenaran sejati - bukan semu, keadilan sejati - bukan lip-service dan janji2, perdamaian sejati - bukan konformisme atau asal NKRI Asal-asalan). NKRI? Why not? Tapi, tidak dengan membiarkan korban lumpur Lapindo, dan pelbagai ketidak-adilan sosial, liarnya hukum rimba, dan janji-janji kita kepada masyarakat, dan "membunuh mereka" jadi indiffrentis pada segala macam dogma negara yang tidak ada kaitannya dengan hakekat kemanusiaan. Jangan tebalkan balut euphemime dalam hidup bernegara, apalagi bersesama. Selama kita meningkatkan hubungan bilateral sebatas "secangkir teh manis keras", maka "kesehatan relasi bilateral-multilateral kita" akan dicampakkan, ketika sistem peradilan kita menjadi liar, korban bencana alam dipenuhi janji, membuat lipatan kulit kita tebal terhadap kebenaran, maka teh kita akan basi sebelum disaji lagi ke tamu (asing). wassalam, berthy b rahawarin > Oleh Ariel Heryanto > Beberapa teman Australia bingung ketika ke Indonesia > pertama kali dan > bertamu. Tanpa bertanya, sang tuan rumah menyajikan > minum. Hampir > selalu teh atau kopi. "Hampir selalu sangat manis > karena banyak > gulanya", kata mereka. > > Sebaliknya ada kisah teman dari Indonesia bertamu di > Australia > disambut hangat tuan rumah dengan tawaran "mau > minum?". Reaksinya > spontan, "Ah, nggak usah." Dia tidak diberi minum > hingga pulang, > sesudah tiga jam. Dan ini berulang berpuluh kali > selama empat tahun. > Dalam adat di sana, sajian minum diberikan kepada > tamu hanya bila tamu > itu menyatakan mau minum. Itu pun masih akan disusul > dengan pertanyaan > lanjutan: Mau minum apa? Air? Teh? Kopi? Pakai susu? > Gula? Berapa > sendok gulanya? > > Di Indonesia pertanyaan seperti itu hanya ada di > restoran. Tidak di > ruang tamu. Sajian minum diberikan kepada tamu tanpa > menunggu tamunya > minta. Tanpa peduli apakah tamunya mau minum atau > tidak. Dalam adat > kita, sajian minum berfungsi komunikatif "selamat > datang". Bukan > fungsi kegunaan menghilangkan dahaga. > > Silang-komunikasi juga terjadi ketika orang > mendengar "Travel Advice" > Pemerintah Australia. Kasarnya, istilah itu bisa > diterjemahkan jadi > "Saran Perjalanan". Pemerintah Australia mengumumkan > Travel Advice > untuk warganya yang berencana ke luar negeri. > Tingkat keamanan di > berbagai wilayah di dunia dinilai dalam lima > kategori: dari yang > paling aman sampai yang paling berbahaya. Penilaian > itu ditinjau > berkala dan diumumkan ulang bila berubah. > > Sejak awal abad ini Indonesia mendapat rapor merah > dalam daftar Travel > Advice Australia. Apalagi sesudah bom Bali. Industri > wisata di > Indonesia terpukul. Gara-gara kebijakan yang sama, > jumlah pelajar > tentang Indonesia di Australia turun deras, dengan > ancaman sebagian > program bergelar ditutup. Berbagai kegiatan seperti > pertukaran > mahasiswa atau penelitian lapangan tidak diizinkan > lagi oleh lembaga. > Bila terjadi apa-apa, pihak asuransi tidak mau > membayar ganti rugi. > > Berbagai pihak Indonesia maupun Australia telah > berusaha membujuk > Pemerintah Australia agar menarik Travel Advice itu. > Pemerintah > Australia bergeming. Malahan sesekali memperburuk > penilaian atas > keamanan di Indonesia. Juli lalu beberapa anggota > DPR itu berang dan > mengusulkan supaya Indonesia melakukan yang sama > terhadap Australia. > > Daripada bereaksi emosional, lebih baik lebih teliti > memahami Travel > Advice Australia. Secara harfiah, Pemerintah > Australia tidak > "melarang" orang ke Indonesia. Mereka hanya > "menyarankan" agar warga > negaranya (dan bukan warga lain) sangat > berhati-hati, menunda, atau > menimbang kembali rencana perjalanan ke Indonesia. > Sebagian besar > wilayah negeri ini berada satu tingkat di bawah > kategori paling berbahaya. > > Tampaknya ada dua tujuan yang jelas, di samping > tujuan lain yang lebih > samar-samar, mengapa Travel Advice itu > dipertahankan. Pemerintah > Australia ingin membuktikan pada bangsanya bahwa > mereka telah > melakukan kewajiban intelijen demi warganya. Kedua, > pemerintah ini > tidak mau disalahkan dan dituntut bertanggung jawab > bila ternyata > benar ada serangan teror terhadap warganya ketika > berada di luar negeri. > > Apakah benar hasil analisa intelijen mereka, itu > soal lain. Tidak > jelas mengapa London yang berkali-kali diserang > "teroris" dinyatakan > dua tingkat lebih aman ketimbang wilayah Indonesia > yang tidak pernah > kena bom. Amerika Serikat yang paling diincar kaum > "teroris" > dimasukkan dalam kategori paling aman di dunia dalam > daftar Travel > Advice pemerintah Howard. > > Ketakutan terhadap bahaya di Indonesia itu > sepertinya takhayul atau > berlebihan. Malahan ada yang menuduh itu taktik > teror-negara terhadap > rakyatnya. Apa bedanya Pemerintah RI ketika > berbicara soal bahaya > "komunisme", "separatisme", atau "pornografi"? > Sementara bahaya > korupsi, pembunuhan Munir, dan lumpur Lapindo > ditanggapi dengan sikap > hangat-hangat tahi ayam. > > Sementara pemerintahnya menyatakan Bali dan Jakarta > sebagai kawasan > paling rawan di Indonesia, para pejabat Pemerintah > Australia > berkunjung rutin ke kedua tempat ini. Kepada > warganya, Pemerintah > Australia seakan berpesan: "Mau ke Indonesia? > Silakan. Tapi tanggung > risiko sendiri, seperti juga pejabat kami." Travel > Advice tidak > berhasil menaklukkan gairah rakyat Australia > berkunjung ke Indonesia. > Dalam paruh pertama tahun ini jumlah turis Australia > ke Bali naik 30 > persen. > > RI tidak perlu bikin Travel Advice tandingan. > Kalaupun dibikin, siapa > peduli? Orang Indonesia sudah sejak dari awal > sejarahnya terbiasa > menanggung risiko hidup sendiri tanpa asuransi dan > perlindungan > negara. Boro-boro asuransi bagi mereka yang terkena > musibah dalam > perjalanan ke luar negeri. Anak negeri yang seluruh > kampung dan > sejarah komunitas mereka terendam lumpur dibiarkan > sakit jiwa, setelah > terlunta-lunta dan putus asa.
