--- In [email protected], Andy Wicaksana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Danar, > > Politik Devide et Impera Belanda memang sangat ampuh. Mengapa kita bisa lama dijajah Belanda adalah karena para penjilat dan orang yang pintar-nya hanya ngomong doang itu dijaga, dan mentalitas itu tetap melekat ke orang-orang yang dijajah pada saat itu dan diturunkan sampai ke generasi sekarang.
**** jangan salahkan Belanda dong, kalau bangsa ini yang sontoloyo..62 tahun setelah bebas dari penjajahan masih demikian? > > Salah satu cirinya adalah masih banyak masyarakat Indonesia yang berebutan masuk menjadi PNS, mereka berfikir menjadi PNS akan hidup makmur. Ciri yang ada sekarang ini adalah akibat dari makmur-nya para pejabat dan cecenguk Belanda pada saat itu. Hal ini cukup kental dilihat di daerah Jawa dimana masyarakatnya masih sangat takut kepada para pejabat. **** kecenderngan ingin jadi pns ada di mana mana, juga di Jerman, Perancis, Italia dan Spanyol.. dan tempat lainnya. malaysia juga demikian. taku pada pejabat ada di pulau manapun, tak hanya di Jawa.. > > Malaysia, India dan Singapore tidak dijajah Belanda. *** Ohh kalau gitu Inggris, Perancis tidak praktekkan divide et impera? kamu bebas butahuruf sejak kapan? > > Untuk definisi kemajuan, jika dilihat dari tingkat korupsi, tata kota dll, gak perlu kamu ajarkan. Sewaktu kamu masih baru membaca, saya pun sudah tau itu. **** kemajuan swiss mau kamu kaitkan dengan tingkat korupsi? Aku baru membaca, dimana kamu? sudah lahir? > Tapi, jangan lupa, hal itu dilihat dari skala major, kalau dilihat ke individu, belum tentu. Seperti yang saya katakan di email saya terdahulu, bahwa kekayaan, kemajuan tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. > *** Siapa yang mengkaitkan kekayaan dengan kebahagiaan? Kekayaan mudah diukur, lihat Forbes, tetapi kebahagiaan? Ini thema siapa yang bahas, aku neggak sihh! > Btw, Apakah anda sedang show-off kepada saya ? *** Why not? kamu keberatan? lalu kenapa?
