Omie Lubis wrote:
>
> Tiap pagi setiap saya selesai stretching (senam) dipekarangan rumah, selalu
> disapa suara parau
pak Sukiman yang terdengar ramah diiringi senyum nya yg dikulum,
"wilujeng enjing nyi Omie" katanya (selamat pagi neng omie) lelaki kurus
bongkok berusia sekitar 65an itu meninggalkan asap rokok daun
kawung yg dihisapnya mengepul di udara, melangkah gontai dengan
seperangkap peralatan tani dipundak cekung nya, tak pernah seharipun
pak Sukiman bolos dari pekerjaan rutin nya pergi ke sawah, diam2 saya
penasaran pengen tau apa sih kerja dia selama 8 jam di sawah...suatu
hari saya bertanya "pak Sukiman..boleh kan saya ikut kesawah
liatin pak Sukiman kerja??" jidat pak Sukiman berkerut, tentunya dia
heran "kanggo naon neng Omie ? disawah mah panas jaba kotor" (untuk apa neng
Omie, panas dan kotor disawah), "ah..iseng
aja saya ingin ambil photo2 aja buat dibawa pulang ke America biar temen2 liat
kayak apa sawah kita" saya berbohong. Saya suruh adik saya mengemas
makan siang untuk saya dan pak Sukiman, video camera, obat anti
serangga, topi, dan permen karet. Pagi itu saya dan pak
> Sukiman beriringan dijalan setapak menuju sawah yg berjarak kira2
satu kilo meter, naik turun bukit..ohhhh dengkul saya mau copot rasanya dan
pak Sukiman terus nyerocos cerita ngalor ngidul tak terlihat cape sama sekali,
gile umpatku dalam hati, manusia tua tak bergizi seperti
pak Sukiman dengan mudahnya menaklukan energy ku hahahaha, akhirnya kami
tiba disawah..pak sukiman mulai mencangkul menggemburkan tanah sawah
yg akan siap ditanami, ada gubuk bambu kecil dipinggir sawah, saya simpan semua
perbekalan makanan dan minuman disana, lalu saya berkeliling mencari
pohon2 anggrek liar yg tumbuh di pertanian karet diatas bukit
pesawahan, kulihat dibawah bukit ada beberapa wanita dan anak2 mandi telanjang
dipancuran umum, ketika mereka melihat saya langsung mereka berteriak " teh
Omie..kadieu turun urang mandi babareungan" (mba Omie turun kesini kita mandi
sama2), saya pun langsung menuruni bukit, membasuh tangan saya di air pancuran
yg jernih dan segar terasa dikulit yg lelah disengat matahari, mereka enggak
keberatan saya video taped, setelah bercengkrama sebentar sayapun segera naik
utk kembali ke pak Sukiman disawah, tawa mereka
masih terdengar melerai kesunyian bukit, ahhh mereka sangat bahagia
sekali, wajah mereka polos dan stress free, saya tau mereka tentunya
tak punya apa2...mobil, rumah mewah, credit cards, stock market, tabungan besar
di Bank, Deposito dan
tuntutan2 hidup modern lain nya, aku tercenung...dengan ketiadaan
kadang2 jiwa kita lebih bebas dalam menjalani kehidupan ini.
>
> kembali kesawah pak Sukiman hampir selesai menggemburkan tanah
sepetak, sudah mendekati pukul 12 siang, perut saya mulai rock and roll pengen
makan, saya tawari pak Sukiman makan "abdi bade
sholat heula neng Omie" (saya harus sholat dulu neng omie) ah saya
jadi malu, " tentu aja..."silahkan pak, saya gak bisa sholat hari ini, biasa
namanya juga cewe..lagi berhalangan"
hehehehhe, aduh saya berbohong lagi. . pak Sukiman membersihan keringat
tubuhnya di air pancuran kecil yg
mengalir di sawah, ada gantungan kopiah dan sarung tergantung dipaku
diatas panggung gubuk pinggir sawah ini , dia sholat di sudut panggung, saya
sempet video taping pak Sukiman yg sedang sholat, betapa besar jiwa
pak Sukiman pikir saya, sudah hidup sekeras dan seberat ini masih menunjukan
rasa hormat dan syukurnya kepada Allah.
>
> kami makan dengan lahapnya, sempat mengaso satu jam. Sebelum pak
Sukiman melanjutkan pekerjaan nya, saya penasaran lagi gimana rasanya
mencangkul, saya turun kesawah dan mulai mencangkul....10 menit
mencangkul aduhhh..pinggang saya belah rasanya, pak Sukiman kegelian melihat
saya meringis, ter kekeh2
menunjukan gigi2 nya yg hitam karena tembakau, " adduuh, saya nyerah
pak Sukiman" keluh saya, pak Sukiman menatap saya, setengah ragu bertanya " di
negri ditu mah teu aya sawah sugan ?" (di negri sana tak ada sawah rupanya?), "
teu aya, kabeh beas di kirim ti negara luar, ti Mexico, ti Thailand " (tidak
ada, semua beras dikirim dari mexico atau thailand), pak Sukiman manggut2 lalu
segera berdiri dan kembali menggempur tanah sawah, setelah beres menggembur 2
petak sawah pak
Sukiman mulai membabati rumput ilalang yg menjalar liar di kebun
pisangnya , ada 2 onggok pisang yg ditebangnya untuk dibawa pulang,
walau pak Sukiman bekerja untuk dirinya sendiri tapi lelaki ini tak
pernah mencuri waktu, jam istirahat satu jam, mulai kerja jam 8am hingga
4pm, sebuah disiplin dan ethical kerja yg patut di saluti.
>
> Menjelang Ashar kami pun bergegas utk pulang, dalam perjalanan pulang saya
> mulai bertanya bagaimana pak Sukiman
bisa menghidupi keluarga dan menyekolahi cucunya , "yah satiasana wae
neng, pami atos panen pare diical ka tangkulak, sawareh pare kanggo
dituang, kadang2 aya cau, sampe,,ah naon we nu tiasa di ical..." (ya
sebisanya, kalau panen padi dijual ke tengkulak, sebagian padi buat
dimakan, kan ada pisang, singkong dan apa saja yg bisa dijual buat
menutupi kebutuhan lain nya) .
>
> ketika tiba di rumah bambunya, cucu pak Sukiman berlari
menyambut "ki...mawa jangkrik teu kanggo Iman??" (kek bawa jengkerik
gak buat iman?), istri pak Sukiman menyambut keluar dan menyapa saya sambil
meraih onggokan pisang dipundak suaminya, ,
mereka terlihat cukup bahagia, aku menatapi keluarga yg
papa tapi penuh dengan harta di jiwanya ini, aku terus melamun hingga
sentuhan bu Sukiman mengoyak lamunan saya "neng Omie resep kangkung
teu? ( omie suka sayur kangkung enggak?) saya langsung
menyahut.."suka sekali" , " bu Sukiman terlihat senang " naahh kadieu atuh ke
weungi urang
babacakan.." (nah kesini dong ntar malam kita makan
sama2)...."aduh..saya harus makan dirumah, kakak saya udah janji mau
bikin pepes ikan teri pesanan saya.."...
Sebelum pulang pak Sukiman dan istrinya membekali saya dengan sesisir pisang
ambon yg besar2 juga seikat kangkung utk disayur.
Saya pulang ke saung saya dengan kepala digayuti ketakjuban kehidupan pak
Sukiman yg begitu papa tetapi sangat harmonis dan menyenangkan.
>
> seharian dengan pak Sukiman seperti memasuki sebuah kelas di
sekolah, keluarga pak Sukiman telah berhasil mengajarkan saya sebuah
philosophy hidup yg sering terlupakan oleh orang2 modern yg hidup di
kota mega yg penuh sesak oleh tuntutan dan kepuasan, SYUKUR..., rasa yg penuh
syukur,
bersyukur bahwa kita masih bisa hidup sehari lagi...sehari
lagi...sehari lagi....everyday is worth of living ! (omie lubis)
>
--- End forwarded message ---
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on,
when.
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell.