Aaah untk polisi indonesia kejadian itu mah biasa.
Tahun 1996, waktu adik saya meninggal kecelakaan di
daerah Sukabumi, untuk mengurus surat kematian karena
laka lantas, saya dimintain duit, 'duit administrasi'
katanya. Memang jumlahnya cuma Rp 30.000, tapi ukuran
tahun 1996 duit sejumlah itu cukup besar, 60 ribu jika
dinominalkan sekarang.
   Bayangin orang sudah meninggal dunia, kecelakaan
pula masih diduitin. Padahal gw cuma minta secarik
kertas doang dan kertas itu disediakan oleh negara.
Dan untuk itu wajibnya tidak dipungut biaya, karena
itu memang tugas dia!
   Yang lebih gila lagi, polisinya bawa keluarga si
penabrak dan meminta kita sebagai keluarga untuk
berdamai. Dan si keluarga penabrak bahkan bawa-bawa
aparat polisi segala yang agak 'memaksa' mengajak
keluarga saya untuk berdamai. 
   Saya menolak keras dan minta semuanya diproses
sesuai hukum. Saya bilang, saya tidak jual beli nyawa.
Saya tidak berhak menjual beli nyawa adik saya, biar
hukum yang menentukan. Eeh si polisi malah bilang,"
ntar juga dipengadilan hukumannya bisa ringan, bapak
ntar rugi lho karena hakim bisa dibayar juga.
Mendingan berdamai dan si penabrak tidak masuk penjara
karena kasihan punya anak dan istri."
   Saya bilang, "gw tidak peduli. Biar hukum yang
menentukan." Akhirnya saking kesalnya, saya buka kartu
bahwa saya wartawan dan saya bilang dengan mengancam
bapak kalo maksa-maksa trus, tinggal bilang saja sama
saya, mau berapa halaman kasus ini dimuat media massa?
   Dia akhirnye ngeper...dan kasus pun masuk
pengadilan. Dan sejak itu gw gedeknya setengah mati
sama polisi...


--- Hermiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Jangan heran .....kalau kita selalu kena
> musibah.....semua tatanan
> rusak...manusia sudah tidak ada rasa kemanusiaannya
> lagi...beragama tapi
> tidak takut tuhan............memprihatinkan!!!!!!!!
> 
>  
> 
> ________________________________
> 
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of Kaniasari
> Sent: Thursday, August 02, 2007 8:45 AM
> To: Mediacare
> Subject: [mediacare] Hati2 kalo ada razia polisi
> 
>  
> 
> Sebenarnya masalah kalau dirazia polisi harus chek
> tangannya polisi itu
> dulu sudah kejadian lama. tapi mudah2an cerita
> dibawah ini bisa
> menyegarkan ingantan kita kembali.
> 
>  
> 
>
========================================================================
> =================
> 
> Sorry kalo sebelumnya dah ada yang pernah 
> posting. Gw dapet Fwd dari email. Jadi hanya sekedar
> sharing agar anda 
> lebih waspada. Peace ^^ 
> 
> Mohon untuk dibaca walaupun hanya sekedar tahu,
> kalau nantinya ga mau
> peduli itu kembali ke diri kita masing2... 
> 
> Dear Rekan sekalian, 
> 
> Mungkin sebagian dari kita ada yg sudah tahu bahwa
> hukum di 
> Indonesia ini benar2 BIADAB. Bayangkan, semua bisa
> dibeli dengan 
> UANG.... 
> 
> Kemarin tgl 29 Juli 2007, saya ingin menjenguk teman
> saya yg 
> katanya sudah 2bln ini msk penjara karena NARKOBA.
> Waktu bertemu dengan 
> dia, kondisinya sangat berubah. Badannya kurus
> sekali, matanya merah, 
> dan yang lebih tragis lagi dia seperti org
> kelaparan. 
> 
> Dia cerita tentang kejadian yg menimpanya. Tgl 9
> Juni 2007, Teman 
> saya ini pergi kedaerah kota untuk suatu keperluan.
> Sesampainya di 
> jalan ternyata ada razia polisi. Kebetulan dia yang
> bawa mobilnya dan 
> ada 1 teman lagi, jadi mereka berdua. Waktu
> pemeriksaan mereka berdua 
> disuruh keluar dari mobil, mobil mereka digeledah.
> Dan betapa kagetnya 
> teman saya itu waktu polisi memberitahu bahwa ada 2
> butir ekstasi 
> dibawah jok depan. Padahal semua teman saya itu
> bukan pemakai. Mereka 
> juga tidak pernah pergi ke diskotik. Mereka
> meyakinkan polisi kalo itu 
> semua bukan milik mereka. Mereka bersedia untuk tes
> darah tapi 
> polisinya malah memarahi bahkan menampar kedua teman
> saya itu. Pada 
> saat teman2 saya tidak bisa apa2 lagi, polisi
> mengambil semua barang2 
> berharga teman saya itu ( Dompet, Jam, HP ). Yang
> lebih parahnya lagi 
> polisi itu menyuruh mereka untuk mengakui kalau
> Barang haram tersebut 
> milik mereka. Bersumpah dengan nama Tuhan pun
> kayanya sudah ga mempan, 
> akhirnya dengan pasrah teman2 saya itu mengiyakan
> semua perintah polisi 
> tersebut karena kalau tidak, mungkin mereka akan
> dianiaya terus. Teman2 
> saya itu kemudian di borgol lalu disuruh masuk ke
> mobil polisi 
> tersebut. Didalam mobil,polisi mulai nego harga
> dengan teman2 saya. 
> Mereka disuruh menyerahkan 2juta /org mlm itu jg,
> maka mereka akan 
> dilepaskan. Sewaktu teman2 saya mengiyakan
> permintaan mereka, TIM BUSER 
> dari SCTV datang, jadi perjanjian itu tidak jadi
> terlaksana. Dengan sok 
> gagah polisi2 itu dengan arogannya menarik teman2
> saya itu kluar mobil 
> dan memberi penjelasan ke TIM BUSER tersebut kalau
> teman2 saya itu 
> adalah pemakai. Singkat cerita teman2 saya itu
> dibawa ke polres. Disana 
> mereka dikurung selama 1bln dan baru kamis tgl 26
> Juli 2007 kemarin 
> mereka dipindahkan ke Rutan Salemba. Perlu diketahui
> juga, mereka 
> pindah ke Rutan pun harus bayar Rp 7.000.000 /org.
> Ternyata penderitaan 
> mereka blm selesai sampai disitu. Mereka blg kalau
> mereka mau bebas, 
> mereka hrs membayar Rp 90.000.000 / org kepada
> polisi tersebut dan 
> kasus mereka pun secara otomatis akan ditutup.
> Sungguh biadab sekali 
> moral2 org2 itu. Perlu diketahui jg kalau didalam
> rutan itu d ika sih 
> makan sehari 2x dan nasinya bukan putih warnanya
> tetapi kuning. Didalam 
> makanan tersebut sudah dicampur dengan bumbu supaya
> para napi akan 
> merasakan badannya lemas. Ditiap blok2 tahanan jg
> bebas. Mereka ada yg 
> memakai narkoba dan itu bisa terjadi bila mereka2
> sang pengguna member 
> ika n uang sebagai uang tutup mulut kepada petugas2
> tersebut. 
> 
> Rekans, sewaktu saya dan teman2 saya ingin menjenguk
> pun tidak 
> kalah biadab nya para petugas2 tersebut. Dari pintu
> depan kita lapor 
> dan KTP kita ditaro, mereka minta uang administrasi
> Rp 5.000, trs 
> pindah loket utk taro HP karna disana kita ga blh
> bwh hp, kita byr lagi 
> Rp 5.000, msk pintu utk pemeriksaan badan pengunjung
> byr lg Rp 5.000. 
> Sampai lah kita pada pintu terakhir dimana kita bisa
> bertemu dengan 
> teman saya tersebut. Saya dan teman2 saya msk ke
> sebuah ruangan. Tapi 
> sebelum kami bertemu dengan teman2 kami tersebut,
> kami hrs membayar Rp 
> 10.000 untuk ongkos panggil teman saya yg di sel. 10
> menit berlalu tapi 
> teman kami tdk kunjung datang. Petugas gadungan itu
> dtg lagi dan 
> memberitahu kami bahwa teman kami tdk ada di sel.
> Petugas itu 
> menawarkan jasanya kembali, dia akan mencari teman2
> kami bila kami 
> membayar lagi Rp 10.000. Akhirnya dengan perasaan
> kesal, kami ksh lagi 
> uang tersebut. Sumpah!!! keadaan di ruangan tersebut
> bnr2 menger ika n. 
> Kotor, sumpek, bau. Ternyata itulah ruangan
> pertemuan antara napi dan 
> penjenguk. Disana semua napi dan penjenguk bisa
> leluasa melakukan 
> adegan2 sronok. Ciuman bibir, pegang2 alat2 vital,
> mereka smua tdk malu 
> utk melakukan hal tersebut. Mungkin smua itu bentuk
> pelampiasan rasa 
> rindu antara si napi dan si penjenguk. Yang lebih
> parahnya lagi, bagi 
> para napi yg menerima tamu, mereka diwajibkan
> membayar uang Rp 50.000 
> ke petugas. Jadi setelah selesai bertemu dengan
> teman saya tersebut 
> mereka kami beri uang Rp 100.000 utk mereka msk lagi
> kedalam. Kalau 
> mereka tdk membayar, mereka akan dipukuli. Sungguh
> biadab nya negara 
> kita ini!!! 
> 
> Perlu diketahui juga didepan pintu masuk tertulis "
> TIDAK DIPUNGUT BIAYA
> APAPUN". Tapi apa kenyataan nya??? 
> 
>  
>
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=12343260/grpspId=1705062132/
>
msgId=78843/stime=1185969679/nc1=4718983/nc2=4025338/nc3=4776344>
> 
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>   <http://www.incredimail.com/index.asp?id=99431> 
> 
>  
> 
> ________________________________
> 
> ** 
> 
=== message truncated ===


Eka Zulkarnain



       
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo.com/collections/222

Kirim email ke