Koran Tempo
Minggu, 29 Juli 2007

Suplemen
 
Mengeset Pola Pikir, Menjemput Masa Depan

Judul: Mind Set!
Penulis: John Naisbitt


Siapa tak kenal John Naisbitt? Masih segar dalam ingatan saya saat 
mengambil tugas di Jurusan Teknik Industri ITB. Prof Dr Anang Zaini 
Gani, dosen pembimbing saya, menyodorkan buku bertajuk Megatrends 
yang, sungguh, tidak saya mengerti apa maksudnya. Dia memberi tugas 
kepada saya untuk mepelajari buku karya John Naisbitt itu dalam 
salah satu kuliah yang saya ambil dan membuat paper. Dengan segala 
keterbatasan, sulit bagi saya untuk mengerti, apalagi menyerap, isi 
buku itu. Saya lalu hanya mencoba "menerjemahkan" dengan bahasa yang 
kacau, tanpa pemahaman. Pada saat konsultasi dengan Pak Anang, saya 
bukan tambah mengerti, justru makin frustrasi karena tidak tahu buku 
ini bicara apa.


Setelah lulus, saya baru tahu bahwa dulu saya pernah "mencoba 
mengerti" apa itu "hi-tech" dan "hi-touch". Di dunia pekerjaanlah 
saya akhirnya merasakan apa yang dimaksud Naisbitt dengan istilah- 
istilah itu. Itulah kekuatan sebuah mind set (pola pikir).


Naisbitt mendefinisikan pola pikir secara sederhana sebagai bidang 
tempat hujan jatuh. Bila bidang itu benda padat datar (misalnya 
kaca), air hujan membentuk butiran-butiran air atasnya. Namun bila 
hujan jatuh di tanah subur, yang terlihat adalah resapan tanah yang 
menjadi tampak basah. Kembali ke pengalaman Megatrends, dulu otak 
saya masih seperti permukaan datar itu, sehingga tidak menyerap apa- 
apa. Setelah bekerja, saya menjadi lebih terbuka dan bisa menyerap 
seperti tanah subur itu.


Buku Megatrends, yang terjual sembilan juta eksemplar, melejitkan 
nama Naisbitt sehingga keduanya memberi makna identik. Dua puluh 
lima tahun kemudian Naisbitt menulis buku bertajuk Mind Set!: Reset 
Your Thinking and See the Future, yang mencoba mengulas pola pikir 
dan gambaran masa depan. Ini berbeda dengan Megatrends maupun 
Megatrends 2000 yang lebih fokus pada gambaran masa depan.


Di buku terbarunya ini Naisbitt mengulas mengapa ia bisa sampai pada 
kesimpulan seperti di buku sebelumnya. Ia melakukannya karena 
beberapa penelitiannya antara lain menemukan bahwa pada beberapa hal 
prediksi-prediksi yang dibuat terlalu dibesar-besarkan, bahkan tidak 
realistis. Sebagai contoh, Naisbitt menguraikan tentang prediksi 
pakar lingkungan hidup yang saat itu mendramatisir bahwa dalam satu 
tahun akan terdapat 27,375 spesies yang punah, padahal prediksi yang 
lebih akurat kemudian menyatakan hanya 2,300 spesies per tahun (hlm. 
29).


Naisbitt juga menjumpai adanya kontradiksi dari apa yang 
dicanangkan, misalnya dalam isu global cooling dengan dampaknya 
berupa ice age. Anehnya, pada kesempatan yang tidak lama setelah hal 
itu dicanangkan, masyarakat dunia dihebohkan dengan isu global 
warming. Ini jelas membingungkan. Karena itu, Naisbitt merasa perlu 
membahas rinci mengenai apa dan bagaimana pola pikir itu, sebelum 
pada akhirnya membicarakan gambaran masa depan yang akan terjadi.


Yang mengagetkan: ia menilai salah kaprah pendapat bahwa "satu- 
satunya yang tetap adalah perubahan". Justru ia menekankan meski 
banyak perubahan, lebih banyak yang konstan (Mind Set #1). Ia 
mengambil contoh petani yang sudah ia kenal sejak masa kecilnya, 
yang kini masih juga ada petani. Yang berubah adalah "bagaimana" 
sesuatu dilakukan bukan "apa" yang dilakukan. Saya juga ingat pada 
awal e-book dikenalkan, dunia percetakan akan punah. Namun saat ini 
saya membeli buku ini dalam bentuk cetakan, bukan e-book.


Yang juga menarik adalah Mind Set # 9. Di sini ia menegaskan bahwa 
hasil tidak diperoleh dengan solusi, tapi dengan mengeksplorasi 
peluang. Perubahan-perubahan yang terjadi tentu akan memberikan 
peluang yang besar dalam banyak hal.


Lihat saja peluang yang terbuka lebar di dunia maya melalui 
aktivitas blogging, misalnya. Businessweek mengulas artikel tentang 
suksesnya blogger muda yang meraup ribuan dolar per bulan melalui 
aktivitas blogging. Pada umumnya, mereka melakukan blogging secara 
iseng seperti di blog "I Can Has Cheezburger" yang mendadak kondang. 
Si pemilik blog memasang foto kucing gendut dan komentar (caption) 
aneh. Kemudian, blog ini dikunjungi ribuan pengunjung dan banyak 
pihak memasang iklan.


Bagian kedua buku ini mengulas gambaran tentang masa depan karena 
setiap orang pasti ingin tahu bagaimana wujud masa depan itu. 
Berdasarkan 11 pola pikir yang telah ia bahas di bagian satu, 
Naisbitt mencoba menggambarkan bentuk masa depan yang akan kita 
hadapi. Di sini jelas ia menekankan bahwa prediksi yang dibuatnya 
berdasarkan pola pikir yang telah melekat padanya dan dibahas tuntas 
sebelumnya. Selain itu, sekaligus ini berfungsi sebagai alibi bahwa 
bila di kemudian hari prediksi yang dibuatnya meleset, ia bisa 
berkelit bahwa asumsinya adalah bagian pertama (11 pola pikir).


Di bagian akhir buku ini Naisbitt mengulas era evolusi yang 
merupakan lahan inovasi, bagi yang jeli mengeksplorasi peluang. Dia 
menyentil contoh sederhana: ditemukannya telepon yang secara 
perlahan mengurangi lalu lintas surat, yang merupakan sarana 
komunikasi zaman dulu. Namun kita menghadapi era gelap berikutnya, 
yaitu matinya seni surat-menyurat. Sederhana, tapi penuh makna.


Setidaknya ada tiga hal yang kita bisa petik dari buku ini. Pertama, 
perubahan sangat tergantung bagaimana kita memandangnya --tergantung 
pola pikir kita. Kedua, memang banyak perubahan, namun banyak yang 
tetap. Ketiga, kejelian kita mengidentifikasi perubahan dan 
mengeksplorasinya lebih lanjut merupakan kunci utama. Dengan kata 
lain, tergantung sikap kita.


Gatot Widayanto, Konsultan Manajemen

Sumber: 
http://www.korantempo.com/korantempo/2007/07/29/Suplemen/krn,20070729
,42.id.html

Edisi Indonesia bisa dibeli di www.zahra.co.id dengan DISKON 25% --> 
Rp 93.750 
(Harga awal Rp 125.000)

http://www.zahra.co.id/index.php?do=book.detail&id=978-979-1208-01-7





Kirim email ke