Prospek Bisnis Seni Pertunjukan Drama Kontemporer Di Indonesia
  (oleh: Darma Aji)
   
  Kebudayaaan manusia mengalami proses perkembangan yang sangat cepat. Secara 
berkala produk-produk pemuas kehidupan bermunculan. Kita pun ikut serta 
beradaptasi dengan perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam peradaban dunia 
 masa kini. Ambil contoh saja pola design pop-art bergaya minimalis menjadi 
trend, handphone yang sudah menyerupai fungsi note book, teknologi visual video 
dengan beragam kecanggihan yang mulai diperkenalkan kepada khalayak, serta 
masih banyak lagi hal lain peradaban baru manusia dijejaki. Sehingga saat ini 
manusia berada pada posisi nikmat. Seakan-akan segalanya bisa diatur dengan 
kecanggihan peradaban yang ditemukan manusia.
  Banyak para ilmuwan, budayawan, seniman, dan kaum religi berupaya untuk 
menyikapi keadaaan tersebut dengan kreatifitas berpikir yang berkompetitif pada 
perkembangan peradaban masa kini, peradaban yang disebut-sebut sebagai 
peradaban post modern. Peradaban yang berusaha meniadakan keanekaragaman budaya 
melalui persatuan menuju kemudahan manusia dan kemerdekaan atas kesulitan. 
Peradaban yang disinyalir oleh kaum “jadul” (jaman dulu) sesuatu yang berbahaya 
jika terus berkembang.
  Proses kreatif pun tidak mau ketinggalan untuk ikut-ikutan “hi tech”, 
berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan oleh 
peradaban. Orang tidak perlu lagi memiliki suara yang merdu untuk bisa menjadi 
penyanyi, cukup percayakan saja kepada mixer man, nada sumbang bisa diubah 
menjadi sebuah nada suara dengan daya tarik tinggi. Apalagi sudah ada sms. 
Hanya butuh dukungan untuk menjadi penyanyi, maka jadilah penyanyi. Perkara 
talenta menyanyi, kualitas menyanyi bisa dinegosiasikan kepada masyarakat yang 
dalam kondisi seperti itu bisa lebih tepo seliro.
  Pergulatan mengenai proses kreatif dalam peradaban kontemporer memang seru. 
Sama serunya dengan menonton film Band of Brother. Banyak tembak-tembakan yang 
terjadi. Tembak-tembakan antara pattern seni “jadul” dan keinginan kebebasan 
berekspresi “anak gaul”. Bahkan yang paling mengerikan adalah saat “adegan” 
seni tradisi mulai kehilangan bentuknya karena penjajahan budaya pop. Mana mau 
anak muda gaul jaman sekarang nonton wayang kulit semalaman? Jangan-jangan baru 
seperempat cerita, anak muda sudah entah dimana pikirannya. Terlelap nyenyak 
oleh dongeng sebelum tidur dalang. Atau jangan-jangan bahasa sastranya pun 
sudah kelewat tua ditelinga anak muda yang sudah terbiasa karena dipaksa 
mendengar bahasa elit, bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, pokoknya bahasa yang 
enggak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jadi mendingan nonton Oprah di 
televisi yang sudah ada teksnya kalau suatu saat ada bahasa Inggris yang enggak 
tahu artinya, bisa tahu artinya dan jadi vocabulary baru.
 Sekalian belajar bahasa asing, kalau-kalau nanti pergi ke Inggris.
  Untungnya masih ada beberapa orang pinter seperti Ernest Vanm Den Haag yang 
berusaha menjadi penengah. Komentarnya tentang budaya pop yang diistilahkannya 
sebagai budaya massa, ialah bahwa artikel produk massa tidak harus bernilai 
rendah, tetapi ia dimaksukan pada tingkat rata-rata selera. Untuk memenuhi 
semuanya (atau paling tidak beberapa) selera individu ia akan memaksakan pada 
yang lain. Karena tidak ada seorang pun yang memiliki semua selera. Rata-rata 
namun terdiri dari beberapa komposisi [1].
  Artinya, ia menyatakan bahwa sah-sah saja orang males nonton wayang kulit 
tradisional. Karena tidak semua orang suka musik yang mendayu, bahasa jawa 
kromo inggil yang mulai sulit dilidah generasi jaman sekarang. Lain halnya 
kalau pattern wayang kulit diakal-akalin sama musik pengiring yang 
kolaborasikan dengan chamber orchestra, atau barang kali dikombinasikan dengan 
musik-musik ilustrasi gubahan Andi Rianto. Pasti jadinya aneh, tapi orang 
penasaran kayak gimana sih jadinya? Hal semacam ini dalam buku karya John 
Storey yang berjudul Teori Budaya dan Budaya Pop dikatakan bahwa ada dua faktor 
yang menyebabkan “fenomena wayang kulit” tadi muncul yaitu imbalan finansial 
budaya massa dan besarnya audience potensial.[2] 
  Manusia jaman sekarang sedang suka-sukanya sama hal yang sensasional. Jadi 
sedikit saja ide nyeleneh yang mucul dan bisa diaktualisasikan dengan tepat. 
Maka bukanlah suatu hal yang tidak mungkin untuk mendapatkan keuntungan yang 
berlipat-lipat ganda. Tukul sudah membuktikan lewat aksinya yang sensasional, 
dengan berani dekat-dekat dengan perempuan cantik, seksi, dan public figur. 
Sementara Tukul sendiri mengakui bahwa dirinya dibawahnya rata-rata kebanyakan 
ketampanan lelaki. Tapi itulah sensasi dan Tukul berhasil memikat pemirsa lewat 
aktualisasi sensasi yang tepat. 
  Sekarang, kalau yang mau dibikin sensasinya adalah sebuah pertunjukan drama 
kontemporer? Waduh, deg-degan juga bicara soal ini. Soalnya masih terlalu 
banyak orang yang bisa ngamuk-ngamuk kalau soal seni drama. Apalagi orang 
tahunya kalau dunia drama dan teater para kreatornya terkenal dengan ikon-ikon 
berani seperti, bara api, ombak, terik surya, yang keras, penuh percaya diri, 
dan sampai-sampai rela jihad untuk keyakinan seninya.
  Tapi, mau gimana lagi. Namanya juga perjuangan. Perjuangan menjadi Chairil 
Anwar-nya seni drama. Sama seperti Chairil yang berjuang disaat pola ritme 
sajak menjadi keharusan, ia berontak dengan pola ritme sajak bebas. “Bodo amat 
ape kata lo dah!”, mungkin itu yang ada dalam pikirannya waktu nulis 
sajak-sajaknya semisal Kerawang-Bekasi. 
  Anak-anak muda yang gila drama atau teater mulai bereksperimen lewat kabaret. 
Gak perlu cape-cape olah vokal kayak di IKJ, STSI, atau ISI. Kan udah ada 
dubbing. Bahkan mau main drama di stadion bola juga bisa, selama ada clip on 
dan sound system segede gablek yang bisa kedengeran sampai tribun utara-selatan 
dan bara-timur, sudah cukup. Tapi, bagaiamana mengolah ide itu semua menjadi 
sebuah sajian yang hi tech, komersil, dan tetap berestetika itu persoalannya.
  Ketika drama Menunggu Dogot karya Sapardi Joko Darmono dipentaskan di CCF, 
background yang dipakai adalah sebuah tampilan visualiasi multimedia dengan 
aksen-aksen yang menggambarkan lorong panjang tak berujung, butir-butiran yang 
menyerupai air, dan panggung yang bisa diputar 360 derajat, kemana pun. 
Seolah-olah pertunjukan teater tersebut bisa dilihat dari berbagai sisi mata. 
Persis seperti keinginan sutradara film yang ingin mengambil adegan dari 
sudut-sudut dramatis tertentu. Penataan cahaya yang memantulkan siluet di layar 
putih memberikan kesan bahwa unsur estetika ingin disampaikan dengan cara 
maksimal dalam pagelaran “teater tanpa layar kaca”.  
  Tapi, pertunjukan yang tentunya dibuat dengan sungguh-sungguh tersebut bila 
dipertontonkan kepada masyarakat yang enggak pernah tahu apa itu teater atau 
drama. Pastinya rambut mereka langsung pada kriting. Stress untuk mengikuti 
jalan cerita yang disampaikan dengan narasi berbeli-belit tentang kata menunggu 
dan ditunggu. Apalagi Godotnya enggak datang-datang. Makin bete deh kalau 
masyarakat yang biasa nonton serial Intan, Hidayah, alias sinetron-sinetron 
yang laku berdasar pasar, diminta datang dan memberikan apresiasi. Tentunya, 
kita harus sadar pula bahwa penikmat drama dan teater seperti berarti masih 
eksklusif. 
  Beda sama seni serial drama elektronik Full House, Friends, atau Ratu, mau 
dari tukang terasi sampai filsuf pasti tahu bagaiamana cara 
mengapresiasikannya. Cuman perbedaannya lagi terletak pada jenis apresiasinya. 
Ada yang berapresiasi dengan langsung memberikan kritik ilmiahnya, tapi ada 
juga yang berapresiasi dengan alakadarnya saja, langsung dari hati, bergaya 
romantis.
  Mencermati kesenjangan fans antara seni drama kontemporer yang dipentaskan 
lewat layar kaca dan seni drama kontemporer yang dipentaskan di atas panggung, 
muncul ide bagaimana menarik fans baru yang bisa juga tertarik pada hiburan di 
atas panggung. Jangan cuman aksi panggung kelompok band Ungu, Peterpan, Radja, 
Kangen, yang bisa menarik ribuan massa, sampai harus ada yang membobol pintu 
tiket. Tapi, apakah mungkin seni drama kontemporer bisa juga menarik ribuan 
penonton? Sama halnya ketika Ada Apa Dengan Cinta dipentas dilayar kaca di 
tahun 2002 yang langsung menjadi target hiburan masyarakat yang mau gaul.
  Sama seperti Miles Production yang berusaha menjawab kerinduan publik 
terhadap film Indonesia yang dulu sempet mati suri. Green Symphony yang 
dimotori Sophan Ajie, Paskalis, Echa, dan Mykee lewat pementasan drama “Cepat 
Pulang, Bujang!” arahan M. Rizal, berusaha menjawab kerinduan masyarakat yang 
bosan dengan gaya teater atau drama yang rumit. Sebab, kalau penonton drama 
atau teater masih bersifat eksklusif, selamat deh! Tinggal menunggu waktu, 
kesenian drama atau teater yang dipentaskan di atas panggung hanya tinggal 
pelajaran sejarah yang dipelajari oleh cucu dan cicit kita di tahun 2100.
  Seni drama kontemporer harus mampu bersaing. Mampu menjadi sebuh industri 
yang kompetitif dengan sinetron dan film layar lebar. Maka dari itu perlu 
perjuangan bersama. Penggalian ide yang kreatif dan bisa mengena kemasyarakat 
luas. Berjuang mengubah pertunjukan drama menjadi inklusif di Indonesia. Mau 
sampai kapan, yang nonton acara drama cuman sama dengan jumlah penumpang bis 
Damri? Aduh stress deh gue!
  Penggarapan yang seimbang antara aspek komersialitas dan estetika khas seni 
drama yang terangkum dalam dramaturgi harus bisa saling berelasi dengan baik. 
Sebab, hal itu yang akan memberikan cirri khusus bahwa drama atau teater memang 
sesuatu yang amazing bagi dunia keaktoran maupun tata teknik pentas. Bukan 
berarti mentang-mentang kontemporer bisa seenaknya juga, ada rambu-rambu yang 
harus tetap dijaga untuk mencapai suatu hasil pertunjukan yang maksimal dan 
syukur-sykur jadi master piece. 
  Bicara tentang penggarapan drama atau teater yang kontemporer maka diperlukan 
sesuatu ide kreatif yang bisa mengikuti perkembangan jaman. Sesuatu yang bisa 
mengkomunikasikan fenomena, isu, dukungan moral, atau kritik sekalipun dengan 
cara yang renyah seperti kripik singkong. Tapi, bercita rasa tinggi, sehingga 
pertunjukan drama atau teater yang semula dikenal masyrakat sebagai pertunjukan 
yang tak dianggap sebagai hiburan, justru menjadi sebuah hiburan alternatife 
yang menjanjikan sebuah sensasi kreatifitas.
  Hal lain yang akan menjadi pertimbangan daya tarik dalam penggarapan seni 
pertunjukan drama kontemporer adalah ide yang ditransfomasikan pada gaya 
popular. Karena, peradaban masa kini adalah peradaban yang perlu rumit, cepat, 
blur, dan penuh sensasi. Sifat-sifat perdaban yang demikian memang kenyataan 
pahit bagi kreator seni yang kadang kala buntu dalam memproduksi ide yang 
berpedoman pada estetika pendramaan dalam kajian strukturalis. Entah bagaimana 
solusinya. Gua tambah puyeng!
  Hal terakhir yang perlu disikapi kini dalam prospek pertunjukan seni drama 
kontemporer adalah optimisme dan daya juang. Dunia hiburan di tengah masyarakat 
kita telah dikuasai oleh remote tv, chanel radio, MP4, DVD, film box office, 
ikon-ikon artis yang cantik-cakep. Maka, perlu kerja keras bagi pekerja seni 
drama untuk bisa menerobos melewati celah-celah kecil, mencuri-curi kesempatan, 
sampai akhirnya seperti ikan salmon yang berani menentang arus untuk sampai 
diperaduannya. Menjadi luar biasa ditengah kebiasaan-kebiasaan yang telah 
menjadi trademark hiburan masyarakat dewasa ini. Bukan mustahil tapi sulit. 
Sulit butuh kesabaran dan sekali lagi kerja keras. Doa apalagi, butuh pisan! 
Semoga aja kesampaian Broadway ada di Indonesia. Amin.
   
  (penulis: Sophan Ajie alias Darma Aji)
   
  
  
---------------------------------
      [1] Ernest Van Den Haag, “Of Happieness and Despair We Have No Measure” 
dalam Mass Culture, hlm 512
   

    [2] John Storey, Teori Budaya Pop dan Budaya Pop, hlm 53



       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

Kirim email ke