Agama/24-2007
-=-=-
Abdullahi An Naim:
Kita Suka Menyalahkan Orang
Ia seorang profesor di sekolah hukum yang cukup terpandang. Di Emory
School of Law, Atlanta Georgia, Amerika Serikat. Abdullahi An Naim,
61 tahun, begitu namanya, memang seorang akademisi yang baik. Tapi
pengalaman hidupnya juga menjadikannya seorang aktivis.
An Naim lahir di Khartoum, Sudan. Tatkala usianya belum lagi genap 40
tahun, ia harus meninggalkan tanah airnya. Rezim militer yang
mengambil alih kekuasaan telah melarang gerakan reformasi yang
dipimpin gurunya, Ustad Mahmud Mohammad Taha. Bahkan para penguasa
militer yang konservatif itu lalu mengeksekusi sang ustad.
An Naim pergi ke Amerika, meneruskan tradisi gurunya. Ia sekuler, tak
setuju negara Islam, menganggap Islam periode Mekah sebagai rujukan,
tak mengharamkan kepemimpinan perempuan, dan seterusnya. Tapi ia tak
setuju dengan kelompok-kelompok antisyariat yang terlalu sensitif.
Dialog antara si skularis dan konservatif harus dipelihara. Pekan
lalu, An Naim hadir dalam peluncuran bukunya yang diterjemahkan ke
bahasa Indonesia, Islam dan Negara Sekuler, Menegosiasikan Masa Depan
Syariah, di Jakarta (lihat Membela Sekularisme, Menyelamatkan Syariah).
Beberapa aktivis partai Islam berhasil mengegolkan syariat melalui
politik parlemen. Sebagian orang merasa terintimidasi. Bagaimana Anda
memandang fenomena ini?
Mereka tak akan bisa mempraktekkannya lebih jauh. Kalau dijalankan
terus, praktek syariat akan jadi dangkal. Implementasi syariat
direduksi jadi membubuhkan istilah Arab/Quran di jalan-jalan kota;
memaksa perempuan memakai pakaian tertentu; melarang khalwat. Tapi
soal ekonomi, sosial, politik--misalnya korupsi--yang membutuhkan
penanganan khusus, tak terjangkau. Sayang, syariat-syariat seperti
itu tidak menawarkan solusinya.
Tapi mereka mengajukan dalil dalam hadis?
Hadis ini telah berusia hampir 1.500 tahun. Masyarakat Indonesia
telah jadi masyarakat Islami selama ratusan tahun, dan tiba-tiba
sekarang mereka menyadari: menjadi muslim berarti harus berpakaian,
hidup dengan cara-cara ini. Padahal ini lebih merupakan simbolisme
politik ketimbang nilai-nilai yang mendasar. Muslim merupakan
seperlima dari umat manusia di bumi ini. Ada lebih banyak muslim di
Cina, di Afrika Subsahara, ketimbang di Timur Tengah. Islam begitu
luas, tapi di negara mana di antara 40 negara dengan penduduk
mayoritas Islam yang mempraktekkan hukum rajam bagi pezina dan
sebagainya. Yang mau saya katakan, kecemasan akan Islamisasi dan
implementasi syariat itu ahistoris. Indonesia sendiri telah beratus
tahun muslim, di mana orang-orang nonmuslim saat itu, dan mengapa
baru sekarang mereka merasa terancam.
Anda ingin mengatakan bahwa gejala ini produk dari kelompok tertentu?
Ada agenda politiknya. Ada kekuatan tertentu di Barat, juga di
masyarakat kita yang berusaha membesar-besarkan, menciptakan sensasi
yang menyudutkan Islam dan muslim untuk tujuan politik, dan ini
berkaitan dengan konflik Palestina-Israel.
Maksudnya Israel?
Bukan hanya Israel, tapi lobi Israel. Padahal cara ini tidak efektif,
dan hanya akan memberikan kesempatan bagi kaum fundamentalis, dan
menyudutkan mereka yang moderat. Lihat bagaimana media massa sayap
kanan senang menunjukkan hukum rajam. Percayalah, kebijakan ini juga
tidak menguntungkan Israel.
Bagaimana Anda menjelaskan fenomena Taliban?
Taliban hanya produk Afganistan. Produk masyarakat kesukuan yang
militan, militeristis, juga dengan kondisi alam yang keras. Ada
pembunuhan demi kehormatan keluarga (honor killing) dan pemerkosaan
berkelompok (gang rape) yang tidak Islami tapi dipraktekkan.
Anda mengatakan ada tangan Israel di balik propaganda menyesatkan
itu, kedengarannya seperti kaum apologetik yang menyalahkan Amerika,
Barat, atas segala kemunduran umat Islam.
Tidak, tidak begitu. Kita memang suka menyalahkan orang. Kemunduran
ini akibat kesalahan ulama kita, akibat imperialisme Amerika dan
seterusnya. Tapi saya mempertanyakan pertanggungjawaban kita: apakah
kita akan menolong korban atau justru terus memainkan peran sebagai
korban. Suka atau tidak, itu semua telah terjadi dan tak akan
berubah. Kita yang harus berubah.
Judul buku Anda menyebut Menegosiasikan Masa Depan Syariah. Apa maksudnya?
Ini semua proses negosiasi. Partai-partai Islam seharusnya lebih
menawarkan nilai ketimbang kebijakan. Sebaliknya, mereka yang liberal
sekuler juga menyodorkan nilai-nilai sekuler. Dan apa yang akan
muncul pada akhirnya adalah sebuah kompromi. Pertanyaannya sekarang,
apakah orang-orang liberal tertarik dalam negosiasi ini, atau
mengundang militer ataupun alat politik yang otoriter untuk
menghadapi "ancaman" itu. Ironis sekali melihat apa yang terjadi pada
1992. Kaum intelektual sekuler Aljazair mentoleransi, bahkan
menyambut intervensi angkatan bersenjata demi menyelamatkan mereka
dari FIS, partai Islam-oposisi yang menang pemilu. Dari situ, negara
itu terseret ke dalam perang saudara yang sangat berdarah sepanjang 15 tahun.
Yang terjadi di Turki juga sama. Militer mencoba melindungi negara
dari partai Islam yang populer. Dalam buku saya menyebutnya
kontradiksi dalam sekularisme totaliter. Poin yang saya ajukan:
mengapa intelektual di Indonesia terbelah dua. Memilih pendangkalan
syariat--atau juga penegakan hukum yang mengganggu kenyamanan orang
dengan gaya hidup liberal; atau menganggapnya ancaman besar,
seolah-olah itu akan mengakhiri peradaban yang telah dibangun. Saya
mengatakan: terlibatlah dalam debat, belajarlah tentang apa arti
syariat, dan belajarlah tentang sejarah perjalanan masyarakat Islam.
Apa sesungguhnya yang ingin Anda katakan tentang syariat?
Yang saya serukan adalah demistifikasi syariat. Syariat ber-evolusi,
juga tidak ada dalam Quran dan Sunah. Itulah produk perkembangan
intelektual dan teologi selama 200-300 tahun, dan oleh manusia.
Bahkan saya mau mengatakan bahwa syariat itu sekuler. Karena itu
berasal dari sumber-sumber sakral yang dibumikan ke dalam kehidupan
sehari-hari. Kita semua sudah sekuler; kita produk bumi ini. Kita
memang memperoleh bimbingan dari sumber-sumber yang kudus, tapi Islam
datang ke pada kita yang manusia, bukan malaikat. Islam tentang dunia
ini, bukan hidup sesudah ini. Dan intelektual harus belajar tentang
sejarah, bagaimana syariat berkembang. Inilah konstruksi manusia;
kita bisa merekonstruksi atau mendekonstruksi.
Tapi Anda sepertinya juga memainkan peran seorang mediator antara si
konservatif dan sekuler?
Kalangan konservatif menganggap negara sekuler itu antiagama.
Sekularisme seperti setan yang jahat, yang akan menghancurkan moral
kita. Sebaliknya juga pandangan kaum sekuler. Keduanya saling curiga,
dan mencoba memperlihatkan gambaran yang terburuk tentang lawannya.
Gambaran yang selalu dilebih-lebihkan. Solusinya, sekarang semua
harus menghormati prinsip pemerintahan yang konstitusional, proses
politik yang demokratis, dasar-dasar hak asasi manusia. Kalau ada
yang bergerak di luar aturan main itu, kita wajib menolaknya. Kita
melihat ada kudeta, baik oleh fundamentalis maupun sekularis.
Sekularisme juga bisa setotaliter ideologi religius.
Menurut Anda, Islam yang sesungguhnya itu yang mana?
Ada dalam hati dan pikiran orang-orang Islam. Quran dan hadis adalah
sumber yang selalu saya baca, untuk memahami apa yang disampaikan
Tuhan kepada rasul-Nya. Tapi saya harus menyebut, Islam adalah juga
apa yang diperlakukan oleh kaum muslim itu sendiri terhadap agamanya.
Ada di dalam hati dan pikiran orang Islam, ketimbang dalam kitab
maupun hadis. Ada hadis qudsi: Aku (Tuhan) tidak merujuk pada yang di
surga dan dunia. Aku lebih merujuk pada apa yang terdapat di hati dan
pikiran mereka yang beriman.
Anda membuka pintu terhadap ijtihad. Siapa yang berhak melakukannya?
Semua. Harus begitu, soalnya siapa yang menentukan orang-orang yang
layak. Harus demokratis. Saya mengatakan, Islam secara teologis
sangat demokratis; tapi secara sosiologis belum demokratis. Teologi
Islam adalah tanggung jawab pribadi, dan bertanggung jawab atas
segalanya yang saya katakan dan perbuat. Jadi, tak ada restriksi sama
sekali. Tak boleh ada sensor. Kalau ada yang mau meninggalkan Islam,
pintu harus terbuka. Tak ada paksaan dalam agama.
Apakah itu ajaran Muhammad?
Ya. Tapi kita sering salah tafsir. Lihat hijrah. Hijrah bukan simbol
kemenangan Islam. Hijrah adalah kebebasan untuk meninggalkan negeri
yang opresif. Kebebasan itu penting. Saya rasa tradisi Sufi yang
toleran lebih representatif dibanding dengan yang lebih formal,
legalistis. Sufi lebih introspektif, kritis terhadap diri sendiri,
bersahaja, tidak menilai orang.
***-/**
(Majalah Tempo, 12 Agustus 2007)