Ketakutan menerjemahkan Quran, memuja bahasa asli Quran sepertinya juga termasuk kemusyrikan. Karena Allah SWT tentu tidak hanya bisa berbahasa arab, termasuk juga pemahaman budaya arab yang dimutlakkan seolah-olah kewajiban yang harus diterapkan disemua penjuru dunia merupakan kebodohan cara memahami. Coba sedikit diubah menjadi lebih cermat dan analitis maka maknanya akan tercerna dan pelaksanaannya tidak main mutlak-mutlakan, berebut klaim kebenaran, apalagi menghalalkan darah orang lain yang dianggap kafir. Keaslian text tidak menjamin kesatuan pemahaman, hal itu terbukti bahwa sampai sekarang banyak pemahaman tetap berbeda, bukan ?? Kajian pemahaman Islam yang lebih demokratis seperti jaman Syeh Siti Jenar dan Sultan Agung justru dipinggirkan dan bahkan dimusnahkan. Konon ada efek kesalah pahaman, tetapi tidak seharusnya kemudian dibabat habis, kenapa tidak dicoba dieliminir efeknya tetapi cara pemahamannya diadopsi. Itu memang perlu kreativitas keberagamaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang2 yang paham benar apa, mengapa dan bagaimana beragama. Korbannya adalah umat yang bingung harus mengikuti yang mana, dan sementara itu mau mebaca sendiri terlalu sulit (atau sengaja dibikin sulit supaya seolah-olah hanya orang yang ahli agama yang bisa paham bahasa Tuhan?), saya percaya Allah SWT tidak pernah memilih-milih bangsa maupun bahasa karena semua bangsa dan bahasa adalah ciptaanNYA sebagai yang Maha Kaya dan Maha Mampu. Pahala Illahi juga jangan disimplifikasikan hanya dengan naik Haji lalu langsung dapat pahala yang berlipat ganda (minimal pemahaman umat awam sampai sekarang seperti itu), artinya pahala bisa dibeli. Orang boleh bilang bahwa berhaji bukan hanya modal harta tetapi juga niat, KENYATAANYA ? banyak orang asal punya harta bisa mengatur niat untuk berhaji tanpa ada perubahan mentalitas. SALAH SIAPA ?? Biaya haji mahal, siapa yang kaya ?? siapa yang miskin ?? Siapa yang dipermiskin dan siapa yang diperkaya ?? Banyak koruptor disanjung-sanjung karena berhasil membangun banyak Masjid atau menyumbang pembangunan Masjid2 tanpa ada kritik dari mana asalnya sumbangan itu. ARTINYA ? mirip dengan 'money loundrying', bukan ? SALAH SIAPA ? DAU yang seharusnya sebagian dialokasikan untuk pembangunan Masjid2 itupun ternyata dikorup, akibatnya pembangunan Masjid harus minta sumbangan di jalanan dengan mempersempit jalan umum dan mengganggu lalulintas. SALAH SIAPA ?? Jadi untuk menjadi pintar pahamilah dahulu Agamamu dengan cerdas, baru kemudian bisa memahami ilmu yang lain. Karena memahami ilmu yang lain dengan pemahaman agama yang primitif tidak akan efektif. Tidak ada kata terlambat untuk insyaf dan sadar. Wallahu'alam bisawab, silakan direnungkan.
On 8/3/07, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.indomedia.com/bpost/082007/3/opini/opini1.htm > > > *Islam dan Problem Kemiskinan* > * > > Oleh: Agus Wibowo > *Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta > > > > Kemiskinan merupakan kenyataan Data Bank Dunia November 2006 menyebut > kemiskinan di Indonesia 149 juta jiwa (49 persen) dari total penduduk > Indonesia 200 juta jiwa. Data Susenas 2006 membuktikan tahun 2005 angka > kemiskinan mencapai 35,10 juta (15,97 persen), meningkat menjadi 39,05 juta > atau 17,75 persen (2006). Yang tidak bisa dipungkiri. Agenda reformasi yang > diharapkan menjadi pendulum pengentasan kemiskinan, justru semakin menambah > kuota kaum miskin. Bergulirnya kebijakan yang tidak proporsional, pada > gilirannya menghilangkan sentra lapangan kerja yang berimbas pada > melonjaknya angka pengangguran. > > Tidak bisa dinafikan, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, dan > sebagian besar merupakan anggota kaum miskin. Pada titik ini patut > dipertanyakan fungsi esensial agama Islam sebagai elan pembebasan sekaligus > *rahmatan lil alamin*. Islam belum mampu menampakkan jati dirinya, atau > mungkin justru tertutup umatnya yang tidak mau membuka diri (*close > thingking*). > > Ide-ide jenius Islam baru dalam tataran kognitif, abstrak, cenderung > mistis dan sebatas menjadi wacana yang diperbincangkan dalam pelbagai forum, > tetapi kering untuk tidak mengatakan tidak ada aksi nyata dalam kehidupan. > > *Stop Perpecahan!* > > Sampai detik ini, masih terdengar silang-sengketa di kalangan umat Islam > terkait siapa yang paling benar. Sejatinya, sengketa ini hanya menguras > energi kita dan memalingkan pada substansi yang mesti dihadapi umat Islam > seperti pengembangan demokrasi, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, > pengembangan pendidikan, serta penanganan bencana dan kemiskinan. > > Apa yang menjadi buah pemikiran KHA Dahlan yang diteruskan Syafi'i Maarif > lewat Muhammadiyah-nya, mestinya menjadi 'kaca benggala' bagi golongan atau > ormas Islam lain untuk bersatu padu melawan musuh bersama (*come enemy*), > yaitu kemiskinan. Setidaknya Muhammadiyah lewat berbagai amal usahanya, > selangkah lebih maju menjadikan umat Islam disegani dan berwibawa dalam > setiap jengkal kehidupan > > Substansi Islam sebagai elan perubahan yang disimbolkan dengan hijrah Nabi > Muhammad SAW, mesti terus digali lewat kreativitas-kreativitas yang > senantiasa bersentuhan dengan seluruh aspek kehidupan. Bukankah Islam > sendiri mengajarkan bahwa umatnya yang mau ber-ijtihad, meskipun salah bakal > mendapat satu pahala? > > Sudah saatnya tafsir semangat Islam sebagai theologi pembebasan yang > selama ini di menara gading, membumi dengan umatnya. Dengan kata lain, > melakukan transformasi pemahaman keagamaan dari sekadar doktrin-doktrin > sakral dan "kurang berbunyi" secara sosial menjadi kerja sama untuk > pembebasan manusia dari tingkat elite hingga menyentuh lapisan bawah. > > Sudah waktunya setiap ibadah bernilai sosial bukan individual. Dengan kata > lain, dimensi vertikal mesti membawa dimensi horisontal. Misalnya ibadah > haji, mestinya tidak lagi dipandang sebagai aspek prafon-individual, tetapi > membawa kemaslahatan bagi masyarakat di sekitarnya. Atau, tidak sebatas > memperkuat dimensi kesalehan individual sebagai bentuk *personal piety*, > tetapi juga digerakkan menjadi theologi kerja yang berpihak kepada kaum * > mustad'afin*, berperspektif *social piety* (Zuly Qodir, 2007). > > Sebagaimana pendapat Prof Suyanto Phd bahwa orang yang berhaji lebih dari > dua kali, sementara mengabaikan lingkungan dan bangsanya yang dilanda > kemiskinan, tak lebih orang yang egois. Ironisnya, umat Islam justru semakin > giat berlomba-lomba menambah jumlah hajinya tanpa memikirkan lingkungan > sosialnya. Gelar haji seakan menjadi penanda status feodal baru. Padahal, > Nabi Muhammad sendiri tidak memakai gelar haji? > > *Memajukan Pendidikan* > > Menurut Islam, kemiskinan bertalian erat dengan kebodohan. Sementara > kebodohan menjerumuskan pada fundamentalisme dan kekhufuran. Jika demikian > halnya, mengapa umat Islam Indonesia masih enjoy dalam lembah kemiskinan dan > kekhufuran? > > Banyak peneliti sosial menyatakan, jeratan kemiskinan bakal membawa dampak > adanya fundamentalisme agama. Sebab, mayoritas umat memandang proses politik > dan kebijakan negara yang tak adil atas umat Islam sehingga melahirkan > radikalisasi atas kebijakan negara. > > Lantaran kebodohan pula umat menjadi merasa paling benar, sementara umat > lain salah, hilang semangat pluralisme, inklusif dan tanpa sadar menjadi > kaki tangan atau jaringan teroris. > > Saatnya umat Islam bangkit mengusir kemiskinan, dengan meningkatkan > kualitas pendidikan sebagai strategi pemberantasan kemiskinan jangka panjang > dan pembangunan berkelanjutan. Ketergantungan terhadap sektor pendidikan > pemerintah (negeri), sedikit demi sedikit dikurangi dengan penghidupan > sentra ruang ibadah sosial (zakat, sodakoh dan sebagainya). Bagi kaum > berada, ditumbuhkan kesadaran sekaligus semangat menjadi orangtua asuh bagi > putra-putri saudara muslim yang tengah dilanda kemiskinan. > > Para pemuka Islam yang kebetulan duduk di pemerintahan, mesti memanfaatkan > amanah bukan hanya untuk dirinnya dan keluarganya saja. Tetapi mesti > mentauladani Nabi Muhammad SAW yang menempatkan 'tahta' bagi umatnya. Umat > Islam Indonesia butuh pemimpin-pemimpin sekaliber khalifah Umar bin Kattab, > yang rela berlapar-lapar hanya untuk mengetahui kondisi rakyatnya. > > Sudah saatnya umat Islam bersatu padu merekatkan solidaritas dan jalinan > ukhuwah islamiyah, melalui tindakan praksis, simultan dan berkelanjutan. > Umat Islam tidak butuh da'i atau tokoh agama yang hanya mementingkan dirinya > sendiri, serta menjual agama demi nafsu keserakahannya. Tetapi, yang > dibutuhkan adalah pemimpin yang tanggap terhadap penderitaan, kesedihan dan > kegundahan umatnya. > > e-mail: [EMAIL PROTECTED] > > ** >
