Sejujurnya, saya merasa bersyukur karena tanpa saya minta, koran Sindo 
membantu mempublikasikan situs BelajarMenulis.com yang saya kelola.

Bukan ISI ARTIKEL-nya yang hendak saya bahas di sini. Tapi begini ceritanya:

Beberapa hari lalu, ada seseorang yang mengajak saya ngobrol tentang 
kegiatan "sekolah-menulis online" yang diadakan oleh situs 
www.belajarmenulis.com .

Saya pun meladeni obrolan dia dengan sewajarnya.

Saya benar-benar tak menduga, hasil obrolan kami tersebut dimuat di 
koran Sindo.

Selengkapnya baca di 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/gaul/jadi-penulis-bukan-lagi-impian.html

Sekali lagi, bukan isi beritanya yang saya permasalahkan. Dari isi 
berita, terus terang saya justru  merasa perlu berterima kasih pada 
koran Sindo.

Tapi:

- kenapa orang tersebut tidak bercerita bahwa dia sedang mewawancarai saya?

- kenapa dia tidak menceritakan bahwa hasil obrolan kami akan dimuat di 
Koran Sindo?

Ya, ini masalah etika sebenarnya. Saya kira, setiap wartawan perlu 
benar-benar belajar tentang etika jurnalistik. Kalau semua wartawan 
berperilaku seperti oknum Koran Sindo tersebut, APA KATA DUNIA?

maaf bila tidak berkenan

wassalam

Jonru


NB: Masalah ini juga saya tulis di blog pribadi saya, di 
http://jonru.multiply.com/journal/item/444/Saya_ganti_nama_jadi_JUNRO_

(hm.. ternyata si oknum bahkan salah dalam menulis nama saya!)


-- 
Thanks & wassalam

Jonru
Founder PenulisLepas.com
http://www.jonru.net/


Kirim email ke