Hahaha.... Saya lihat dengan mata kepala sendiri, ada warga miskin yang 
antri berobat di puskesmas di daerah terpencil, sambil asik bertelepon 
ria menggunakan handphone seharga jutaan rupiah. 

Hebat memang negeri kita ini. Mudah2an pola pikir seperti ini bisa 
segera diberantas. 


---------------------------------
Kisah Negeri Termiskin!
Posted by: "Sunny" [EMAIL PROTECTED] 
Date: Tue Aug 7, 2007 8:06 am ((PDT))

http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007080701032116

      Selasa, 7 Agustus 2007 
     
      BURAS
          
Kisah Negeri Termiskin! 

       
      H.Bambang Eka WIjaya:



      SEORANG pengembara tiba di negeri subur, tapi rakyatnya yang 
giat bekerja keras miskin. "Kok bisa begini?" ia tanya kepala desa.

      "Miskin itu cuma soal statistik!" jawab kepala desa. "Itu 
strategi warga dan pemerintah daerah agar negerinya tercatat 
termiskin!"

      "Buat apa strategi itu?" kejar pengembara.

      "Jika saat didata warga mengaku miskin, ia akan dapat banyak 
macam bantuan! Mulai bantuan langsung tunai (BLT), jatah beras miskin 
sekilo seribu, askeskin atau berobat gratis, sampai anaknya dapat 
bantuan untuk murid di sekolah!" jelas kepala desa. "Di tengah krisis 
ekonomi, itu amat menolong!"

      "Tapi data kemiskinan bukan berdasar pada pengakuan, tapi 
dihitung dari konsumsi keluarga!" timpal pengembara. "Berarti ia 
tercatat miskin karena tingkat konsumsi bahan pokoknya rendah, di bawah 
standar!"

      "Pencatatnya dapat data kan dari menanya warga?" tegas kepala 
desa. "Berarti dari pengakuan juga, kan?"

      "Tapi warga negeri ini secara kultural dikenal punya rasa harga 
diri yang tinggi! Malah cenderung bergaya pantang tak hebat!" lanjut 
pengembara. "Jadi, diperkirakan justru sebaliknya, meski ia makan nasi 
gaplek akan mengaku makan nasi beras! Bukan beras asalan pula, 
melainkan beras super!"

      "Huahaha..!" kepala desa terbahak. "Soal gaya, secara kultural 
memang begitu! Tapi ketika akan ada bantuan dari pemerintah, mereka 
jadi tak sungkan lagi merendah, mengaku miskin agar dapat bantuan!"

      "Sebab itu, Pak Lurah tak resah mayoritas warga desa Bapak 
tercatat miskin?" kejar pengembara.

      "Pengakuan warga itu justru menguntungkan pemerintah daerah!" 
tegas kepala desa. "Jika kabupaten atau provinsinya tercatat sebagai 
daerah tertinggal atau malah termiskin, akan mendapat dana khusus 
daerah tertinggal dari APBN! Apalagi masuk kelompok termiskin, jumlah 
dananya bisa jauh lebih besar lagi! Contohnya desa kami ini, dengan 
masuk termiskin, tahun ini saja dapat bantuan Rp1 miliar! Itu di luar 
yang diterima langsung oleh warga tadi, termasuk warga yang dapat 
program bedah rumah senilai Rp5 juta!"

      "Pantas Pak Lurah tak risi atau malu mayoritas warganya miskin 
dan desanya masuk termiskin?" lanjut pengembara.

      "Kenapa risi atau malu?" sambut kepala desa. "Pertama, 
kenyataannya memang begitu! Kedua, bukankah kriteria miskin itu justru 
mendatangkan banyak bantuan?"

      "Tapi tugas dan kewajiban pemerintah, dari lurah, bupati, 
gubernur, dan pusat kan meningkatkan kesejahteraan rakyat!" timpal 
pengembara. "Apakah makin banyak orang miskin di daerahnya bukan 
berarti pemerintah semua tingkat tadi telah gagal dalam menjalankan 
kewajibannya?"

      "Tugas meningkatkan kesejahteraan rakyat itu kan cuma teori!" 
tegas kepala desa. "Prakteknya, lihat sendiri! Segala sesuatu 
dijabarkan dengan proyek!"

      "Tapi mayoritas proyek lebih ditentukan keinginan pejabat, bukan 
relevansinya pada peningkatan kesejahteraaan rakyat, apalagi 
kemiskinan!" tegas pengembara. "Maka itu, kemiskinan malah jadi 
unggulan--'dijual' sekadar untuk meningkatkan kucuran dana ke daerah--
tapi tidak sepenuhnya digunakan untuk kemiskinan itu sendiri!"

Kirim email ke