Dear all,
sejumlah pendekar jagad maya dan yang peduli mulai mengirimkan
kesetujuannya pada "Penyataan Sikap" spt diatas tsb, namun telah
dilontarkannya ke mailing lists.

Silahkan dikirimkan ke Bpk Andreas Harsono, [EMAIL PROTECTED]
yang akan menambahkannya pada daftar yang setuju. Tentu dapat
dikirimkan ke Bpk AH dan sekaligus ke milis-milis juga.

Dibawah ini juga pandangan matanya sekait Pertemuan di TIM tentang
aksi protes itu yang mulai snow balling tsb..

demikianlah, dan terimakasih,
salam, Bismo DG


----- Original Message ----- 
From: "Andreas Harsono" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "BDG KUSUMO" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, August 07, 2007 12:59 PM
Subject: Re: [nasional-list] Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah


Dengan hormat,

Saya akan masukkan dalam daftar lanjutannya. Rekan-rekan tadi rapat, sesudah
pertemuan pers, namun saya tak ikut. Saya dengar-dengar mereka merencanakan
menggugat secara hukum. Terima kasih. (ah)


Pertemuan Protes Pembakaran Buku di Jakarta

Oleh Andreas Harsono

JAKARTA (7 Agustus 2007) -- Lebih dari seratus orang hadir di Taman Ismail
Marzuki Selasa ini untuk protes perampasan dan pembakaran buku pelajaran
sekolah oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan ujung
tombak kejaksaan-kejaksaan negeri, di seluruh Indonesia.

Franz Magnis Suseno, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, mengatakan
dalam pertemuan ini bahwa tindakan membakar buku adalah perbuatan barbar,
perbuatan yang anti peradaban, ³Barbarisme ini jangan dibiarkan tanpa
ditantang.²

Dibakarnya buku-buku pelajaran sejarah, menurut Suseno, merusak upaya
dibangunnya suatu pemahaman akan ³bangsa Indonesia.² Nation-building takkan
jalan baik bila ingatan akan sejarah dimanipulasi oleh penguasa. ³Kalau
sejarah itu bohong, kebangsaan itu akan terganggu serius,² kata Suseno.

Penulisan sejarah memang bisa menciptakan ambiguitas namun orang muda harus
belajar. ³Apakah PKI terlibat, itu belum jelas. Namun yang objektif, nama
Gerakan 30 September adalah nama yang dipilih oleh gerakan (Letnan Kolonel
Untung) itu sendiri,² kata Suseno.

Pertemuan dilakukan dalam satu ruangan luas, yang biasa dipakai untuk
pertunjukan sandiwara. Ada satu meja panel dimana duduk Suseno, novelis Ayu
Utami, politikus Ganjar Pranowo (sekretaris Fraksi PDI-Perjuangan DPR),
penerbit Setia Darma Madjid (ketua Ikatan Penerbit Buku Indonesia), arsitek
Marco Kusumawijaya (ketua Dewan Kesenian Jakarta),  serta M. Ridha Saleh
dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Dekat panel ada satu layar lebar menayangkan gambar-gambar rekaman SCTV
tentang pembakaran buku di Semarang, Samarinda dan sebagainya. SCTV merekam
para pegawai negeri merobek-robek buku sejarah.

Ada yang dihancurkan lewat mesin penghancur kertas. Ada yang diletakkan
dalam tong kosong, dibelah separuh, lalu disulut dengan api. Ada juga
keterangan pers yang direkam dan disiarkan SCTV. Kebanyakan para pembakar
berseragam coklat muda, seragam kejaksaan Indonesia.

Penerbit Setia Darma Madjid menyatakan kekesalannya pada pembakaran ini.
Madjid mengatakan larangan buku-buku, yang tak mencantumkan kata ³G30S/PKI,²
baru muncul pada Maret lalu oleh Jaksa Agung Abdul Rachman Saleh. Pada bulan
April, organisasinya mengirim surat kepada Jaksa Agung namun tak ditanggapi
karena Presiden Yudhoyono lebih dulu memberhentikan Abdul Rachman Saleh.

Pada bulan Juni, organisasinya kembali mengirim surat, minta agar keputusan
itu diralat. Hal yang dianggap memberatkan, bisa saja, ditempeli kertas
kecil, atau kalau memang tak tertolong, para penerbit bisa menyimpannya di
gudang.

Madjid mengatakan buku-buku itu ditulis dan diterbitkan oleh sejarawan dan
perusahaan, yang jelas dan bertanggungjawab terhadap karya mereka. Buku-buku
itu dibuat juga berdasarkan kurikulum 2004. ³Pemerintah juga
bertanggungjawab karena kurikulum itu tak mengatakan harus menyebut
G30S/PKI,² katanya.

³Penerbit sekarang ini digerebek kayak bandar narkoba, ditayangkan di TV.
Kesannya penerbit ini insan yang membelokkan sejarah,² kata Madjid.

Pertemuan dibuka oleh Marco Kusumawijaya, ketua Dewan Kesenian Jakarta, yang
menyambut kedatangan cendekiawan, wartawan, seniman dan semua orang dalam
protes terhadap pembakaran buku-buku pelajaran sejarah. Marco menyerukan
agar orang-orang yang prihatin dengan pembakaran buku ini untuk bergerak dan
menggunakan jalur-jalur hukum mencegahnya. DI layar juga ditunjukkan
gambar-gambar ketika rezim Adolf Hitler membakar buku-buku di Berlin.

Di deretan pengunjung hadir orang-orang yang ikut mendukung petisi agar
pemerintahan Yudhoyono minta maaf atas tindakan pembakaran buku ini. Di
antaranya ada Daniel Dhakidae (penulis buku ³Cendekiawan dan Kekuasaan dalam
negara Orde Baru²), Hamid Basyaib (Freedom Institute), Hilmar Farid
(sejarawan, Jaringan Kerja Budaya), Ariel Heryanto (kolumnis Kompas, dosen
Universitas Melbourne) dan lainnya.

Ariel Heryanto didaulat bicara. Dia mengatakan pembakaran ini merupakan
simbol bahwa reformasi sebenarnya belum mulai. Dia juga bilang ada teori
bahwa orang-orang ini, yang membakar buku, sudah baca sejarah rezim komunis
Tiongkok. Rezim itu tersebut membakar banyak sekali buku, bukan hanya buku
pelajaran tapi juga sastra dan lainnya. ³Jangan-jangan yang membakar ini (di
Indonesia) terlalu kagum pada komunis?² Ariel tersenyum.

Ridha Saleh mengatakan pembakaran buku ini, dimana pemerintah menggerebek
sekolah-sekolah guna mencari buku sejarah, adalah teror terhadap dunia
pendidikan di Indonesia. ³Negara telah melanggar hak orang untuk mendapat
informasi yang benar,² kata Ridha.

Inilah peristiwa yang pertama kali terjadi di Indonesia dimana buku
pelajaran sekolah dirampas dan dibakar negara. Dulu juga terjadi pembakaran
namun bukan buku pelajaran.

Ganjar Pranowo menilai pembakaran ini adalah ³kebodohan pemerintah.² Tiap
hari, politisi di Dewan Perwakilan Rakyat mendorong kenaikan anggaran
pendidikan. Tapi di sisi lain, buku-buku pendidikan dibakar. ³Ini tindakan
yang bodoh,² kata Pranowo. ***


Laporan ini saya buat sambil saya duduk menikmati pembicara orang-orang di
Taman Ismail Marzuki. Saya sendiri termasuk orang yang tak setuju pembakaran
buku.




On 8/7/07 2:24 PM, "BDG KUSUMO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya setuju dengan Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah.
> Wassalam,
> Bismo D. Gondokusumo
> ekonom,
> Praha, Czech Rep
>
> ----- Original Message -----
> From: tossi20 <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, August 07, 2007 4:02 AM
> Subject: [nasional-list] Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah
>
> Anda setuju? Layangkan email dengan mencantumkan nama Anda (dengan
> profesi/institusi) kepada "[EMAIL PROTECTED]".
>
> trims, salam, tossi as
>
> ==================================================================
>
> Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah
>
> "Where books are burned, human beings are destined to be burned
> too..."*
> -- Heinrich Heine
>
> P
> ada 20 Juli lalu, Kejaksaan Negeri Depok membakar 1.247 buku sejarah,
> bahan pelajaran sekolah menengah pertama dan atas, karya guru-guru
> sejarah. Pembakaran ini dilakukan Kepala Kejaksaan Negeri Bambang
> Bachtiar, Kepala Dinas Pendidikan Asep Roswanda dan Walikota
> Nurmahmudi Ismail.
>
> Penyitaan maupun pembakaran buku-buku sejarah ini juga terjadi di
> Bogor, Indramayu, Kendari, Kuningan, Kupang, Pontianak, Purwakarta
> dan kota-kota lain di Indonesia. Dasar hukumnya, menurut para jaksa,
> adalah keputusan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh pada Maret 2007
> dimana Kejaksaan Agung melarang buku-buku itu yang dibuat dengan
> dasar kurikulum pendidikan tahun 2004. Mereka dituduh tak
> mencantumkan kata "PKI" dalam menerangkan Gerakan 30 September 1965.
> Penelitian terhadap isi buku-buku sejarah itu dilakukan Kejaksaan
> Agung atas permintaan Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo.
>
> Kami prihatin menyaksikan peristiwa ini. Pembakaran buku ini
> mengingatkan kami pada pembakaran buku-buku yang dilakukan di Berlin
> dan berbagai kota lain di Jerman pada Mei 1933. Ketika itu, sambil
> menyanyikan lagu-lagu Nazi, para pendukung Adolf Hitler tersebut
> menghanguskan buku-buku karya Sigmund Freud, Albert Einstein, Thomas
> Mann, Jack London, HG Wells serta berbagai penulis lain. Buku-buku
> itu dianggap musuh Nazisme.
>
> Kami menyayangkan peristiwa pelarangan dan pembakaran buku ini, yang
> bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Membakar dan merusak buku,
> dengan dalih apapun, merupakan tindakan yang lebih berbahaya dan
> lebih biadab daripada sensor atau pelarangan.
>
> Kami belum tentu setuju dengan isi dari buku-buku itu. Namun kami
> tidak setuju pembakaran. Sulit untuk tak menyamakan pembakaran buku-
> buku ini dengan apa yang telah dilakukan kaum Nazi. Sulit juga bagi
> kami untuk menyamakan tindakan pembakaran ini dengan semangat
> fasisme, yang anti demokrasi dan anti hak asasi manusia.
>
> Pembakaran buku menunjukkan bahwa pelaku pembakaran tak dapat
> menerima perbedaan pandangan, sesuatu yang niscaya dalam demokrasi.
> Lebih dari itu, pembakaran buku juga merupakan bentuk teror, tindakan
> menakut-nakuti bagi orang yang hendak menulis buku, dalam perspektif
> yang berbeda dengan penguasa.
>
> Membakar buku merupakan tindakan kaum fasis yang tak pernah toleran
> kepada pendapat lain. Benito Mussolini, tokoh Itali yang
> memperkenalkan fasisme, merangkan bahwa fasisme adalah segala sesuatu
> untuk memerangi sistem dan ideologi demokrasi, serta melawannya dalam
> aras teori maupun praktek.**
>
> Oleh karena itu, atas dasar akal sehat dan demokrasi, kami menyatakan:
>
> PERTAMA, menuntut permintaan maaf secara terbuka para pelaku
> pembakaran buku sejarah di Depok dan kota-kota lain, atas tindakannya
> yang bertentangan dengan sila kedua dalam Pancasila dan Undang-Undang
> Dasar 1945.
>
> KEDUA, menuntut kepada pemerintah di semua tingkatan, terutama
> jajaran kejaksaan, untuk tak lagi menyikapi perbedaan pendapat dengan
> teror dan tindakan menakut-nakuti atau membakar buku -- melainkan
> dengan membuka dialog ataupun debat publik secara terbuka demi
> melindungi demokrasi.
>
> KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan
> apapun. Bila terdapat perbedaan pandangan yang diwakili sebuah buku,
> hendaknya dijawab dengan menerbitkan buku baru yang mencerminkan
> pandangan yang berbeda -- bukan dengan larangan.
>
> Demikian pernyataan kami. Semoga demokrasi di negeri ini tetap abadi.
>
> LAWAN FASISME, REBUT DEMOKRASI!
>
> Jakarta, 7 Agustus 2007
>
> Masyarakat Pencinta Buku Dan Demokrasi**
>
> Abdul Malik (aktivis Garda Kemerdekaan)
> Abdullah Alamudi (Dewan Pers)
> Abdurrahman Wahid (mantan presiden Republik Indonesia)
> Agus Suwage (pelukis tinggal di Jogjakarta)
> Ahmad Taufik (wartawan majalah Tempo, seorang deklarator Aliansi
> Jurnalis Independen)
> Alex Asriyandi Mering (wartawan, Borneo Tribune di Pontianak)
> Amalia Pulungan (aktivis Institute Global Justice)
> Andreas Harsono (wartawan, ketua Yayasan Pantau)
> Andy Budiman (wartawan SCTV)
> Anick H.T. (Jaringan Islam Liberal)
> Asvi Marwan Adam (sejarahwan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
> Ayu Utami (novelis "Saman" dan "Larung")
> Bonnie Triyana (sejarahwan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
> Budi Setiyono (sejarahwan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
> Daniel Dhakidae (penulis "Cendekiawan dan Kekuasaan dalam negara Orde
> Baru")
> Eva Danayanti (direktur eksekutif Yayasan Pantau)
> Eva Sundari (anggota DPR, Fraksi PDI-Perjuangan)
> Fadjroel Rahman (kolumnis harian Kompas)
> Faisal Basri (ekonom)
> Franz Magnis Suseno (dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)
> Ganjar Pranowo (sekretaris Fraksi PDI-Perjuangan DPR)
> Garda Sembiring (People's Empowerment Consortium)
> Garin Nugroho (sutradara)
> Goenawan Mohamad (kolumnis "Catatan Pinggir" majalah Tempo)
> Hamid Basyaib (Freedom Institute)
> Imam Syuja (anggota DPR dari Partai Amanat Nasional, Banda Aceh)
> Linda Christanty (penulis "Kuda Terbang Mario Pinto", pemimpin
> redaksi sindikasi Pantau)
> Lutfhi Assyaukanie (Universitas Paramadina)
> M. Ridha Saleh (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia)
> Marco Kusumawijaya (ketua Dewan Kesenian Jakarta)
> Melani Budianta (dosen Universitas Indonesia)
> Mira Lesmana (sutradara)
> Mohamad Guntur Romli
> (Teater Utan Kayu)
> Muhlis Suhaeri (penulis, tinggal di Pontianak)
> Musda Mulia (direktur Indonesian Conference on Religion and Peace)
> Nong Darol Mahmada (Jaringan Islam Liberal)
> Nurani Soyomukti (aktivis Yayasan Komunitas Taman Katakata, Jakarta)
> Riri Riza (sutradara)
> Rizal Mallarangeng (Freedom Institute)
> Rosiana Silalahi (direktur pemberitaan SCTV)
> Santoso (direktur Kantor Berita Radio 68H)
> Sapariah Saturi-Harsono (wartawan, Ikatan Perempuan Pelaku Media)
> Setya Darma Aji (ketua Ikatan Penerbit Buku Indonesia)
> Siti Nurrofiqoh (ketua Serikat Buruh Bangkit Tangerang)
> Syafii Maarif (ulama, Muhammadiyah)
> Saiful Mujani (Lembaga Survei Indonesia)
> Syamsudin Harris (peneliti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
> Titarubi (perupa, tinggal di Jogjakarta)
> Todung Mulya Lubis (pengacara)
> Ucu Agustin (novelis)
> Ulil Abshar Abdalla (Jaringan Islam Liberal, mahasiswa Universitas
> Harvard)
> Wandy N. Tuturoong (Komunitas Utan Kayu)
> Yeni Rosa Damayanti (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika)
> Siti Maemunah (Jaringan Advokasi Pertambangan)
> Subro (aktivis Madura, Sekolah Mitra Masyarakat di Pontianak)
>
> INFORMASI MEDIA:
> Wandy N. Tuturoong
> [EMAIL PROTECTED] <mailto:binyo%40mail.minihub.org>
> +815 86005815
>
> Mohamad Guntur Romli
> [EMAIL PROTECTED] <mailto:mgromli%40yahoo.com>
> +815 13191313
>
> 



-- 
Andreas Harsono
Email [EMAIL PROTECTED]
Mobile +62 815 9509000
Skype andreasharsono
Weblog www.andreasharsono.blogspot.com


Kirim email ke