broer, gak usah tulis intermezzo kalo memang mo kampanye buat pasangan 
adang-dani.

----- Original Message ----
From: de_fair <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, August 7, 2007 6:44:04 AM
Subject: [mediacare] Maaf Intermezo dikit









  


    
            CARA ORANG PINTAR PILIH GUBERNUR



Banyak cara untuk menilai calon Gubernur (Cagub) mana yang layak

menjadi poemimpin DKI berikutnya. Berbagai macam "kecap" dijual kepada

masyarakat untuk menjual popularitas masing-masing Cagub. Namun mari

kita coba juga melihat dari sisi-sisi yang mungkin selama ini kurang

diperhatikan oleh masyarakat Jakarta.



1. Kata Kerja VS Kata Keterangan



Seperti kita sama-sama ketahui, kedua calon memasang tagline untuk

kampanye mereka. Pasangan Adang-Dani memakai "AYO BENAHI JAKARTA" dan

pasangan Fauzi-Priyanto memakai "JAKARTA UNTUK SEMUA." Mungkin

masyarakat tidak terlalu memikirkan makna dari tagline tersebut,

padahal tagline merupakan gambaran singkat tentang karakter dari

pemilik tagline tersebut, contohnya : Nokia dengan tagline "Connecting

People" nya menunjukan Bahwa HP Nokia mudah untuk digunakan (user

friendly).



Nah, bagaimana dengan tagline kedua pasangan Cagub ini?



Yang pasti sehari setelah terpilih, hal pertama yang harus langsung

dilakukan oleh Sang Gubernur terpilih adalah BEKERJA. Mereka dipilih

oleh masyarakat memang untuk BEKERJA melayani masyarakat. Disini dapat

dilihat bahwa tagline milik pasangan Adang-Dani lah yang mencerminkan

`kata kerja," yaitu: "AYO BENAHI JAKARTA." Tagline tersebut memiliki

kata BENAHI yang merupakan kata kerja sekaligus menggambarkan bahwa

pekerjaan yang akan dilakukan setelah terpilih menjadi Gubernur adalah

MEMBENAHI Jakarta. Disitu pun ada kata "AYO" yang mencerminkan ajakan

kepada masyarakat DKI untuk turut serta membenahi Jakarta sebagai

suatu bentuk teamwork yang apik antara masyarakat dengan Pemerintah

Daerah DKI.



Lalu bagaimana dengan tagline "JAKARTA UNTUK SEMUA" milik pasangan

Fauzi-Priyanto? Menurut hemat saya itu lebih merupakan "kata

keterangan," bukan "kata kerja." Keterangan bahwa setelah terpilih

nanti akan "menyerahkan" Jakarta ini untuk "Semua." Pertanyaannya

adalah, siapakah yang dimaksud dengan "Semua" itu? Tentunya masyarakat

sangatlah takut jika yang dimaksud "Semua" adalah: Semua teman-teman

saya, semua orang partai yang telah mendukung saya sebelumnya, semua

pemilik Mal dan Hypermart, semua koruptor yang selama ini mau

berkongkalikong, semua penjahat berdasi, semua pemilik modal yang mau

`berbagi' dengan Pemda, semua pemilik tempat-tempat maksiat di Jakarta.



Ketakutan–ketakutan seperti ini sangat lah wajar mengingat itulah

realita yang selama ini masyarakat lihat dan rasakan. Jadi siapakah

yang dimaksud dengan "semua" itu sebenarnya? Masyarakat tentu sangat

menginginkan pemimpin yang siap untuk bekerja melayani masyarakat yang

siap berjuang untuk me-recovery kondisi Jakarta yang sudah carut-marut

ini.



Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.



2. KB dan Banyak anak



Masih ingat dalam benak kita slogan "DUA ANAK CUKUP" milik dari

program Keluarga Berencana (KB). Maksud dari sosialisasi itu tak lain

dan tak bukan adalah untuk menghimbau para keluarga muda untuk

memiliki dua anak saja dengan asumsi lebih mudah mengurus sedikit

anak. Tidak usah pusing-pusing mikirin mahalnya biaya pendidikan

sampai masalah bagi-bagi warisan yang kerap bisa berujung ke acara

"bunuh-bunuhan" antar anggota keluarga.



Lalu apa hubungannya dengan Cagub DKI?



Sebetulnya kita semua mungkin agak kecewa dengan hanya ada dua calon

saja sehingga pilihan masyarakat menjadi sangat sedikit. Namun marilah

kita jalani saja apa yang sudah terjadi. Satu pasangan diusung oleh

satu partai sedangkan yang satunya lagi diusung lebih dari dua puluh

partai. Mungkin memang terlihat sedikit seram karena seperti ajang

pengroyokan tapi mudah-mudahanan tidak seperti itu adanya.



Kalau dilihat dari sudut pandang waktu "SEBELUM" pemilihan, dukungan

dari multi partai ini memang terlihat sebagai suatu kekuatan, terkesan

bahwa salah satu pasangan didukung oleh hampir seluruh partai yang ada

di Indonesia. Namun saya sangat lah yakin bahwa masyarakat TIDAK

PEDULI dengan masa SEBELUM pemilihan tapi yang terpenting bagi

masyarakat adalah masa SETELAH pemilihan. Yaitu, apakah pasangan

terpilih dapat bekerja semaksimal mungkin untuk melayani masyarakat?

Itu yang terpenting.



Kembali ke masalah KB tadi, jika dukungan sebelum pemilihan itu kita

ibaratkan sebagai janin dan hasil pilkada adalah anak, maka apakah

mungkin sebuah keluarga dapat mengurus anaknya dengan maksimal jika

anaknya berjumlah 24 orang lahir secara bersamaan?



Apakah mungkin dapat "menyusui" 24 anak secara bersamaan?



Apakah mungkin dapat "mendidik" 24 anak secara bersamaan?



Apakah mungkin dapat "mengatur" 24 anak secara bersamaan?



Rasanya sangat sulit. Yang paling menakutkan adalah jika ke 24 anak

tersebut meminta warisannya masing-masing dan tiap anak meminta

warisan yang terbesar karena merasa yang paling berjasa. Yang ada

adalah waktu 24 jam sehari yang dimiliki oleh pasangan terpilih (orang

tua) mereka hanya akan habis untuk mengurusi anak-anaknya yang

kerjaannya hanya merongrong. Lalu kapan melayani masyarakatnya? Lebih

baik ikuti program KB saja.



Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.



3. Nasionalisme VS Religiusisme



Saat ini timbul kesan bahwa pertarungan antara dua pasangan cagub

adalah pertarungan antara dua ideologi, yaitu : Nasionalisme vs

Religiusisme. Rasanya ini hanya akal-akalan dari para elit partai

untuk membuat isu yang kenyataanya tidak lah benar. Namun andaikan pun

benar, manakah yang lebih baik antara Nasonalisme vs Religiusisme?



Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah "manakah yang lebih

penting, mencintai Tuhan terlebih dahulu atau mencintai Negara

terlebih dahulu?" Menurut saya seseorang yang nasionalis belum tentu

bisa menjalankan agamanya dengan baik, bisa jadi mereka cinta

negaranya namun dengan cara-cara yg tidak benar seperti korupsi,

ketidakadilan, penipuan, dll. Namun jika orang telah mencintai

Tuhannya maka Ia pasti juga akan mencintai apa-apa yang sudah

dititipkan oleh Tuhan kepadanya termasuk negara Indonesia dan kota

Jakarta. Dan bedanya seorang yang religius adalah bahwa mereka akan

menjalankan amanat mereka dengan cara-cara Tuhan yaitu: kejujuran,

kerendahan hati, atau keadilan.



Jadi sebetulnya yang terjadi bukanlah perlombaan antara Nasioanalisme

melawan Religiusisme melainkan antara Nasionalisme melawan

Religiusisme plus Nasionalisme. Karena Nasionalisme belum tentu

Religius sedangkan Religiusisme wajib Nasionalisme.



Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.



4. Kakak- Adik



Bila dalam sebuah keluarga terjadi kejadian seorang kakak menggencet

adiknya untuk merahasiakan kesalahan kakaknya kepada orang tua mereka

maka itu adalah hal yang biasa saja dan sering terjadi. Biasanya

seorang adik memang takut kepada kakaknya jadi ia akan melakukan apa

saja yang disuruh kakaknya walau secara terpaksa dan tidak sesuai

dengan hati nuraninya.



Hubungannya dengan Pilkada DKI?



Saya takut sang "kakak" yang sudah mau lengser mati-matian menaikkan

"adiknya" supaya dapat digencet untuk tutup mulut tentang kebobrokan

kakaknya di masa lalu. Padahal hampir semua orang tahu bahwa Pemda

kita penuh dengan kepalsuan. Masyarakat bahkan sudah merasakan itu

dari level yang rendah seperti kelurahan. Jika kelurahan kita anggap

sebagai "anak" dan Pemda sebagai "Bapak" maka "LIKE FATHER LIKE SON."

alias anak sama saja seperti bapaknya, malah biasanya bapaknya lebih

bobrok dibanding anaknya.



Namun jika kepemimpinan berikutnya bukan dipegang oleh "Adik" nya

melainkan oleh orang lain maka kemungkinan terkuaknya kebobrokan dan

kecurangan masa lalu sangatlah mungkin untuk dilakukan. Karena sudah

saatnya kejujuran yang berbicara dan bukan masa seperti masa orde

baru. Sekarang sudah saatnya orang-orang reformis yang memimpin dan

melakukan pembenahan akibat kehancuran kinerja "orde baru." Mari kita

dukung orang yang berani dan tidak mendapat tekanan darimana pun untuk

menguak kebobrokan dan kecurangan di masa lalu.



Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.



5. Gerak Tubuh (Gesture)



Mungkin bagi sebagian orang gestur tubuh dari seseorang tidak lah

penting, namun bagi sebagian orang yang memiliki intelektualitas

tinggi maka hal ini menjadi sangat penting. Apakah seorang calon

pemimpin itu memiliki cara berdiri yang tegap, sorotan mata yang

tajam, senyum yang lebar dan ramah, pembawaan yang berwibawa, serta

kharisma seorang pemimpin? Hal tersebut menjadi pertimbangan bagi

sebagian orang yang mengerti mengenai "bahasa tubuh." Karena pembawaan

fisik merupakan cerminan dari jiwa seseorang. Jika cara berjalan

seseorang tegap, sorotan matanya tajam, dan memiliki senyum yang lebar

maka itu mencerminkan jiwanya sebagai seorang pemimpin yang tegas dan

berwibawa. Begitu pula sebaliknya jika seseorang berjalan bungkuk,

sorot mata lemah, senyum tidak natural maka itu menunjukan lemahnya

jiwa kepemimpinan orang tersebut.



Nah, manakah dari kedua Cagub kita ini yang memiliki Gestur tubuh

layaknya seorang Pemimpin yang kuat dan berwibawa?



Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.



+Prince Fajar+

http://jakartabutuh revolusibudaya. com/2007/ 07/20/cara- orang-pintar- 
pilih-gubernur/





    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->








       
____________________________________________________________________________________
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469

Kirim email ke