Saya tidak menyangka bahwa Arab Saudi itu negara yang begitu primitif, kok ada
orang yang memakai sihir sebagai alasan untuk melakukan hukum sendiri,
langsung menganiaya orang lain. Saya dengar Arab Saudi negara yang sangat
kaya, apa uangnya tidak digunakan untuk menaikkan peradaban warganya?
Saya kira di Vatikan yang juga negara agama tidak lagi sihir diakui sebagai
alasan untuk menghukum orang, apalagi dalam bentuk hukuman pribadi.
MLM
Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.antara.co.id/arc/2007/8/7/dituduh-miliki-sihir-dua-tkw-tewas-dibunuh-majikan/
07/08/07 22:46
Dituduh Miliki Sihir, Dua TKW Tewas Dibunuh Majikan
Jakarta (ANTARA News) - Empat orang tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia
dianiya oleh majikan mereka di Arab Saudi, dua orang diantaranya tewas.
Kepala Badan Nasional Penempatan Perlindungan TKI M Jumhur Hidayat menyatakan
sudah mendapat laporan tentang kasus itu dan pelakunya sudah ditangkap.
Atase Tenaga Kerja Kedutaan Besar RI di Riyadh, Arab Saudi, Sukamto Javaladi,
ketika dihubungi, Selasa, menyebutkan keempatnya dianiaya oleh sembilan orang
dari tiga keluarga majikan karena dituduh melakukan "sihir".
"Alasan menggunakan sihir itu adalah alasan dari majikan. Kebenarannya, kita
tunggu hasil pemeriksaan nanti," kata Sukamto.
Dikatakannya, Siti Tarwiyah Binti Slamet, pemegang paspor Nomor AB 738697 dan
Susmiyati binti Abdul Fulan tewas terbunuh akibat dianiaya oleh majikan.
Siti Tarwiyah bekerja pada Yahya Majeed Syagatir dan masuk ke Arab Saudi
tanggal 1 November 2006, sedangkan Susmiyati, kelahiran Pati, 15 Mei 1979 dan
bekerja di Saudi mulai 3 Januari 2007.
Dua lainnya yang menderita luka berat adalah Ruminih binti Surtim dan Tari
binti Tarsim. Ruminih adalah pemegang paspor nomor AB 350558, bekerja pada
Hammad Mubarak Syagatir, dan masuk ke Arab Saudi pada 29 Mei 2006.
Tari adalah pemegang paspor nomor AB 145535, bekerja pada Muhammad Abdullah
Syagatir dan masuk ke Arab Saudi tanggal 05 April 2006.
Keduanya saat ini dirawat di Rumah Sakit Umum Aflaaj Distrik Layla Provinsi
Riyadh.
Sukamto mengatakan informasi tewasnya dua orang penata laksana rumah tangga itu
diperolah KBRI hari Minggu (5/8) dari seorang WNI bernama Tamsil Halimi yang
berdomisili di Aflaaj, Distrik Layla, Provinsi Riyadh.
Berdasarkan informasi tersebut, KBRI melakukan konfirmasi ke Kantor Kepolisian
Aflaaj. Dari polisi, KBRI mendapat informasi bahwa penganiayaan dilakukan oleh
tiga keluarga yang mempekerjakan keempat WNI tersebut. Tim investigasi dari
Kepolisian Aflaaj saat ini sedang melakukan penyidikan intensif. Sembilan orang
tersangka pelaku penganiayaan telah ditangkap.
KBRI Riyadh telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Tari binti Tarsim,
yang masih dirawat di rumah sakit.
Tari mengatakan dia dan tiga orang temannya dianiaya oleh seluruh anggota
majikan karena mereka dituduh melakukan sihir terhadap keluarga majikan.
Menurut Sukamto, Tari dipaksa mengakui perbuatannya namun ia dan tiga temannya
menolak. Akibatnya seluruh anggota majikan memukul dan menganiaya keempat
perempuan itu hingga Siti Tarwiyah dan Susianti Tewas.
Perusahaan pengerah penempatan TKI swasta (PPTKIS) yang mengirimkan empat TKW
tersebut sudah diketahui, yakni PT Arya Duta Bersama (Tari binti Tarsim) dan PT
Amri Margatama (Ruminih binti Surtim).
KBRI Riyadh akan mengoptimalkan peran penasihat hukum dan melakukan koordinasi
dengan pihak terkait di Arab Saudi.
Jumhur mengatakan pihaknya sudah menerima informasi dari KBRI Riyadh tentang
kasus itud dan ke-9 pelaku penganiayaan yang masih satu keluarga itu sudah
ditangkap.(*)
Copyright © 2007 ANTARA