Naskah: "Puisi S Rukiah Sastrawati Angkatan'45" oleh A.Kohar Ibrahim:
http://www.16j42.multiply.com/journal/
A.Kohar Ibrahim:
Puisi S. Rukiah Sastrawati Angkatan45
DALAM suasana Agustusan tahun 2007 ini, di samping mengenang para penyair
kemerdekaan dari Chairil Anwar yang tergolong Angkata45 sampai pada penyair
Pro-demokrasi seperti Wiji Thukul patutlah pula dicatat-ingat sastrawati
Angkatan45 seperti S. Rukiah dan Rivai Apin.
Nama sastrawati terkemuka Indonesia yang langka seperti S. Rukiah itu memang
tak mungkin sirna dari ruang ingatan saya. Apalagi, baru-baru ini nama yang
telah punya andil mengharumi sejarah Republik Indonesia, khususnya sejarah
kesusastraan bangsa kita itu, terkaitkan oleh berita telah berpulangnya seorang
tokoh pejuang kemerdekaan seangkatannya. Sosok tokoh yang juga kekasihnya dan
kemudian menjadi suaminya. Sang pejuang kemerdekaan Angkatan45 yang sejati itu
adalah Sidik Kertapati. Yang meninggal dalam usia 87 tahun, tanggal 2 Juli
2007 yang lalu di Jakarta.
Baik S. Rukiah maupun Sidik Kertapati sempat saya kenal secara langsung.
Keduanya pernah menjadi penginspirasi untuk sebuah karya fiksi-realistis berupa
cerpen berjudul Yang Mencintai Cinta. Salah sebuah karya yang pernah disiar
beberapa media massa, dan juga mengisi antologi tulisan bersama: Teragedi
Kemanusiaan (terbitan Lembaga Sastra Pembebasan & Malka, September 2005).
Jika Sidik Kertapati, yang juga penulis buku berjudul Sekitar Proklamasi
Agustus 1945 itu namanya takkan terhapuskan dalam perjuangan untuk kemerdekaan
bangsa dan berdirinya Republik Indonesia terutama sekali sebagai sosok tokoh
perpolitikan, S. Rukiah pun namanya takkan terhapuskan terutama sekali dalam
sejarah kesusastraan Indonesia.
Bagi saya sendiri, memang, penghargaan utama saya terhadap S. Rukiah terutama
sekali karena karya-karya sastranya, baik prosa mupun puisi. Dan dalam bentuk
puisi, saya amat terpikat pada karyanya berjudul Kenangan Gelita. Dalam mana
ada baris baris kata puitisnya yang menyiratkan manusia yang mencintai cinta.
Cinta dalam artian luas, yang sekaligus bermakna mencintai cita-cita yang luhur.
Ringkas kata, seperti halnya para sastrawan senior lainnya seangkatan
Pramoedya dan Rivai Apin, S. Rukiah saya anggap selain sebagai kawan
seperjuangan juga guru saya sekaligus. Begitulah, ketika setelah sekian puluh
tahun tak bisa jumpa lagi, lantas saya dikejutkan oleh khabar bahwa sastrawati
kelahiran Purwakarta 25 April 1927 ini telah meninggal dunia di kota
kelahirannya itu pada tanggal 7 Juni 1996. Ketika menurunkan tulisan bejudul
"In memoriam S. Rukiah Kertapati" untuk Kreasi nomor 27 1996, saya dahului
dengan mengutarakan baris-baris sajak Kemungkinan-nya :
Begini, begini perjuangan sekelompok manusia / merah padaku menggores,
seperti cetusan api berkilat : Keras! / Tapi mungkinkah ini bertemu dengan
kata-kata keemasan / sebelum datang waktu bertobat / pada penghabisan
pengadilan hari kiamat!
Saat menyusun catatan ringkas tersebut saya benar-benar merasa terenyuh,
hingga tak sanggup untuk melengkapinya dengan kutipan sajaknya yang lain, yang
juga saya senangi. Yang berjudul Tanah Air :
(I)
Hanya senyumanmu saja / suram mendalam. / Selainnya masih gelap berselubung /
tak kenal bintang. / Sedang hari baru tiba kepada senja!
Ini aku tidak tahu / haruskah aku nantikan Engkau / dengan bercermin di
langit mendung melalui malam kelam / yang belum tentu ia berbulan?!
(II)
Lihat! Alam tiada semarak lagi / Langit tinggal bayangnya saja / melengkung
curam! Di situ rupanya penuh bertimbun kekayaan. / Surga! Begitu tiap manusia
bilang / tapi bila datang kebinasaan / dari kedahsatan benci dan pembunuhan /
di situ, di situ pula kita terpelanting / ke dalam jurang!
Jika begini / tak ada lagi yang tampak menguak harapan / hanya itu senyumanmu
saja / yang suram mendalam. / sedang hari baru tiba kepada senja!
(III)
kekasihku, / di sini, di antara bunga-bunga kuncup yang belum tahu / warna
serta wanginya ini / dengan bercermin di kabut mendung ini / akan kunantikan
Engkau / sampai hariku satu-satu berlepasan!
Kapan itu selubung gelap pecah terbuka / dan kapan lagi itu / bayangan bulan
yang kecut muram jadi ketawa / menyentakkan layar malam bertemu dengan matari /
mengulur pagi bercinta?
Dalam kemestian melalui malam ini / aku tidak peduli kepada jam mati / yang
lupa akan detikan, / Cuma itu saja: senyumanmu! / suram mendalam / bayang
kurban kebengisan kubuat jadi pedoman!
PUISI S. Rukiah itu begitu menyentuh hati dan pikiran saya sejak dulu. Sejak
saya merasa sayang-hormat kepadanya selaku sastrawati senior sekaligus pemberi
sajian rohani yang begitu mendasar, mendalam lagi meluas wawasannya.
Puisi-puisinya yang saya senangi seakan-akan tak mengenal ruang dan waktu,
senantiasa segar dan aktual. Sarat akan kebenaran. Karenanya indah. Keindahan
menyanyikan lagu manusia yang manusiawi. Sekalipun ditulis dan dimuat dalam
majalah Mimbar Indonesia tahun 1949. *** (Akibr)
---------------------------------
Ne gardez plus qu'une seule adresse mail ! Copiez vos mails vers Yahoo! Mail