Oleh Soelastri Soekirno

  Kejahatan dengan cara menghipnotis korbannya makin merajalela. Penjahat yang 
biasanya bekerja secara berkelompok tak hanya menjadikan kaum perempuan sebagai 
korban, tetapi juga kaum lelaki. Harta yang menjadi sasaran terutama uang tunai 
di tangan korban dan yang tersimpan dalam tabungan, telepon seluler, dan bahkan 
sepeda motor.

Warga masyarakat dari berbagai tingkatan sosial ekonomi mereka jadikan sasaran, 
tak peduli pensiunan atau penarik ojek. Akibatnya, banyak korban kehilangan 
harta benda yang sudah bertahun-tahun mereka kumpulkan.

Lihatlah apa yang terjadi atas penarik ojek di kawasan Batu Ceper atau Plaza 
Gajah Mada, Jakarta Pusat, yang Mei lalu terkena hipnotis oleh penumpangnya. 
Penarik ojek yang terhipnotis pun segera menyerahkan sepeda motornya.

Penjahat yang memakai ilmu hipnotis akhir-akhir ini melebarkan operasi ke 
pinggiran Jakarta. Dua perempuan, warga Bintaro, Kecamatan Pondok Aren; dan 
warga Tigaraksa, keduanya di Kabupaten Tangerang, Banten, baru-baru ini menjadi 
korban kelompok penjahat tersebut.

Salah satu ceritanya, pada awal Agustus lalu seorang lelaki mendatangi Riri 
(41), ibu rumah tangga yang sedang menunggu angkutan umum di Cikupa, Kabupaten 
Tangerang.

Empat lelaki yang saat berbicara berlogat melayu itu bertanya di mana bisa 
menukar dollar Singapura-nya ke rupiah. Entah apa yang terjadi, Riri malah 
mengajak para lelaki ke rumahnya untuk mengambil buku tabungan berikut fotokopi 
kartu tanda penduduk agar bisa mengambil uangnya yang tersimpan di tabungan.

Di rumah tak ada fotokopi KTP, tetapi perempuan itu kemudian meminjam uang 
sejumlah Rp 16,8 juta dari kerabatnya berikut perhiasan seberat 20 gram yang 
kemudian ia serahkan kepada kawanan penjahat tersebut.

  Dalam laporannya ke Polsek Tigaraksa, Riri menyatakan menerima amplop berisi 
uang sejumlah 7.000 dollar Singapura dari para penjahat. Begitu empat penjahat 
pergi dengan mobilnya, ia baru sadar ternyata amplop hanya berisi uang tiga 
lembar ribuan rupiah.

Di kawasan Bintaro, modus operandi serupa dilakukan penjahat atas seorang 
perempuan berusia 70-an tahun. Penjahat berhasil mentransfer tabungan si korban 
sejumlah Rp 300 juta ke rekening lain.

Mencermati aksi-aksi kawanan penjahat itu, praktisi Neuro Linguistic 
Programming (NLP) dan hypnotherapist, Ronny F Ronodirdjo, Sabtu (18/8), 
menyatakan, hipnotis atau gendam bisa digunakan untuk alat kejahatan. Penjahat 
menggunakan kelengahan calon korban dengan memasuki alam bawah sadarnya. "Tak 
perlu disentuh atau dibuat tidur, diajak bicara pun sudah bisa kena hipnotis," 
katanya.

Tentu saja, tidak mudah bagi polisi untuk meringkus kawanan penjahat bermodus 
gendam ini. Untuk menghindarkan diri dari aksi kejahatan mereka, Ronny 
menyarankan agar masyarakat menghindarkan diri dari kesan merasa aman di tempat 
umum. "Perempuan umumnya berlaku begitu sehingga mereka menenteng telepon 
genggam dan dompet tanpa rasa khawatir jadi korban kejahatan," katanya.

Cara kedua, jangan bersikap terlalu ramah kepada orang asing. "Ini biasa 
terjadi atas sebagian masyarakat kita tanpa sadar bahwa kita sebenarnya sedang 
menjadi sasaran aksi kejahatan," kata Kepala Polsek Tigaraksa Ajun Komisaris 
Herru Agus.

Menurut Ronny, penjahat tahu benar kelemahan sebagian masyarakat. Umumnya 
penjahat bermodus hipnotis berbicara dengan logat melayu kental. Sebaiknya 
jangan pernah membicarakan soal intern diri kita kepada lawan bicara yang baru 
dikenal sebab lawan bicara akan masuk ke alam bawah sadar untuk memengaruhi 
kita. "Bila itu terjadi, segera
alihkan pembicaraan ke soal ekstern, misalnya lihat benda di mana Anda berada," 
kata Ronny. 

  link:
http://www.kompas.co.id/kompas- cetak/0708/ 19/metro/ 3775645.htm
  
 



Salam Anti Kejahatan!

MAKI
Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia


e-mail: [EMAIL PROTECTED]
blog: http://maki-online.blogspot.com
       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

Kirim email ke