Salah satu sebab saya kembali sangat menghargai BK
adalah karena ucapan BK ini.
Ketika itu saya masih muda, sangat terpengaruh strategi
media komunikasi Maestro Suharto yg genius , ambisius
hingga mendewakan si Maestro dan menyalahhkan BK..
Kenyataannya saya menyesal pernah ikut2an Orde baru itu
semua memang akibat politik mau berkuasa apapun jadi
halal.
BK adalah pemimpin yang sungguh mencintai bangsa dan
negaranya.
Mudah2an akan lebih banyak lagi saksi sejarah yg mau
mengungkapkan fakta2 walau menyakitkan atau menyedihkan
demi masa depan bangsa yg lebih cerah dan sejahtera .
Salam, martin - jkt
----- Original Message ----
From: imie aja <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, August 19, 2007 11:57:50 AM
Subject: Re: Sepotong Sejarah Putu Sugianitri
Ada satu nilai yang dapat kita maknai bersama setelah membaca
tulisan ini,
Ujar Bung Karno "Saya tidak mau terjadi perang saudara karena pro dan
kontra." "Saya lebih baik mati di sini, tetapi Indonesia selamat dari perang
saudara.'"
Jawaban yang sungguh langka di zaman ini, yang ada justru saling saut merasa
dirinya paling benar dan yang lain salah.
Salam,
imie
On 8/18/07, Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id> wrote:
>
> Oleh Maria Hartiningsih
> http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0708/ 18/Sosok/ 3765513.htm
> ============ =========
>
> Apakah bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar? Putu Sugianitri
> terdiam sejenak sebelum mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa
> yang dapat menghargai jasa para pahlawannya.
>
> Putu Sugianitri (60), yang saat ini lebih dikenal sebagai pembudidaya
> jeruk bali, adalah ajudan terakhir Bung Karno. Ia baru bertugas
> sekitar setahun ketika situasi politik di dalam negeri sangat kritis.
>
> Nitri, panggilannya, dilantik sebagai polisi wanita (polwan) pada pagi
> 30 September 1965 di Sukabumi, setelah mengikuti pendidikan bintara
> setahun. "Ada 31 siswa bintara waktu itu, lima dari Bali," ungkap
> Nitri, suatu siang ketika kami berbincang di bale bengong bambu di
> halaman rumahnya, di kawasan Renon, Denpasar, Bali.
>
> Mungkin ia termasuk siswa paling muda kalau menilik usia sebenarnya.
> Ia mengaku "mencuri umur". Syarat usia menjadi siswa bintara 18 tahun,
> dengan tingkat pendidikan sekolah menengah pertama (SMP). Nitri saat
> itu baru selesai SMP.
>
> Pada acara ramah tamah malam hari setelah pelantikan, sedianya Kepala
> Polri datang, tetapi tak jadi karena ada sesuatu yang penting di
> Jakarta. "Saya sudah pakai kostum tari," tutur Nitri. Di antara
> siswa-siswa seangkatan, ia dikenal sebagai penari Bali yang andal.
> "Tiba-tiba lampu mati. Acara batal. Saya tidak jadi menari. Kami
> kembali ke asrama."
>
> Beberapa hari setelah itu, seorang polisi dari Detasemen Kawal Pribadi
> Presiden, dikomandani Ajun Komisaris Besar Mangil, menggantikan
> Tjakrabirawa, menjemputnya ke Jakarta untuk bergabung dengan enam
> polwan lain di Istana Negara.
>
> Di istana juga ada ajudan lain, masing-masing dua dari Korps Wanita
> Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Semuanya
> berseragam. Nitri satu-satunya ajudan yang tak berseragam karena
> tugasnya lebih untuk mendampingi Bung Karno di istana, menyiapkan
> makanan, minuman, serta obat.
>
> Pekerjaan Nitri dimulai pada pukul enam pagi untuk mencari kue-kue
> jajan pasar kesukaan Bung Karno. "Beliau paling suka lemper ayam yang
> daging ayamnya diopor, disuwir-suwir, dan lempernya digulung dengan
> daun pisang hijau pupus. Juga hunkue tak berwarna yang di dalamnya ada
> pisang kepok," tutur Nitri. "Beliau suka sekali sayur lodeh bari, ini
> sayur lodeh yang sudah tiga hari."
>
> Bung Karno, kata Nitri, mengenal kedisiplinan sekaligus watak keras
> Nitri. Ia berani bertanya, bahkan membantah Bung Karno kalau perlu.
> Tetapi, ia juga sangat setia. Dia adalah satu dari sedikit orang yang
> menjadi saksi saat-saat terakhir Bung Karno sebagai presiden dan
> bagaimana kemudian keluarganya diperlakukan.
>
> Berhenti
>
> Pengumuman Bung Karno diberhentikan sebagai presiden terjadi ketika
> Bung Karno berada di Bogor. "Beliau berada di Istana Bogor, Jumat,
> naik helikopter. Begitu ada pengumuman, Bung Karno kembali ke Jakarta,
> dengan baju biasa, naik VW Combi. Sukma (Sukmawati Soekarno) waktu itu
> tanya, 'Kok baju Bapak enggak dipakai.' Bung Karno menjawab, 'Kan,
> sudah ada pengumuman Bapak bukan presiden lagi,'" Nitri mengucapkan
> kalimat itu dengan suara tercekat.
>
> Bung Karno dan para ajudan sempat melihat-lihat situasi Jakarta dengan
> kendaraan itu. Ia berpakaian biasa, tanpa peci. Waktu itu sedang musim
> rambutan. Bung Karno ingin makan rambutan rapiah kesukaannya. "Beliau
> bilang dalam bahasa Bali, 'Tri, sing ngelah pis, saya tak punya uang.'"
>
> "Saya turun, membeli rambutan, lalu bilang ke pedagangnya, 'Tolong
> kasih ke orangtua di mobil itu.' Bung Karno bertanya, 'Manis enggak?'
> Suara khas itu membuat si pedagang tahu siapa yang ia hadapi."
>
> Sebelum diusir dari istana, setiap pagi Bung Karno membaca semua koran
> yang terbit, yang semua mendiskreditkan namanya. "Saya tanya, kok
> Bapak diam saja. Beliau menjawab, 'Saya tidak mau terjadi perang
> saudara karena pro dan kontra.' Beliau juga tidak sudi meminta suaka
> seperti dilakukan Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja. Kata beliau,
> 'Saya lebih baik mati di sini, tetapi Indonesia selamat dari perang
> saudara.'"
>
> Dalam suasana politik yang panas itu, berbagai gosip juga menerpanya
> terkait dengan Bung Karno. "Saya marah sekali. Tapi, bisa apa saya?"
> suaranya meninggi.
>
> Nitri berhenti menjadi ajudan setelah Bung Karno dipindahkan ke Wisma
> Yaso, diasingkan dari teman-teman, kerabat, dan keluarga. Ia sempat
> diminta menjadi ajudan keluarga penguasa yang baru, tetapi ditolaknya.
> "Semua orang waktu itu melihat kami dengan pandangan jijik. Untuk apa
> saya bekerja di situ?"
>
> Protes atas perlakuan terhadap Bung Karno dan keluarganya, ia lakukan
> dengan menyatakan berhenti sebagai polwan. "Kalau Bung Karno, Bapak
> Bangsa dan Proklamator saja bisa diperlakukan seperti itu, apalagi
> orang seperti saya?"
>
> Setelah itu Nitri sempat tinggal di rumah Ibu Fatmawati dan
> menyaksikan dari dekat kesulitan-kesulitan yang dihadapi keluarga Bung
> Karno. Ia sempat bertemu lagi dengan Bung Karno, ketika mantan
> presiden itu mendapat izin menghadiri upacara perkawinan Guntur dengan
> dikawal ketat. "Mukanya bengkak, topinya menceng-menceng dan sudah
> banyak lupa," ungkap Nitri mengenang.
>
> Kepada Bung Karno, ia sempat meminta nama untuk anak sulungnya. "Nama
> itu ditulis di secarik kertas kecil, disembunyikan Mbak Mega di bawah
> alas sepatu. Pemeriksaan waktu itu sangat ketat, meski yang datang
> menengok anggota keluarga dekat. Bung Karno memberi nama anak saya,
> Fajar Rohita. Sekarang usianya 39 tahun."
>
> Melanjutkan hidup
>
> Meski situasi sudah jauh lebih baik, bahkan Megawati pernah menjadi
> Presiden RI, menurut Nitri, ada bagian sejarah yang tak bisa diubah
> dan harus diingat, agar bangsa ini belajar dari apa yang dilakukan
> terhadap orang yang berjasa melahirkan negeri ini.
>
> "Sampai saat ini masih sulit buat saya menerima perlakuan terhadap
> Bung Karno pada hari-hari terakhir beliau," ujarnya.
>
> Nitri menjalani kehidupan berkeluarga yang penuh dinamika. Sempat
> tinggal di Bandung, Nitri kembali ke Bali. Ia melukis, menjadi
> eksportir kerajinan Bali dan menari. Sebagian lukisannya yang
> beraliran surealis tergantung di dinding rumahnya yang sederhana.
>
> Beberapa tahun terakhir ini, ketika enam dari tujuh anaknya sudah
> mandiri, Nitri mengembangkan tanaman langka Bali di lahan yang ia
> kontrak selama 30 tahun.
>
> "Mulanya saya hanya ingin makan buah-buahan asli Bali yang biasa saya
> makan waktu masih kecil. Selain jeruk bali besar merah, juga mangga
> amplemsari, itu mangga asli Bali yang sudah langka," ujarnya.
>
> Setiap hari ia bangun pukul empat pagi, lalu ke pasar, belanja untuk
> warung makan kecil yang dijalankan pembantunya. Setelah itu, seharian
> ia berada di kebun. Nitri menjalani hidupnya seperti orang kebanyakan,
> tetapi dengan kesadaran bahwa dari setiap langkah yang terayun, ada
> ingatan yang tertinggal. Itulah jejak sejarah.