Guru Dan Laptop Catatan: Muhammad Subhan
ANGGOTA dewan ngotot minta laptop, itu mah sudah jadi isu nasional. Tapi guru difasilitasi laptop, ini baru mantap dan top. Tapi sayang, belum ada terbetik kabar pemerintah berkenan memfasilitasi guru Indonesia dengan laptop sebagai media ajar sehingga materi yang disampaikan lebih mengena pada anak didik. Bahkan di sejumlah sekolah yang berada di pinggiran kabupaten dan kota, masih menuliskan materi pelajaran dengan kapur tulis di papan tulis (black board). Lalu guru pun terancam kena penyakit TBC karena debu kapur tulis cukup berbahaya. Masih beruntung guru-guru yang mengajar pada sekolah yang berada di perkotaan, media ajar sudah agak modern memakai white board dan spidol. Sekolah-sekolah yang berstandar internasional di Indonesia pun belum semuanya memanfaatkan fasilitas laptop yang tersedia bagi media ajar guru. Guru-guru sebagian besar masih direcoki persoalan `gagap teknologi' sehingga laptop yang bebentuk `tas lipat' itu seringkali tak termanfaatkan atau kalau boleh dikatakan masih banyak guru tak bisa mengoperasikan laptop yang dikolaborasikan dengan media in- focus. Kalau sekolah memang memiliki fasilitas laptop, masih untung guru bisa belajar mengoperasikannya, namun bagi sekolah yang tidak punya fasilitas laptop, mungkin ada pula guru yang berkata "laptop itu benda apa?" Dan, metode pengajaran CBSA (Catat Buku Sampai Abis-pen) seringkali masih menjadi persoalan klasik di lingkungan siswa dan guru. Belum lagi konsentrasi guru dibuyarkan pula oleh kesejahteraan yang tak kunjung sejahtera, meski mereka selalu dituntut profesional dalam memberikan pelajaran walau kadangkala pendapatan mereka seringkali tidak diterima secara profesional pula. Inilah beda Indonesia dengan negara-negara maju yang lebih memprioritaskan pendidikan dengan penguasaan teknologi canggih sebagai media ajar serta peningkatan kesejahteraan guru yang konon digelar sebagai "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Walau gelar itu memang sewajarnya dimiliki guru, namun kesejahteraan yang layak setidaknya membuktikan bahwa "guru juga manusia". Bukan Indonesia namanya jika setiap kali ganti menteri ganti pulalah kebijakan. Sebagai contoh, dulu orang mengenal Ujian Akhir Sekolah lalu berganti menjadi Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir), dan belakangan berubah lagi menjadi UAN (Ujian Akhir Nasional) dan berganti lagi menjadi UN (Ujian Nasional). Esok atau lusa entah apa pula namanya. Namun alangkah enak kedengaran, jika setiap ganti menteri berganti pula gaji guru. Dulu rendah, sekarang naik, esok atau lusa semakin naik lagi pendapatan guru. Kalau sudah begitu, makin mantap dan top- lah pendidikan Indonesia. Biarlah guru tidak difasilitasi laptop, namun dengan pendapatan yang melebihi dari cukup itu guru akan bisa juga membeli laptop sendiri. ***
