Tulisan pak Amran Nasution si situs www.hidayatullah.com

wass
olis

Hizbut Tahrir, Sekularisme dan Fenomena Global
[Cetak halaman ini] 
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=5238\
&pop=1&page=0&Itemid=1>                          [Kirim halaman ini
melalui E-mail] 
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id\
=5238&itemid=1>                                        Senin, 27 Agustus
2007
Mayoritas orang Indonesia ingin Syariat Islam. Di mana-mana agama kian
menentukan dalam pergulatan politik. Ada keinginan menggantikan
sekulerisme

Oleh: Amran Nasution



Sekitar 100.000 manusia berpakaian putih-putih, tumplek-blek di Stadion
Utama Senayan, Jakarta, Ahad pagi, 12 Agustus lalu. Lewat tengah hari,
ketika acara bubar, apa lagi, kawasan sekitar pun macet total. Massa
yang hadir memang terlalu banyak, mengalahkan jumlah penonton
pertandingan Piala Asia, Indonesia lawan Arab Saudi, beberapa waktu
lalu.

Sudah lama tak ada ormas atau partai politik di Jakarta, yang bisa
mengumpulkan manusia begitu banyak. Inilah acara `'Khilafah
Internasional'' yang dilaksanakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
"Acara ini untuk pembelajaran ummat Islam untuk konsekuen mendukung
Syariat Islam,'' kata Ismail Yusanto, juru bicara HTI.

Syariat Islam. Itulah kata kunci yang membuat HTI, MMI (Majelis
Mujahidin Indonesia), Front Pembela Islam (FPI), atau sejumlah ormas
Islam lainnya yang muncul belakangan, tampaknya kian mendapat banyak
pendukung.

Ridwan Saidi, mantan Ketua Umum HMI yang tokoh Betawi itu, menyebut HTI
dan kawan-kawannya sebagai organisasi Islam `'pinggiran'',
untuk membedakannya dengan organisasi Islam `'arus utama''
(mainstream) seperti NU atau Muhammadiyah yang sudah mapan.

Muhammadiyah, misalnya, menurut Ridwan, terlibat terlalu dalam mengurusi
pendidikan sehingga Ormas itu menjelma menjadi birokrasi pendidikan,
yang mau tak mau harus selalu dekat pemerintah. "Ada urusan
akreditasi, pengangkatan guru negeri, dana bantuan pemerintah, dan
sebagainya,'' katanya.

Akibatnya, Ormas itu sulit menampung asipirasi Syariat Islam yang
sekarang berkembang di tengah ummat. Sedang NU, sejak dipimpin
Abdurahman Wahid, terlalu banyak bermain politik, mengakibatkan di
dalamnya selalu terjadi perpecahan, dan aspirasi ummat terlalaikan.
"Pak Hasyim Muzadi sendiri bilang banyak masjid mereka yang digarap
orang lain,'' ujarnya.

Banyak pihak yang gerah dengan fenomena baru ini. Pemerintah, misalnya,
berusaha menghadangnya dengan mencekal sejumlah pembicara di dalam acara
HTI. Ustadz Abubakar Ba'asyir dan Habib Riziek Shihab, Ketua Umum
FPI, dilarang tampil sebagai pembicara. Seorang pembicara lainnya, DR.
Imron Waheed dari HTI Inggris, dicekal di Bendara Cengkareng, sehingga
terpaksa balik badan, pulang ke London.

Pencekalan itu tentu bertentangan dengan semangat demokrasi dan
kebebasan yang didengung-dengungkan pemerintahan Presiden SBY. Apalagi,
beberapa bulan lalu, pemerintah justru mengizinkan masuk ke Bali, Rabbi
Jahudi, Daniel Lande, menghadiri sebuah seminar antar-agama.
Ujung-ujungnya perhelatan itu cuma untuk mendukung kebenaran holocaust,
kisah pembunuhan orang Jahudi oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II,
yang kurang logis itu. Di situ Gus Dur menjadi pembicara
(www.hidayatullah.com <http://hidayatullah.com/> , 13 Juni 2007).

Bekas Rektor UNI Jakarta, Azyumardi Azra, pendukung sistem sekuler itu,
mencoba mengecilkan fenomena ini. Dia mengatakan konsep partai Islam
yang dianut Hizbut Tahrir hanyalah idealisasi dan romantisme masa lalu
dari sebagian kecil ummat Islam (Koran TEMPO, 13 Agustus 2007). Sebagian
kecil ummat Islam? Apa tak salah Profesor ini?

Survei www.WorldPublicOpinion.org <http://www.worldpublicopinion.org/> ,
yang dilaksanakan di empat negara Islam – Indonesia, Pakistan,
Mesir, dan Maroko -- Desember 2006 sampai Februari 2007, menunjukkan
bahwa mayoritas (2/3 responden) menyetujui penyatuan semua negara Islam
ke dalam sebuah pemerintahan Islam (khilafah). Ini jelas menunjukkan
pendapat Azyumardi tadi tak berdasar data.

Hasil survei itu juga – bekerjasama dengan University of Maryland
– memperlihatkan bahwa mayoritas responden (sekitar 3/4) setuju
dengan upaya untuk mewajibkan syariat Islam di tengah masyarakat,
sekalian mencampakkan nilai-nilai Barat dari seluruh negari Islam.

Khusus untuk Indonesia, survei menunjukkan mayoritas (53%) responden
menyetujui pelaksanaan Syariat Islam. Itu adalah prosentasi terkecil,
dibanding Pakistan (79%), Mesir (74%), dan Maroko (76%).

Mencampakkan nilai Barat tampaknya sejalan dengan keinginan menjalankan
Syariat Islam. Survei oleh Pew Reseach Center –lembaga riset
independen terkemuka di Washington– yang diumumkan akhir Juni lalu,
menunjukkan bahwa 66% responden Indonesia membenci Amerika Serikat. Yang
menyatakan suka cuma 29%. Angka 66% pembenci Amerika itu tentu sejalan
dengan 53% responden Indonesia yang menginginkan dilaksanakannya
kewajiban menjalankan Syariat Islam.

Sekularisme dan Fenomena global

Sesungguhnya apa yang terjadi bukanlah khas Indonesia, tapi sebuah
fenomena global. Selasa  (23 Agustus) lalu, sebagaimana dikutip situs
ini,  CNN menayangkan acara khusus "Pengaruh Agama-agama di Seluruh
Dunia".

Christiane Amanpour, Ketua Koresponden CNN Internasional mengulas 
fenomena global pengaruh agama di dunia politik dunia di tiga agama:
Kristen, Yahudi dan Islam.

"Munculnya pengaruh agama dalam kancah politik merupakan fenomena global
saat ini. Bagaimana suatu bangsa dan seseorang dapat menggabungkan
antara agama dengan politik mungkin merupakan tantangan yang sangat
dipaksakan saat ini," ujar Amanpour.

Bahkan Amerika,  yang katanya negara sekuler,  calon presiden dan partai
politik secara aktif mendatangi pemimpin-pemimpin agama untuk
mendapatkan dukungan suara kutip Amanpour.

Sebenarnya fenomena ini sudah terlihat lama. Terutama itu terlihat
setelah meletusnya revolusi Islam di Iran, 1979, yang dipimpin Ayatullah
Rohullah Khomenei. Para pengamat menyebutnya sebagai kebangkitan Islam
politik. Di Aljazair, misalnya, pemilu yang dilaksanakan 1991,
dimenangkan partai Islam FIS (Front Penyelamat Islam). Dari 232 kursi
yang diperebutkan, FIS menyapu 188. Tapi tentara dengan dukungan Barat
kemudian membatalkan Pemilu sekaligus mengambil alih kekuasaan. Partai
itu dibubarkan dan ribuan pemimpinnya ditangkap.

Kian populernya Hizbullah di Libanon, Ikhwanul Muslimun di Mesir, dan
menangnya gerakan Islam Hamas atas Fatah yang nasionalis dalam pemilu di
Palestina, awal 2006, memperkuat fenomena itu.

Apalagi Turki, AKP, partai yang berbasis Islam menang mutlak di tengah
kuatnya tekanan tentara yang berkolaborasi dengan partai-partai sekuler,
AKP malah tambah berkibar dan menyapu mayoritas kursi parlemen dalam
pemilu.

The New York Times, 10 Agustus yang lalu, menulis bahwa kampanye
demokrasi Presiden Bush di Timur Tengah, menyebabkan Amerika semakin
kehilangan pendukung di kawasan itu. Setiap partai atau tokoh –
umumnya sekuler-- yang didukung Amerika, ternyata kalah dalam pemilu.

"Tak ada politisi yang mau mengindentifikasikan dirinya dengan
Barat, karena dari pemilu ke pemilu terlihat rakyat tak percaya pada
agenda Amerika Serikat,'' kata Mustafa Hamarneh dari University of
Jordan yang November mendatang, berencana mencalonkan diri sebagai
anggota parlemen di negerinya. Maka kebangkitan Islam bisa dibendung dan
teman Amerika bisa dipertahankan, hanya di negara otoriter semacam Mesir
dan Pakistan.

Tapi kebangkitan dimaksud ternyata tak terbatas Islam. Profesor Samuel
P.Huntington dari Harvard University dalam bukunya, Who are we?
America's Great Debate (The Free Press, 2005) dengan jelas
menguraikan fenomena ini. Menurut Huntington, sejak 25 tahun terakhir
abad 20, gerakan sekulerisme mulai menurun. Di saat bersamaan, terjadi
kebangkitan gerakan agama hampir di seluruh dunia, kecuali Eropa Barat.

Para pendukungnya bukan orang tua atau para petani miskin, melainkan
anak-anak muda terdidik, pegawai kantoran, pengusaha, atau kaum
profesional. Di Turki, misalnya, mahasiswi kedokteran memakai jilbab ke
dalam kelas, sebagai simbol perlawanan terhadap konstitusi sekuler
dukungan tentara.

Untuk diketahui, konstitusi Turki yang diboyong dari Swiss oleh Jenderal
Mustafa Kemal Attaturk di tahun 1920-an, menyatakan agama harus
dijauhkan dari pemerintahan. Karena itu sampai sekarang, jilbab yang
dianggap sebagai simbol Islam diharamkan masuk ke semua sarana atau
gedung Pemerintah. Adalah sangat dramatis, istri Perdana Menteri Recep
Thayyib Erdogan dilarang masuk kantor suaminya –sekali pun untuk
mendampingi suami menyambut tamu asing, misalnya—hanya karena tak
sudi menanggalkan jilbab.

Maka awal abad 21, menjadi era agama menantang atau menggantikan
sekulerisme Barat. Itu yang terjadi di Iran. Di Rusia, sistem sekuler
komunisme Lenin yang anti-agama, digantikan sistem spiritual dan budaya
Rusia. Di India, konsep sekulerisme Nehru yang sosialis –selama ini
jadi azimat Partai Kongres, warisan Nehru-- mendapat tantangan dari
gerakan keagamaan (Hindu) yang berafiliasi ke partai BJP. Partai ini pun
pernah memerintah India setelah mengalahkan Partai Kongres dalam pemilu.
Begitu pula yang terjadi di Timur Tengah, seperti telah disebut di atas.

Amerika Latin, yang umumnya berpenduduk Katolik, belakangan
`'diserbu'' oleh pertumbuhan pesat Kristen Evangelical, aliran
Protestan yang tak memisahkan politik dengan agama. Pertumbuhan agama
itu paling pesat di Brasil, negeri berpenduduk Katolik terbesar di
dunia.

Yang paling menarik tentu Amerika Serikat. Inilah satu-satunya negara
industri maju yang terkena fenomena itu. Kenapa? Huntington memberi dua
jawaban. Pertama, pertumbuhan cepat dan signifikan dari Kristen
Evangelical yang konservatif. Sementara, pengikut gereja Kristen utama
yang lebih liberal semacam Presbyterian atau United Church of Christ,
anjlok. Ada eksodus besar-besaran.

Lalu di bawah gerakan Evangelical itu bermunculan banyak organisasi,
termasuk yang berfungsi membina konstituen untuk kepentingan politik
pemilihan umum. Yang pertama adalah Moral Majority, didirikan Pendeta
Jerry Falwel pada 1979. Lalu Christian Coalition yang didirikan Pendeta
Pat Robertson,dan pada 1995, ditaksir memiliki 1,7 juta anggota. Ada
Focus on the Family yang memiliki 2 juta anggota, dan banyak lainnya.

Untuk menghadapi kaum feminis yang sering menyerang ide-ide mereka,
berdirilah Concerned Women for America yang didukung 600.000 anggota,
dan menjadi organisasi perempuan dengan anggota terbanyak di negeri itu.

Maka dalam dua kali pemilu terakhir, gerakan politik Evangelical
menyerahkan suara kepada Partai Republik yang konservatif, dan mendukung
pemenangan Bush, calon partai itu, menjadi Presiden. Boleh dibilang
sejak saat itu, gereja terlibat dalam urusan politik kekuasaan di negeri
super-power ini.

Faktor kedua, banyak orang Amerika yang konsern pada apa yang mereka
lihat sebagai kemerosotan nilai-nilai, moral, dan standar, di dalam
masyarakat. Sebutlah, merebaknya penggunaan narkoba, penyakit Aids,
perselingkuhan, wanita melahirkan tanpa ayah (single parent), abortus,
meningkatnya kriminalitas, ketamakan mengejar harta, dan sebagainya.
Lalu di tengah masyarakat muncul kebutuhan personal untuk mempercayai
dan memiliki sesuatu yang tak bisa dipenuhi atau dipuaskan oleh ideologi
dan institusi sekuler.

Dan perubahan besar itu pun terjadi. Tiba-tiba, menjadi atheis –
berbagai survei menunjukkan pengikutnya kini tak sampai 10% -- adalah
sesuatu yang asing bagi orang Amerika. Ada survei yang menunjukkan kaum
atheis lebih tak disukai dibanding kaum homo, atau menjadi Muslim.

Dulu di tahun 1960-an, Presiden John F.Kennedy terkenal dengan ucapannya
yang mengatakan, pandangan seorang Presiden tentang agama adalah urusan
privat ("a President whose views on religion are his own private
affairs"). Sekarang beda. Para politisi selalu membawa agama atau nama
Tuhan saat berbicara di hadapan publik. Itu terjadi pada para tokoh
Partai Republik mau pun Partai Demokrat yang liberal.

Al Gore, misalnya, calon Presiden dari Partai Demokrat pada Pilpres
tahun 2000, menguraikan bagaimana ia menghabiskan waktu setahun untuk
mengeksplor makna hidup. Akhirnya ia temukan. ''Kegunaan hidup ini
adalah untuk mengagungkan Tuhan,'' katanya.

Tapi yang paling bersemangat tentu Presiden Bush. Siapa ahli filsafat
politik favoritnya? Bush menjawab di sebuah acara TV yang dipancarkan
secara nasional, ''Jesus, sebab Ia mengubah hatiku. Ketika kau
menyerahkan hati dan hidupmu kepada Jesus, ketika kau menerima Jesus
sebagai penyelamat, hatimu akan berubah, hidupmu akan berubah. Dan
itulah yang terjadi pada aku.'' Dengan ini tentu sulit dibedakan
apakah Bush seorang Presiden atau Pendeta.

Tentu fenomena itu menimbulkan berbagai kekhawatiran. Misalnya,
tampilnya agama dalam politik akan menurunkan kecintaan pada negara,
seperti yang sering diembuskan kaum nasionalis sekuler Indonesia.
Ternyata, jawaban dari Profesor Huntington: tidak.

Sebuah survei yang dilakukan di 41 negara, pada 1990-1991, menemukan
bahwa penduduk suatu negara yang lebih religius, ternyata juga lebih
nasionalis. Semakin seseorang memberi angka tinggi pada pentingnya Tuhan
di dalam hidup, semakin dia bangga pada negaranya (1990-1991 World
Values Survey, Ronald Inglehart dan Marita Carballo).

Dari suvei itu, Nigeria, Turki, Brasil, Polandia, Irlandia, dan Amerika
Serikat, menduduki tempat teratas: masyarakatnya agamis, sekaligus
nasionalis. Sebuah survei yang lain, pada 1983, di 15 negara –
sebagian besar di Eropa -- menemukan bahwa semakin tipis rasa keagamaan
responden, semakin tipis pula nasionalismenya.

Berarti benarlah, ''Hubbul wathon minal iman''. Cinta tanah
air itu bagian dari iman. Dan bagi para pendukung Hizbut Tahrir, 
Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) atau gerakan Islam lainnya, petuah ini
tentu sesuatu yang tak mungkin diabaikan.



* Penulis adalah mantan Redaktur TEMPO dan GATRA. Kini,  bergabung
dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

Kirim email ke