*KOMPAS, Kamis, 30 Agustus 2007 *

*Seandainya Sumarmi Bukan Seorang TKI *

Kasus pengeroyokan wasit karate Kejuaraan Karate Asia asal Indonesia, Donald
Luther Colopita, oleh polisi di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (24/8) dini
hari, memicu reaksi simpati beragam di Tanah Air. Namun, sayangnya, simpati
sebesar itu tak terlihat saat ada kabar penemuan jenazah tenaga kerja
Indonesia (TKI) asal Ngawi, Jawa Timur, Sumarmi, di rumah majikannya di
Malaysia, Sabtu (25/8).

Tidak banyak yang meributkan bagaimana dua jenazah TKI yang tewas akibat
dianiaya majikan di Riyadh, Arab Saudi, masih belum bisa dipulangkan sampai
sekarang. Hanya keluarga TKI dari kampung yang sibuk melobi para pejabat
agar mempercepat pemulangan jenazah keluarganya.

Direktur Eksekutif Migrant CARE Anis Hidayah di Jakarta, Rabu, mengatakan,
sampai Agustus 2007, ada 121 TKI yang meninggal. Sebanyak 49 orang bekerja
di Arab Saudi, 43 orang di Malaysia, dan sisanya di negara penempatan lain.

"Pada kasus seperti ini, reaksi umumnya adalah menyalahkan TKI yang pergi ke
luar negeri tanpa kompetensi memadai. Ini tidak adil, karena mereka adalah
korban yang seharusnya dibela dan dilindungi juga," kata Anis.

*Diskriminasi*

Menurut Anis, perbedaan perlakuan terhadap TKI dan warga negara Indonesia
(WNI) lain dalam proses pelayanan sehari-hari telah menciptakan stereotip
yang sulit dihilangkan. Kesan bahwa TKI adalah orang miskin berpendidikan
rendah dan minim keterampilan yang nekad bekerja ke luar negeri sangat tidak
menguntungkan para pahlawan devisa ini.

"Ketika mereka pulang dan pergi ke luar negeri, misalnya, perlakuan awak
pesawat saat melayani TKI berbeda dengan penumpang lain. TKI mengalami
diskriminasi perlakuan di mana pun," kata Anis.

Data Migrant CARE menyebutkan, penempatan TKI sampai tahun 2006 sudah
mencapai 6,9 juta orang. Sebanyak 1,8 juta di antaranya berada di Malaysia
dan 1,2 juta di Arab Saudi.

Adapun data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI)
menyebutkan, penempatan TKI sampai tahun 2006 sudah 4,9 juta orang.

Seusai menerima keluarga empat TKI korban kekerasan di Arab Saudi di
Jakarta, Selasa sore, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Mennakertrans)
Erman Suparno menegaskan, pemerintah tidak membeda-bedakan perlindungan
terhadap WNI di luar negeri.

"Mereka tetap anak bangsa yang harus dilayani dan dilindungi. Sepanjang
tidak ada proses hukum yang harus dijalani, kami ingin memulangkan TKI
bermasalah di luar negeri secepatnya," kata Erman.

Mennakertrans telah mengirim satu tim ke Riyadh untuk mengurus pemulangan
jenazah TKI dari Arab Saudi. Erman berjanji jenazah sudah tiba sebelum bulan
Ramadhan.

Departemen Luar Negeri juga telah membentuk pos pelayanan WNI di Kedutaan
Besar RI Singapura, KBRI Seoul, KBRI Bandar Seri Begawan, KBRI Amman, KBRI
Doha, dan KBRI Damaskus. Pos ini menjadi tempat pengaduan dan tujuan
pelarian pertama bagi WNI yang bermasalah di luar negeri.

Menurut Anis, sudah sewajibnya TKI dilindungi karena negara telah memungut
15 dollar AS atau Rp 142.500 (kurs Rp 9.500) saat setiap TKI berangkat, yang
disebut dana perlindungan dan menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Jika diasumsikan 600.000 TKI berangkat setiap tahun, negara telah menerima
Rp 85,5 miliar.

*Kontribusi TKI*

Kontribusi lain yang lebih dahsyat adalah TKI mengirim sedikitnya 6,5 miliar
dollar AS atau setara Rp 61,7 triliun per tahun ke Indonesia. Nilai ini
adalah 12,5 persen dari cadangan devisa Bank Indonesia, yang sampai Agustus
2007 mencapai 51,7 miliar dollar AS atau Rp 491,1 triliun.

Remitansi TKI ini lebih besar dari nilai ekspor minyak sawit mentah (CPO)
yang berkisar 4 miliar-5 miliar dollar AS per tahun. Atau dari ekspor mebel
dan kerajinan yang mencapai 2,2 miliar dollar AS tahun 2006.

"Pemerintah harus segera meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang Perlindungan Buruh Migran dan merevisi Undang-Undang Nomor 39 Tahun
2004. BNP2TKI juga harus menjalankan mandatnya dalam penempatan dan
perlindungan, jangan hanya simbolis, seperti menuntut TKI mendapat libur
sehari di Malaysia," kata Anis.

Berikan simpati pada mereka, karena sampai Sumarmi terbujur kaku, simpati
itu tak pernah datang kepada dirinya dan para TKI lainnya. (hamzirwan)

Kirim email ke