refleksi: Penulis artikel dibawah ini mencampur aduk dua masalah yaitu TKI dan 
Sutyoso. TKI  tercipta karena pemerintah NKRI ketidak becus menciptakan 
lapangan kerja sesuai tuntutan pertumbuhan demografi, sedangkan Sutyoso terkait 
masalah pembunuhan dalam kasus Balibo 5 di Timor Timur 1975. Dalam konvensi 
internasional mengenai tuntutan penangkapan penjahat perang tidak ada 
kedaluwarsaan batas waktu.  

++++

KOMPAS
Senin, 03 September 2007 

  
Jangan Lagi Mengemis Kata "Maaf"! 


Herry Tjahjono 

Beberapa tahun lalu, TKI ilegal di Malaysia ramai diberitakan akan dipulangkan 
(baca: diusir). Waktu itu ada yang sebagian dikejar-kejar karena ngotot 
menuntut gajinya. Kasus TKI ilegal itu cermin bahwa bangsa dan rakyat Indonesia 
adalah manusia-manusia yang kalah "di luar". Namun, sejatinya, kita semua juga 
adalah manusia-manusia yang kalah "di dalam (negeri)" sendiri. 

Hari-hari ini kita dikejutkan oleh pemukulan semena-mena polisi Malaysia 
terhadap wasit dari Indonesia karena "dianggap" TKI ilegal. Kasus ini merupakan 
simbol telak manusia Indonesia tanpa martabat di mata orang luar. Ekstremnya, 
di mata (orang) Malaysia, kita hanyalah "sekumpulan" bangsa TKI ilegal. Maka, 
siapa pun kita orang Indonesia ketika berada di negeri jiran itu, jika 
penampilan fisikal kita cenderung mirip TKI ilegal, sangat mungkin kita 
mendapatkan perlakuan yang sama. 

Dalam kasus yang lain, kita tentu masih ingat Sutiyoso juga diperlakukan kurang 
sedap di Australia. Telah tercipta stigmatisasi negatif dari negara-negara luar 
terhadap bangsa Indonesia. 

Martabat bangsa luluh lantak! Secara psikologis, gejala luluh lantaknya 
martabat bangsa itu ditandai oleh merebaknya prasangka orang luar terhadap 
kita. Prasangka (prejudice) lebih intens dan jahat dari ketidakpercayaan 
(distrust). Bangsa kita bukan hanya tidak dipercaya orang luar, tetapi sudah 
diprasangkai. 

Dan prasangka itulah yang terjadi pada wasit kita di Malaysia. Dia bukan TKI 
ilegal, dia tak berbuat apa pun, tetapi karena diprasangkai sebagai TKI ilegal 
sebagai cermin "serba buruk dan menyebalkan" orang Indonesia, dia diperlakukan 
semena-mena. 

Prasangka sendiri secara bebas bisa diartikan sebagai sebuah sikap (mental) 
yang tak kondusif, merugikan (kedua pihak), negatif, yang mengarah pada anggota 
kelompok atau kelompok tertentu. Prasangka ini sungguh jahat dan sering tidak 
manusiawi. Orang- orang yang kepribadiannya dipenuhi prasangka ini sendiri 
tentu saja tidak sehat (patologis), irasional, dan subyektif. Dan jelas, 
negara-negara tetangga (baik oknum maupun sebagai kelompok bangsa) yang 
dipenuhi prasangka terhadap kita juga patologis secara kejiwaan. 

Kondisi kita sebagai "obyek" prasangka ini juga tak kalah sakitnya secara 
kejiwaan sebab hal ini merupakan simtom dari martabat bangsa yang tergerus. Itu 
sebabnya sebagai obyek prasangka kita juga cenderung berperilaku patologis 
juga. Tandanya, kita juga cenderung reaktif-emosional, irasional, dan 
subyektif: mau membalas dengan prinsip an eye for an eye, melakukan sweeping 
orang Malaysia, dan mengusir atletnya, dan banyak lainnya. 

Namun, bukan itu esensi masalahnya! Ini problem kepemimpinan bangsa. Salah satu 
tugas utama pemimpin adalah menegakkan martabat organisasi (Indonesia) dan 
segenap anggotanya (rakyat). Jika rakyat kehilangan martabat dan dijadikan 
obyek prasangka, bukan mereka yang salah, tetapi para pemimpinnya. 

Kita tidak bisa melawan mereka dengan sikap-perilaku patologis juga (serba 
reaktif, irasional, subyektif). Maka kepemimpinan para pemimpin haruslah 
"sehat", tidak patologis: semua sikap dan perilaku kepemimpinan harus dilandasi 
oleh proses kerja dan tujuan yang "rasional-obyektif". Rasional-obyektif 
berhubungan dengan data dan fakta, tidak hanya opini atau sikap reaktif. Maka 
proses dan tujuan kepemimpinan adalah bagaimana mengubah "data dan fakta" 
kondisi rakyat: dari status para TKI ilegal, yang liar mengendap-endap mencari 
sesuap nasi di negara-negara tetangga, disiksa, diperkosa, dibunuh, berubah 
menjadi tuan di negeri sendiri (yang tidak kelaparan, tak lagi kelayapan karena 
tak punya rumah, dan aman bekerja di negeri sendiri). 

Para penguasa atau petinggi negeri ini adalah orang-orang hebat dan sukses, 
tetapi belum tentu mereka layak disebut pemimpin sukses-pendapat John 
Maxwell-jika mereka belum mampu menemukan "tempat" yang tepat bagi pengikutnya 
(rakyat). 

Banyaknya rakyat yang jadi TKI ilegal merupakan refleksi bahwa mereka belum 
punya tempat yang tepat, bahkan di negerinya sendiri. Maka para saudaraku, 
jangan lagi menuntut (baca: mengemis) kata "maaf" dari Malaysia. Itu justru 
refleksi dari tergerusnya martabat kita sampai ke titik nadir. Kita tak perlu 
maaf, kita perlu rasa hormat mereka. Dan itu tugas para pemimpin untuk bekerja 
lebih "sehat"! 

Herry Tjahjono Corporate Culture Therapist dan Penulis Buku The XO Way 

Kirim email ke