Anakku Tidak Mau Curhat Padaku
Anak saya, pria, usia 12 tahun tertutup sekali. Sering
sekali terlihat kalau dia punya masalah, tetapi hanya
dipendamnya di dalam hati. Terkadang saya merasa putus
asa, ingin sekali saya menjadi orang tua yang bisa
dipercaya untuk dia berbagi cerita.
MK, Karyawan Bank 45 th
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini kesalahan
saya?
Ada berbagai karakter manusia, ada berbagai sifat
manusia, ada berbagai jenis perasaan manusia. Coba
bayangkan kalau Tuhan menciptakan manusia semuanya
sama. Sepertinya dunia yang akan sangat membosankan
bukan, dimana semua orang sama, reaksinya sama, jalan
pikirannya sama, karakternya sama. Nah, terbentuknya
sifat, perasaan, karakter, dan berbagai hal dalam diri
manusia ini tercipta sebagai sebuah proses. Proses
yang berkelanjutan, proses yang terjadi semenjak kita
tercipta di dunia ini.
Maksudnya bagaimana? Misalnya begini, ketika seorang
anak dari kecil diberikan kebebasan untuk bercerita,
ditunjukkan keindahan berbagi cerita, diajak untuk
saling bercerita, tanpa di kritik, di komentari, di
hakimi (judment), tentu saja dia akan merasa nyaman
dan aman untuk menceritakan apapun. Terlepas dari
apapun yang diceritakannya, baik positif atau negatif,
dia tahu, bahwa rekan bicaranya (orang tua) akan
menghargai ceritanya. Yang perlu diperhatikan, adalah
bagaimana caranya menanggapi cerita sang anak. Tahukah
bahwa terkadang kita cuma membutuhkan teman yang mau
mendengar keluh kesah kita? Begitu halnya dengan anak
kita. Mungkin berbagai nilai-nilai yang kita ketahui,
belum diketahui oleh sang anak? (lho, coba kita lihat,
apa yang sudah kita lalui, dan apa saja yang sudah
dilalui oleh anak kita, beda jauh kan?) Tapi ini juga
bukan memberikan kita hak untuk berkata dalam hati
kamu kan anak kecil, tahu apa kamu, apalagi sampai
terucap di mulut kita terhadap dia. Belum lagi
berbagai nilai-nilai baru yang (mungkin) saja kita
bahkan tidak sempat tahu? Tidak sempat tahu? Iya,
apakah kita 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam
sehari, selalu bersama anak kita? Nggak kan, kita
tidak tahu acara TV dan adegan apa saja yang dia
tonton (sinetron, kartun, film, dll), kita tidak tahu
apa saja masukan dari lingkungan di sekitarnya (guru,
teman, pembantu, dll), jadi, banyak sekali yang kita
tidak tahu di sini. Nah, coba bayangkan, kalau anak
kita sudah bercerita (apalagi dengan susah payah),
kemudian tanggapan kita berbeda jauh dengan yang dia
harapkan (apalagi tanggapan kita mengkritik,
mengkuliahi, atau bahkan menghukumnya), kira-kira
menurut logika (sebagai seorang anak), apa sih yang
akan dirasakan oleh anak kita itu?
Ada sebuah pertanyaan buat kita semua, siapa sih, yang
suka kalau cerita kemudian sudah dikomentari, di
hujat, di kritik apalagi kemudian disalah-salahkan?
Tentu saja lama kelamaan, terbentuk mekanisme
pertahanan diri (di dalam pikiran bawah sadar) si anak
tersebut untuk melawan, salah satunya dengan diam
(seolah-olah, pikirannya berkata lho, kalau saya
cerita, pasti deh nanti saya di kritik, di salahkan,
di komentari, nggak mau ah). Kalau ini terjadi dalam
waktu yang cukup lama, maka ini akan menjadi bagian
dari kebiasaan si anak tersebut. Jadilah ini bagian
dari karakter si anak, pendiam dan menyimpan semuanya
di dalam pikiran dan hatinya.
Salah siapa? Menurut saya, bukan salah siapa-siapa.
Hampir tidak mungkin orang tua memiliki niat buruk
terhadap anaknya, dengan sengaja ingin membuat si anak
takut, tidak PD, pemalu, dan lain sebagainya. Yang
sebenarnya terjadi adalah bahwa sang orang tua belum
mengetahui cara berkomunikasi yang tepat untuk
berhadapan dengan anaknya, dengan karakteristik sang
anak. Belum. Daripada kita menyesali kesalahan yang
pernah kita perbuat, bukankah lebih baik kalau kita
mulai memikirkan bagaimana cara untuk memperoleh hasil
yang kita inginkan? Untuk mengetahui keinginan,
cita-cita, dan potensi dari anak kita itu.. dan ini
semua membutuhkan sedikit usaha lebih dari kita (tapi,
bukankah itu indahnya tugas sebagai orang tua?).
Bukankah sebenarnya kita bisa mengatur reaksi dari
anak kita, kalau kita mau mencoba untuk mengubah cara
kita berkomunikasi dengan mereka? Jadikan ini sesuatu
yang fun, sebuah permainan. Anggap saja, kita sedang
berusaha berkomunikasi dengan makhluk yang telah
dititipkan Tuhan pada kita, dan memiliki cara berpikir
yang (boleh saja) berbeda dengan kita, memiliki reaksi
yang (bisa jadi) berbeda dengan kita. Jadi, siapa
bilang tugas sebagai orang tua itu mudah? Nggak ada,
tapi bukankah itu indahnya akan nilai sebagai orang
tua? Menjadi telinga untuk anak kita ketika ia
bersedih (walaupun saat itu kita sedang sangat lelah),
menahan diri untuk tidak menghakimi dan
meng-kuliahinya (walaupun saat itu kita sedang
kesal), menjadi tangan yang mendorongnya maju
(walaupun terkadang kita harus menahan diri untuk
melihatnya jatuh). Indah bukan, karena nilai yang kita
tanamkan itulah yang akan menjadi pijakannya seumur
hidup kelak, dan dengan itulah kita akan dikenang
dalam pikiran dan hatinya. Lihatlah keindahannya...
Bagaimana caranya supaya dia mau lebih terbuka pada
saya?
Banyak orang yang berkata kamu bisa percaya pada
saya, atau kamu boleh bercerita pada saya, tetapi
ada sebuah pertanyaan yang ingin saya tanyakan,
bukankah rasa nyaman itu tidak bisa dipaksakan?
Seperti halnya dengan rasa cinta, rasa marah, dan
berbagai perasaan yang lainnya? Apakah kita bisa
memilih rasa aman kita bercerita pada orang lain?
Apakah kita bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta?
Susah bukan? Kalau begitu, apakah kita bisa dengan
mudah membuat anak kita bercerita pada kita hanya
dengan kata-kata (apalagi petuah dan perintah)?
Kalau anak kita belum merasa nyaman, percaya, atau
aman (utk hari dan pikirannya) untuk bercerita pada
kita, mungkin kita bisa mencoba pendekatan lain untuk
bisa berkomunikasi dengannya (dua arah). Bukankah
komunikasi itu tidak hanya bicara? Banyak cara
komunikasi yang sebenarnya kita sudah tahu (surat,
sms, gambar, rekaman suara, dll), yang bisa kita
manfaatkan. Mungkin kita bisa mengajaknya untuk
bertukar cerita dengan menggunakan surat. Bertukar
cerita? Ya, cara termudah untuk membuat anak kita mau
berbagi cerita dengan kita, adalah dengan kita dulu
membagi cerita atau perasaan kita dengannya. Lakukan
ini dengan ketulusan, bukan sesuatu yang dilakukan
karena keterpaksaan, ceritakan dengan hati kita. Pakai
surat (kuno sekali!)? Iya, kita bisa meletakkan surat
yang isinya cerita tentang perasaan, kegiatan, dan
banyak hal yang kita alami hari itu, yang kita
letakkan di tempat yang hanya dia yang bisa membacanya
(meja belajar, tempat tidur, komputernya, dll).
Kenapa begitu? Prinsipnya adalah, kalau kita ingin dia
terbuka, maka bukalah diri kita terlebih dahulu.
Jadilah contoh untuk ditiru, bukan Boss yang
memberikan perintah (kita juga tidak akan curhat ke
boss kita di kantor, walaupun dia berkata mulai saat
ini, kalian bisa curhat pada saya ya, nggak juga kan?
Kecuali memang dari dulu kita sudah bersahabat dengan
boss kita itu). Juga gunakan berbagai cara yang
mungkin bagi anak kita lebih nyaman (surat menyurat,
email, bahkah games-games kecil yang kita lakukan,
yang bisa membuat mereka merasa nyaman, bahkan fun
untuk berbagi. Terakhir, konsistenlah pada apa yang
sudah kita mulai..
Selamat bermain...
Kirdi Putra, CHI, CHt.
Hypnotherapy Coach
Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)
Phone. +62 21 739 7916
[EMAIL PROTECTED]
For things to change, I have to change
____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo!
FareChase.
http://farechase.yahoo.com/