Sepertinya kalau membaca rentetan email sebelumnya, sepertinya saya setuju 
dengan sdri refunny.  Untuk hal-hal seperti ini, kita memang sebaiknya tidak 
terpancing oleh apa yang kita dengar dan baca (terima) dari media massa. Para 
wartawan itu juga manusia, mereka menulis dan melaporkan berdasarkan kacamata 
mereka (sudut pandang dan pemahaman), meski dalam news tidak boleh memasukkan 
opini, tapi dari pemilihan angle dari redaksi media-media itu, bisa terlihat, 
laporan-laporan mereka itu pro kemana. Tidak semua media massa yang menulis 
tentang penganiayaan Bung Donald ini secara cover both side. 

Menyikapi masalah ini secara pribadi (daripada ikut-ikutan mencaci maki atau 
sekedar demo unjuk gigi yang sebenernya mungkin tidak ada), saya lebih 
mengambil hikmah bahwa : Ketika berada di negeri orang, ikutilah aturan main 
disana. Kalo bukan di kampung sendiri, ga usah petantang petenteng deehh.. yang 
ada memancing orang untuk berbuat jahat ke kita.

Malaysia (mungkin) memang arogan, tapi saya juga yakin, tidak ada asap tanpa 
api.. artinya semua itu pasti ada yang memicunya. Seperti banyaknya TKI ilegal 
yang nekat masuk Malaysia tanpa ada surat-surat yang jelas, nah mungkin Bung 
Donald itu kena getahnya, karena negara tentangga kita ini berupaya untuk 
mencegah banyaknya tenaga ilegal itu. 
Sengaja saya tulis dengan selalu menggunakan kata "mungkin " karena kalau baca 
atau nonton berita di TV, cukup banyak versi mengenai runtutan peristiwa awal 
mula penganiayaan bung donald ini. 

Jadi, yang tenang dan sabar sajalah... benahi diri kita juga terlebih dahulu... 
Terimakasih dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Karena saya yakin 
setiap orang punya pemikirannya masing-masing atas kasus ini.


Salam,
Afnita 





  ----- Original Message ----- 
  From: [EMAIL PROTECTED] 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: [email protected] 
  Sent: Sunday, September 02, 2007 1:15 AM
  Subject: RE: [mediacare] Promosi wisata Malaysia tercoreng oleh ulah 
kasarpolisi


  Terima kasih atas caci makinya...

  Seperti saya katakan di akhir email saya, sama sekali tidak ada 
  justifikasi yg membenarkan tindakan kasar polisi Malaysia tsb.

  Saya mau tanya kepada anda... apakah dengan mencaci maki Malaysia 
  lantas anda merasa lebih nasionalis? Mohon direnungkan kembali. 

  Kalau dalam menulis email saja tidak ada sopan santun seperti ini, 
  saya rasa kelakuan anda tidak lebih baik daripada polisi Malaysia 
  tersebut.

  ----Original Message----
  From: [EMAIL PROTECTED]
  Date: 01-Sep-2007 15:30
  To: <[EMAIL PROTECTED]>
  Subj: RE: [mediacare] Promosi wisata Malaysia tercoreng oleh ulah 
  kasarpolisi

  Kamu ini orang Indonesia apa bukan 
  sudah jelas Polisi Malaysia berbuat salah dengan memukuli wasit 
  Indonesia sampai 
  terkapar di rumah sakit, dan banyak TKI 2 Indonesia yang menjadi 
  korban kebiadaban 
  anjing malaysia, orangnya disekap, disiksa sampai babak belur, gaji 
  tidak dibayarkan, 
  coba bayangkan kalau yang menjadi korban penganiayaan itu adik kamu, 
  kakak kamu, anak kamu, saudara kamu atau ibu kamu apa kamu juga akan 
  berkomentar seperti ini
  kamu masih coba2 membela polisi biadab itu tindakan polisi itu sudah 
  jelas 2 sangat
  melecehkan bangsa dan negara Indonesia , masa kamu masih mau membela 
  mereka 
  memangnya kamu ada kesamaan apa dengan anjing 2 malaysia itu
  kalau kamu merasa cari makan dan dibesarkan di negara biadab 
  malaysia itu ya kamu pergi saja ke sana jangan cari makan di Indonesia 
  oke 

  nasionalis

  sejati
  -----Original Message-----
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
  Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
  Sent: Wednesday, August 29, 2007 9:10 PM
  To: [email protected]
  Subject: Re: [mediacare] Promosi wisata Malaysia tercoreng oleh ulah 
  kasarpolisi

  Pelajaran penting dari peristiwa ini adalah: jangan sekali-kali 
  meremehkan urusan dokumen identitas. Di tengah dunia yang semakin 
  dinamis ini, kartu identitas seperti KTP merupakan benda yang tidak 
  boleh lepas dari kita kalau hendak melangkah keluar rumah. Kalau 
  sedang 
  berada di luar negeri (sekalipun hanya selangkah dari perbatasan 
  negara), maka Paspor adalah dokumen penting yang harus dibawa 
  kemanapun 
  kita pergi kecuali kita telah memiliki identitas lain yang 
  dikeluarkan 
  lembaga resmi negara bersangkutan.

  Pengalaman seorang rekan asal Filipina, dia pernah dihentikan tiba2 
  oleh seorang polisi di Jepang. Bahkan ketika dia telah menunjukkan 
  Paspor, polisi tsb tetap menggeledah teman saya itu. Beruntung dia 
  tidak membawa benda2 apapun yg terlarang. Pengalaman lain lagi dari 
  seorang rekan asal Bangladesh, dia dihentikan tiba2 oleh seorang 
  polisi 
  di Rotterdam, Belanda. Ketika ditunjukkan Paspor, polisi tersebut 
  malah 
  meminta teman saya menunjukkan isi dompetnya karena katanya dia 
  sedang 
  melakukan razia uang palsu. Teman saya menolak dgn alasan tidak 
  membawa 
  dompet dan akhirnya dibebaskan. Rekan yang lain lagi, bule nih, 
  pemegang Paspor Amerika tetap digeledah oleh polisi perbatasan 
  ketika 
  mendarat di sebuah bandara di Denmark.

  Jadi memang polisi dan lembaga berwenang lainnya di mana2 bisa 
  menggeledah siapa saja, kapan saja, tidak pandang warga negara 
  mana. 
  Bayangkan kalau teman2 saya itu tidak membawa Paspor sebagaimana 
  kejadian yg dialami oleh rekan kita di Malaysia. Tentunya, mereka 
  harus 
  menginap dulu di kantor polisi sampai polisi yakin mereka tidak 
  bersalah. Kadang2 yang namanya menginap di kantor polisi membuat 
  tubuh 
  kita tidak lagi sempurna saat kita keluar dari sana, akibat 
  kelakuan 
  oknum polisi yg tidak bertanggung jawab.

  Bukannya mau membela polisi Malaysia dan tidak ada justifikasi yang 
  mendukung kelakuan kasar polisi Malaysia tsb. Tapi ada baiknya kita 
  mencegah terjadinya hal2 demikian dengan selalu membawa bukti 
  identitas 
  kita kemanapun kita pergi. Apalagi kalau sedang berada di negeri 
  orang.

  -------------------------------------------

  Promosi wisata Malaysia tercoreng oleh ulah kasar polisi
  Posted by: "mediacare" [EMAIL PROTECTED] 
  Date: Wed Aug 29, 2007 4:08 am ((PDT))

  dari milis Pantau):
  ==========================

  Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
  WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
  Jakarta.

  Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN
  kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
  "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
  Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
  BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga
  WISATAWAN.

  Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
  anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke
  Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
  negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan
  imigrasi). 
  Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke
  Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
  anak-anak gembira.

  ............. dst



   

Kirim email ke