HARIAN KOMENTAR
06 September 2007
Israel Ingin Investasi, Politisi Kebakaran Jenggot
Putusnya hubungan diplomatik, bukan berarti kegiatan bisnis kedua negara
terputus. Tak heran jika Israel telah menyatakan kesiapannya berinvestasi di
Indonesia. Malah utusan Israel sudah menemui Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro
terkait bisnis kilang minyak dan biofuelnya di Indonesia. Sayangnya keinginan
Israel ini, membuat politisi nasional kita kebakaran jenggot.
Malah Ketua MPR Hidayat Nurwahid mengecam hal itu dan meminta DPR bertindak.
"DPR harus memanggil Men-teri ESDM, kok bisa-bisanya utusan Israel ditemui.
Tidak mungkin mereka presentasi kalau tidak ada kemungkinan apa-apa. Jadi ini
perlu dipanggil menterinya. Masak mereka (Israel) datang hanya untuk presentasi
gratisan," kata Ketua MPR Hidayat Nurwahid seperti dilansir detikcom Rabu
(05/09).
Hidayat menyesalkan adanya gelagat pemerintah yang tampak membuka peluang bagi
investor Israel. "Buat apa membuka celah seperti ini?" tanya dia. Hidayat
menjelas-kan, jika Indonesia ingin me-ngembangkan bisnis kilang minyak dan
pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel, tidak perlu menjalin
kerjasama dengan negara kontroversial itu. "Indonesia ini kan tidak kekurangan
teman baik. Bisa dengan negara-negara Timur Tengah, Arab Saudi, Iran, Kuwait,
lalu Emirat," kata Hidayat.
Sementara Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris tidak keberatan dengan
rencana Israel investasi di In-donesia. Menurutnya hubungan dagang dengan
Israel berbeda dengan hubungan diplomatik. "Memang sebenarnya tidak ada
masalah, hubungan diplomasi kan berbeda dengan hubungan dagang. Jadi kalau
hubungan dagang silakan saja," ujarnya.
Menurutnya dalam hal perdagangan, orang Indonesia juga tak terhindarkan untuk
bertransaksi dengan orang Yahudi. "Seperti kalau WNI lagi di Amerika, itu beli
barang dari orang Yahudi, itu salah atau tidak," kata Fahmi mencontohkan.
Fahmi mengaku dirinya belum mengetahui perusahaan Israel yang mana yang akan
masuk ke bisnis kilang dan bahan bakar nabati di Indonesia. Menurutnya bisa
saja Israel menggunakan perusahaan berbendera negara lain untuk masuk ke dua
bisnis tersebut. "Bisa saja ia memakai perusahaan Amerika, Singapura atau yang
lainnya. Seperti kalau orang Indonesia menanamkan mo-dalnya keluar negeri, kan
bisa atas nama orang lain," tandasnya.(dtc/*)