http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=39830


BIN Didesak Bubar
(08 Sep 2007, 15 x , Komentar) 


JAKARTA - Ratusan aktivis hak asasi manusia (HAM) kemarin melakukan aksi 
demonstrasi di depan kantor Badan Intelijen Negara (BIN) di Jakarta. Mereka 
mendesak agar lembaga telik sandi ini dibubarkan, karena diduga terlibat dalam 
kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir.

"BIN perlu direformasi agar akses informasi terhadap lembaga ini bisa dibuka 
lebih lebar kepada masyarakat," ujar Suciwati, istri mendiang Munir, di 
sela-sela demonstrasi memperingati 3 tahun kematian Munir.

Menurut Ibu dari dua anak itu, pemerintah selama tiga tahun belum memberikan 
perkembangan yang signifikan, karena kasus kematian suaminya itu, sempat 
tenggelam dengan hasil yang sama sekali tidak memuaskan.

Setelah dibuka kembali, muncul harapan agar kasus tersebut bisa segera tuntas. 
Namun, dari beberapa sidang PK (Peninjauan Kembali) kasus kematian suaminya, 
nama-nama seperti Hendro Priyono (Mantan Kepala BIN) hingga petinggi BIN Muchdi 
P.R, tak kunjung diperiksa. Meskipun nama-nama tersebut sempat muncul dalam 
penyelidikan dan keterangan beberapa saksi.

"Pemerintah terlalu lamban dalam menindaklanjuti nama-nama baru yang muncul 
dari orang BIN. Karena (nama-nama) itu sudah disinggung, saya meminta (mereka) 
untuk diperiksa," ujarnya.

Menarik keberadaan nama-nama tersebut agar bisa diperiksa oleh kejaksaan, 
menurut Suciwati, adalah salah satu bentuk reformasi BIN. Selama ini, nama-nama 
pejabat negara tersebut sama sekali tak tersentuh, seakan berada dalam 
perlindungan BIN.

"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan, kasus Munir merupakan 
ujian bersejarah bagi negara di mata internasional demi menyelesaikan kasus 
pelanggaran HAM. Semestinya, SBY tetap berpegang pada itu," ujarnya.

Di tempat yang sama, Koordinator Kontras Usman Hamid menyatakan, seruan 
reformasi atas BIN bukan merupakan upaya melawan salah satu badan negara 
tersebut. Reformasi tersebut menurutnya adalah demi menghapus BIN dari 
oknum-oknum yang mengatasnamakan BIN untuk membunuh Munir.

"Kami di sini malah bermaksud membela Syamsir (Siregar, Kepala BIN). Ibarat 
membuang duri dalam daging, Syamsir harus berani mengajukan nama-nama tersebut 
untuk diperiksa," ujarnya.

Aksi demo yang dimulai sekitar pukul 14.00 tersebut diikuti kurang lebih 400 
pendukung aktivis HAM Munir. Mereka yang menamakan diri sebagai ASUMSI (Aliansi 
Solidaritas Untuk Munir dan Demokrasi) itu terdiri dari beberapa anggota dari 
organisasi diantaranya Kontras, Ikohi, YLBHI, LBH Jakarta, Pakem, Kompak dan 
juga Walhi.

Suciwati yang turut dalam aksi tersebut bermaksud memberikan tanda dukungannya 
kepada BIN, dengan memberikan seikat karangan bunga kepada BIN. Namun, dari 
jejeran anggota BIN yang mengawal di balik pintu besi itu, tidak ada satupun 
yang bersedia menerima. 

Spontan para demonstran meneriakkan cemoohan kepada para anggota BIN tersebut. 
Setelah berorasi sekitar satu jam, rombongan demonstran yang datang dengan 
menggunakan metro mini dan bus sewaan itu melanjutkan aksinya di depan Istana 
Negara. (bay

Kirim email ke