http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007090802471916

      Sabtu, 8 September 2007 
     
      BURAS 
     
     
     
Jangan Simpan Tangismu! 

       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      "ADA apa, kau tatap koran dengan sendu, menahan tangis?" tanya Edi.

      "Ternyata pimpinan dan fraksi-fraksi DPR telah menyetujui renovasi gedung 
wakil rakyat itu dengan anggaran Rp40 miliar!" jawab Edo. "Teganya mereka 
mempernikmat ruang kerja yang sudah nyaman di tengah derita rakyat terbenam 
kemiskinan!"

      "Jangan dilihat dari sisi rakyat yang menilai Rp40 miliar itu besar 
sekali!" timpal Edi. "Bagi mereka yang mengelola anggaran negara ratusan 
triliun, uang sejumlah itu dinilai kecil! Misalnya, mereka hitung, uang Rp40 
miliar itu dibagikan kepada 37 juta lebih warga di bawah garis kemiskinan, per 
orang cuma dapat seribu rupiah, setara dua ons beras! Hanya untuk sekali makan 
tanpa lauk!"

      "Bukan nilainya yang menusuk kalbu!" sambut Edo. "Tapi kenyataan para 
wakil rakyat belum berubah, tetap lebih mengutamakan kepentingan pribadinya 
ketimbang kepentingan rakyat yang mereka wakili! Setelah tahun-tahun sebelumnya 
terus memompa peningkatan pendapatannya dengan merekayasa beragam tunjangan, 
hingga di kisaran Rp40 juta per anggota per bulan, untuk pimpinan tentu lebih 
tinggi lagi, tahun ini orientasinya bukan fokus pada kepentingan rakyat, tapi 
masih berkutat di seputar kepentingan pribadinya!"

      "Kalau untuk itu, jangan simpan tangismu!" tegas Edi. "Karena kalau kau 
simpan terus, kau tahan sampai meledak pun dadamu, mereka takkan berubah juga!"

      "Aku bukan menangisi mereka, para wakil rakyat itu!" timpal Edo. "Tapi 
nasib saudara-saudara kita yang masih terbenam kesulitan hidup, tak kunjung 
mendapatkan perhatian sepenuhnya dari mereka yang berkewajiban meningkatkan 
kesejahteraan rakyat! Hal itu setiap kali terulang akibat para wakil rakyat 
selalu lebih cenderung berorientasi ke dirinya sendiri--bertentangan dengan 
ekspektasi yang terus membubung pada lembaganya!"

      "Harapan rakyat yang terlalu tinggi itu jadi pangkal masalah!" tegas Edi. 
"Diisi pun kalau tak maksimal tetap menuai kecewa! Apalagi kalau orientasinya 
malah bertentangan! Sebab itu, reorientasi para wakil rakyat agar pengabdiannya 
kembali on the track, menjadi tuntutan realistis di balik maraknya isu renovasi 
Gedung DPR!"

      "Sayangnya, seperti ketika merebaknya isu penaikan tunjangan para anggota 
DPR, dari kalangan mereka sendiri tampil dan bicara lantang menyesalkan langkah 
itu! Tapi, giliran penaikan tunjangan dilakukan, diam-diam mereka menerimanya 
sembari dengan berbagai dalih membuat kesan sikapnya tetap elegan!" timpal Edo. 
"Kini juga begitu! Kalangan DPR secara pribadi bicara keras renovasi itu tidak 
patut, mengesankan DPR mati rasa dari penderitaan rakyat! Tapi di balik itu, 
fraksinya diam-diam menyetujui!"

      "Itu menunjukkan, sebenarnya masih ada hati nurani di kalangan anggota 
DPR!" tegas Edi. "Kita layak menghormatinya! Tapi sayang, hati nurani 
pribadi-pribadi itu sering kalah oleh sikap fraksi!"

      "Kenyataan itu lebih pilu untuk ditangisi!" sambut Edo. "Untuk 
mengaktualisasikan hati nuraninya sendiri saja para anggota DPR itu kandas! 
Jelas, lebih sukar diharapkan untuk mengaktualisasikan hati nurani rakyat!" ***
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke