Kisah Wartawan
Mak Nyus
dan Mak Nyos

Dhimam Abror Djuraid

Kita tahu beda wartawan dengan asbak. Wartawan tukang cari berita. Asbak
tempat membuang asap rokok. Tapi, di Pasuruan ada ketua dewan bernama
Akhmad Zubaidi yang mengalami kesulitan membedakan wartawan dengan
asbak. Tangan wartawan dikiranya asbak. Maka, mak nyooss…Ia menyundut
tangan wartawan sampai melepuh.
Kalau Pak Bondan mak nyuuss…pasti dikerubuti orang karena ia memberi
rekomendasi makanan yang sedap. Tapi sekarang orang akan lari ketika
melihat Zubaidi membawa rokok, takut dijadikan asbak…mak nyooosss
Makanya betul sekali peraturan di DPR Pusat. Anggota Dewan dilarang
merokok. Rupanya, kali ini anggota dewan lumayan cerdas. Paling tidak,
dengan larangan merokok di Senayan, kasus seperti Zubaidi bisa dihindari.
Kartono Mohammad, kolumnis yang mantan ketua IDI (Ikatan Dokter
Indonesia) menulis bahwa kasus Pasuruan seharusnya dijadikan awal
gerakan nasional untuk melarang anggota dewan merokok…
Tentu saja Pak Kartono guyon. Ia, yang dokter, tentu tahu jahatnya asap
rokok bagi kesehatan. Tetapi, ia juga tahu jahatnya anggota dewan yang
tidak memahami fungsi pers yang bebas bagi demokrasi.
PKS (Partai Keadilan Sejahtera) jauh-jauh hari melarang anggota dan
wakilnya di dewan merokok. Jadi, wartawan tidak perlu takut kepada anggota
dewan dari PKS, karena pasti mereka tidak butuh asbak.
Zubaidi bukan PKS, maka bebas saja ia merokok di gedung dewan. Ia
perokok berat dalam arti yang sebenarnya, bukan perokok ‘’berat beli’’
seperti umumnya wartawan. Sebagai ketua dewan, Zubaidi pasti mendapat
banyak tunjangan, termasuk tunjangan ‘’uang rokok’’.  Nah ‘’uang rokok’’
inilah yang bisa menarik tafsir macam-macam. Kalau seorang ketua dewan
dapat jatah ‘’uang rokok’’, tentu tidak sekadar ribuan rupiah jumlahnya, tapi
bisa sampai Rp 3,2 miliar.
Wartawan pun masih banyak yang suka minta uang rokok kepada
narasumbernya.  Ini menyalahi etika. Tapi kali ini, wartawan bukan sedang
minta uang rokok kepada Zubaidi, wartawan sedang minta konfirmasi soal
uang rakyat Rp 3,2 miliar yang diselewengkan untuk mengurusi Persekabpas.
Zubaidi rupanya merasa kena nyooss wartawan karena kasus ini, dia pun
serta merta membalas nyooss..
Itulah susahnya memberantas korupsi di negeri ini. Bentuknya sangat samar
dan halus, identitasnya sulit dikenali karena namanya bermacam-macam.
Orang tidak mengaku menerima korupsi, yang ia terima hanya uang rokok.
Orang tidak mengaku menerima korupsi karena yang ia terima adalah uang
komisi.
Wartawan memang punya fungsi seperti asbak atau tong sampah. Ia
menampung hal-hal kotor dari persoalan politik, ekonomi, dan sosial. Ia
menampung segala keluhan yang terjadi di sekitarnya, kemudian
menuliskannya untuk menggugah kesadaran.
Di buku ‘’Culture Matters’’ yang diedit Samuel Huntington diungkap perilaku
korup birokrasi dan anggota dewan terhadap anggaran. Mengapa mereka
tidak suka mengalokasikan uang negara untuk pendidikan, padahal ini yang
paling bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat. Jawabnya, karena proyek
pendidikan sangat gampang dimonitor oleh masyarakat dan tidak gampang
dikorupsi.
Tentu tidak berarti  anggaran pendidikan tidak bisa dikorup. Di negeri kita
alokasi yang tidak sampai 20 persen seperti amanat undang-undang itu pun
sudah banyak digerogoti korupsi. Dana BOS disunat, gaji guru dipotong, dan
wali murid dikutip iuran ini dan itu. Tetapi, korupsi seperti itu sangat
gampangdideteksi, dan mereka di birokrasi dan lembaga legislatif yang sudah jago
menilap uang  rakyat tidak akan mau bermain risiko di anggaran pendidikan.
Makanya mereka lebih suka mengalokasikan uang untuk proyek-proyek
pembangunan seperti gedung, jalan, yang belum tentu bermanfaat untuk
rakyat. Proyek-proyek ini gampang untuk digerogoti dan sulit dideteksi.
Semakin tidak jelas anggaran, semakin gampanglah dikorupsi.
Karena itu tidak usah heran mengapa birokrasi dan dewan berebutan meng-
acc anggaran miliaran rupiah untuk sepak bola yang tidak pernah maju dan
tidak mencerdaskan rakyat. Karena anggaran ini sulit dideteksi dan tidak
perlu rumit-rumit dipertanggungjawabkan.
Anggaran seperti ini paling gampang dibuat bancakan dan rakyat cenderung
diam karena sudah dininabobokkan dengan sepakbola dagelan setiap akhir
pekan di stadion. Ini mirip dengan korupsi zaman Romawi. Rakyat dibodohi
dengan pertunjukan di kolaseum, sementara para ningrat minum anggur
sampai teler. Rakyat lupa dengan penderitaannya, elite politik terus berfoya-
foya.
Saya setuju menteri dalam negeri melarang uang rakyat dipakai untuk
membiayai sepak bola yang korup ini mulai tahun depan. Sayang Pak Ma’ruf
keburu stroke sebelum aturan ini berlaku. Mudah-mudahan dia tidak disantet
dukun bola, dan mudah-mudahan Pak Mardiyanto yang jadi penerusnya tidak
takut menerapkannya.
Kembalikan uang rakyat untuk kepentingan rakyat, dan mari kita awasi
bersama-sama kiprah birokrasi dan wakil rakyat. Itulah fungsi media.
Kalau semua bisa sama-sama memahami fungsinya, tidak akan ada lagi
insiden mak nyoosss. Yang ada adalah semuanya mulus mak nyuuss dan mak
legendeerrr….*




Kirim email ke